Bisnis.com, JAKARTA — PT Rama Indonesia resmi menyelesaikan transaksi pengambilalihan saham mayoritas emiten perikanan PT Dua Putra Utama Makmur Tbk sehingga menjadi pengendali baru perseroan.
Akuisisi dilakukan melalui pembelian saham milik PT Pandawa Putra Investama sebagai bagian dari strategi memperkuat transformasi bisnis dan pengembangan usaha DPUM ke depan.
Direktur PT Rama Indonesia, Sherley Chandra Hadipurnomo, mengatakan akuisisi tersebut mencerminkan optimisme perseroan terhadap prospek jangka panjang Dua Putra Utama Makmur.
“Transaksi ini menjadi langkah strategis untuk memperkuat fundamental perseroan sekaligus membuka peluang sinergi dan transformasi bisnis yang lebih agresif, adaptif, dan berorientasi pada pertumbuhan berkelanjutan,” ujarnya dalam keterangan resmi, Senin (11/5/2026).
Manajemen menilai masuknya Rama Indonesia sebagai pengendali baru diharapkan dapat memberikan sentimen positif bagi pasar dan pemegang saham. Perseroan berkomitmen memperkuat tata kelola perusahaan, meningkatkan efektivitas operasional, serta memperluas peluang pengembangan usaha.
Menurut Sherley, perubahan pengendali tersebut menjadi awal fase baru transformasi perusahaan dalam menciptakan nilai tambah bagi seluruh pemangku kepentingan, termasuk pemegang saham publik.
Baca Juga
- PT Rama Indonesia Bakal Akuisisi Saham Dua Putra Utama Makmur (DPUM)
- Raharja Energi Cepu (RATU) Akuisisi Blok Kasuri dari Genting Oil US$9,64 Juta
- Win&Co Group (COCO) Akuisisi Momogi, Perluas Ekspansi Pasar
Sebagai tindak lanjut atas transaksi tersebut, Rama Indonesia juga akan melaksanakan Penawaran Tender Wajib atau Mandatory Tender Offer (MTO) kepada pemegang saham publik sesuai ketentuan Peraturan Otoritas Jasa Keuangan (POJK) No. 9/POJK.04/2018 tentang Pengambilalihan Perusahaan Terbuka.
Perseroan optimistis sinergi pasca-akuisisi dapat membuka peluang pengembangan bisnis yang lebih luas, meningkatkan daya saing perusahaan, serta memperkuat posisi DPUM untuk mencatatkan pertumbuhan berkelanjutan.
Di sisi kinerja, DPUM membukukan pendapatan sebesar Rp1,25 triliun sepanjang 2025. Perseroan juga berhasil menekan rugi bersih menjadi Rp26 miliar dibandingkan dengan rugi bersih tahun sebelumnya sebesar Rp37 miliar.
Kendati demikian, DPUM masih menghadapi tantangan berupa fluktuasi harga bahan baku dan dinamika pasar yang memengaruhi perencanaan operasional serta kinerja keuangan.





