Perang Timur Tengah Mulai Berdampak ke Industri Pelumas

viva.co.id
3 jam lalu
Cover Berita

Jakarta, VIVA – Gejolak geopolitik di kawasan Timur Tengah mulai merembet ke berbagai sektor industri, termasuk pelumas otomotif di Indonesia. Dampaknya tidak hanya terasa di tingkat global, tetapi juga mulai memengaruhi harga dan rantai pasok di dalam negeri.

Ketegangan di kawasan tersebut mendorong kenaikan harga minyak mentah dunia yang menjadi bahan baku utama pelumas. Kondisi ini kemudian memicu efek berantai pada biaya produksi yang harus ditanggung oleh produsen.

Baca Juga :
Naik Level, Motul Masuk Jantung Balap Endurance
Servis Lebih Mudah, Pelumas Rekomendasi Kawasaki Kini Lebih Dekat

PT Motul Indonesia Energy sebagai distributor resmi pelumas Motul di Tanah Air menjadi salah satu pelaku industri yang merasakan tekanan tersebut. Perusahaan pun mengambil langkah penyesuaian harga untuk menjaga stabilitas bisnis di tengah situasi yang tidak menentu.

Managing Director PT Motul Indonesia Energy, Welmart Purba, menjelaskan bahwa dinamika global saat ini memberikan dampak langsung terhadap industri pelumas. “Kondisi tersebut memicu kenaikan harga minyak mentah dunia, meningkatnya biaya bahan baku utama produksi pelumas, serta lonjakan biaya logistik global,” ujarnya, dikutip VIVA Otomotif dari keterangan resmi, Jumat 1 Mei 2026.

Selain faktor harga minyak, tekanan juga datang dari sisi distribusi yang semakin kompleks akibat gangguan rantai pasok global. Biaya logistik yang meningkat membuat perusahaan harus menyesuaikan strategi agar operasional tetap berjalan optimal.

Tak hanya itu, fluktuasi nilai tukar rupiah turut memperbesar tekanan yang dihadapi industri. Ketergantungan pada bahan baku impor membuat perubahan kurs menjadi faktor penting dalam menentukan biaya produksi.

Welmart menegaskan bahwa keputusan penyesuaian harga bukan diambil secara sepihak, melainkan melalui berbagai pertimbangan. “Kami berkomitmen untuk terus melakukan evaluasi secara berkala terhadap perkembangan situasi global agar kebijakan harga kami senantiasa relevan, kompetitif, dan mencerminkan kondisi pasar yang sesungguhnya,” kata dia.

Langkah ini juga bertujuan untuk memastikan pasokan produk tetap terjaga di tengah kondisi yang penuh ketidakpastian. Di sisi lain, perusahaan tetap berupaya mempertahankan kualitas produk agar tidak terdampak oleh kenaikan biaya.

Bagi konsumen, kondisi ini berpotensi meningkatkan biaya perawatan kendaraan dalam jangka pendek. Namun, penyesuaian tersebut dinilai sebagai langkah untuk menjaga keberlanjutan industri agar tetap mampu memenuhi kebutuhan pasar.

Baca Juga :
Andri Pratiwa Diangkat Jadi Presiden Direktur Baru Shell Indonesia, Pastikan Hengkang dari Bisnis SPBU
Sering Ganti Oli Belum Tentu Bikin Mesin Awet
Mobil Bekas Pakai Oli Berkualitas, Apa Pengaruhnya?

Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Trump Tegaskan AS Akan Ambil Uranium Diperkaya Iran di Tengah Kebuntuan Negosiasi Nuklir
• 7 jam lalupantau.com
thumb
Roblox Hilangkan Fitur Komunikasi untuk Pengguna di Bawah 16 Tahun, Menkomdigi Apresiasi
• 16 jam lalukompas.tv
thumb
Transaksi Global Melesat, Mandiri Ekspansi QRIS ke Tiongkok
• 5 jam laluwartaekonomi.co.id
thumb
Tanda Kiamat, Gembala Kambing Berlomba Dirikan Bangunan Tinggi
• 14 jam lalurepublika.co.id
thumb
Dunia Panas! AS, Rusia, Israel Ikut Bermain—Iran Terjebak di Sudut Tanpa Jalan Keluar
• 13 jam laluerabaru.net
Berhasil disimpan.