jpnn.com - JAKARTA - Komposisi kepengurusan baru Mathla’ul Anwar akan membawa salah satu organisasi kemasyarakatan (ormas) Islam tertua itu bergerak dalam bentuk konkret, terukur dan strategis.
Konsolidasi elite kader MA menjadi penanda fase baru penguatan organisasi menuju peran lebih strategis di tingkat nasional hingga global.
BACA JUGA: Jazuli Juwaini Jabat Ketum PB Mathlaâul Anwar 2026â2031, Usung Transformasi MA Naik Level
Adapun langkah yang dilakukan itu tidak hanya simbolik, tetapi diarahkan pada transformasi konkret yang terukur dan berorientasi pada pengaruh kebijakan.
Ketua Umum Mathla’ul Anwar Jazuli Juwaini mengatakan bahwa kepengurusan baru diisi kader internal yang memiliki kapasitas struktural kuat. Komposisi kepengurusan juga diperkuat sejumlah tokoh nasional.
BACA JUGA: Dr Jazuli Juwaini: Mathlaul Anwar Rumah Besar Pengabdian Saya
“Hal ini bukan sekadar penyusunan struktur, tetapi upaya menghadirkan kepemimpinan yang mampu membuka akses dan memperkuat posisi MA di tingkat nasional dan global,” kata Jazuli dalam keterangannya, Jumat (2/5).
Jazuli menjelaskan bahwa pengalaman panjang parlemen serta jejaring internasional, menjadi modal penting dalam memperluas diplomasi organisasi.
BACA JUGA: Milad Ke-23 FSPP Banten, Jazuli Juwaini Tekankan Peran Strategis Ulama & Pesantren
Lewat posisi strategis di forum parlemen global, MA diarahkan tidak hanya sebagai organisasi berbasis massa, tetapi juga aktor yang memiliki jangkauan internasional.
Kehadiran Abdul Fikri Faqih membawa pengalaman legislatif yang memperkuat daya dorong kebijakan pendidikan. Peran tersebut diharapkan mampu meningkatkan posisi lembaga pendidikan MA dalam prioritas pembangunan nasional.
Di sektor ekonomi umat, Arif Rahman menghubungkan organisasi dengan isu pertanian, lingkungan, dan kesejahteraan masyarakat. Muhammad Mursyid memperkuat konektivitas antara pusat dan daerah melalui basis sosial-keagamaan di wilayah.
Struktur kepengurusan MA juga melibatkan tokoh kultural dan sesepuh, seperti Embay Mulya Syarif dan Syibli Sarjaya. Kehadiran mereka dinilai penting menjaga nilai, tradisi, serta arah ideologis organisasi di tengah akselerasi perubahan.
Menurut Sekretaris Jenderal MA Yanuar Arif Wibowo, kekuatan organisasi tidak hanya terletak pada elite struktural, tetapi sinergi antara kader, akademisi, dan generasi muda menjadi faktor kunci menggerakkan program-program strategis.
“Kolaborasi ini akan menjadi energi utama untuk membuka akses, memperkuat jejaring, serta meningkatkan posisi tawar MA di berbagai sektor,” kata Yanuar Arif.
Konfigurasi tersebut membuat Mathla’ul Anwar memiliki peluang besar meningkatkan peran sebagai organisasi yang tidak hanya berakar kuat di masyarakat, tetapi juga berpengaruh dalam percaturan nasional.
Oleh karena itu, transformasi tersebut diharapkan mampu menjadikan MA sebagai kekuatan yang berkontribusi dalam pembangunan bangsa, sekaligus memperluas jangkauannya ke tingkat global. (boy/jpnn)
Redaktur & Reporter : M. Kusdharmadi




