WASHINGTON, KOMPAS.TV - Iran dan Amerika Serikat (AS) kembali menemui jalan buntu pada Senin (11/5/2026) mengenai cara mengakhiri perang. Sementara itu, gencatan senjata mereka semakin goyah, dan kedua pihak saling baku tembak dalam beberapa hari terakhir.
Kapal dan negara-negara Teluk menjadi sasaran, dan pertempuran berkobar antara Israel dan kelompok militan Lebanon Hizbullah.
Pada Minggu (10/5), Presiden AS Donald Trump mengatakan bahwa tanggapan Iran terhadap proposal terbarunya sama sekali tidak dapat diterima.
Selain itu, Trump akan melakukan perjalanan ke Beijing minggu ini untuk pertemuan puncak yang dijadwal ulang dengan Presiden Tiongkok Xi Jinping.
Baca Juga: Presiden AS Donald Trump Tolak Proposal Balasan Iran, Harapan 'Damai' Pupus?
Tetapi hubungan ekonomi Beijing yang erat dengan Iran, serta ketegangan perdagangan atas ancaman tarif yang telah berlangsung sejak masa jabatan pertama Trump, dapat menghambat pertemuan tersebut, meskipun presiden Republikan itu selama bertahun-tahun telah memuji Xi dengan sangat antusias.
Sementara itu, harga minyak melonjak setelah Trump menolak proposal perdamaian terbaru Iran, tetapi saham AS tetap stabil. Harga minyak naik karena perang dengan Iran diperkirakan akan berlanjut lebih lama, tetapi pasar saham AS tetap bertahan di dekat rekor tertingginya.
Seperti dikutip dari The Associated Press, harga satu barel minyak mentah Brent naik 1,7% menjadi di atas $103 pada hari Senin setelah Presiden Trump mengecam proposal terbaru Iran untuk mengakhiri perang sebagai sesuatu yang sama sekali tidak dapat diterima.
Penolakan tersebut membuat kedua pihak tetap berada dalam keadaan yang tidak pasti, yang telah mendorong harga Brent naik dari sekitar $70 per barel sebelum perang.
Baca Juga: Iran Peringatkan Prancis dan Inggris untuk Tak Kerahkan Kapal Perang ke Selat Hormuz
Penulis : Tussie Ayu Editor : Gading-Persada
Sumber : The Associated Press
- gencatan senjata
- trump tolak proposal iran
- harga minyak
- proposal perdamaian
- ketegangan iran as





