Perjalanan Penuh Risiko Pelajar di Padang Pariaman, Seberangi Batang Anai dengan Rakit

kompas.id
23 jam lalu
Cover Berita

Nadya Ramadhani (15) menggenggam erat besi pegangan rakit. Pagi itu ia menyeberang Sungai atau Batang Anai bersama ayah dan enam penumpang rakit lainnya. Selain penumpang, rakit itu juga mengangkut tiga sepeda motor, termasuk milik ayah Nadya.

Rakit papan berpelampung drum besi itu ditarik pelan tiga petugas ke seberang. Dua petugas lainnya menopang keseimbangan rakit dari dalam sungai yang berarus deras itu. Perlahan tapi pasti, rakit dan penumpang sampai ke seberang dengan selamat.

”Sehari-hari naik rakit ini ke sekolah. Sampai sekarang saya masih gamang. Takut jatuh,” kata Nadya, siswa Kelas X SMK Nasional Kayu Tanam, Kecamatan 2 X 11 Kayu Tanam, Kabupaten Padang Pariaman, Sumatera Barat, di sela-sela menyeberang, Senin (11/5/2026) pagi.

Sudah hampir enam bulan Nadya dan ratusan pelajar lainnya di Nagari Anduriang, Kecamatan 2 X 11 Kayu Tanam, menyeberang naik rakit berangkat ke sekolah. Penyebabnya, Jembatan Anduriang sebagai penghubung dengan Nagari Kayu Tanam—pusat kecamatan—putus akibat banjir bandang pada 27 November 2025. 

Hingga pertengahan Mei 2026, belum ada jembatan bailey atau jembatan darurat lainnya sebagai akses keluar masuk Nagari Anduriang. Sementara akses lain lewat Jembatan Padang Lapai di Nagari Guguak, nagari tetangga, dinilai terlalu jauh hingga lebih dari tiga kali lipat.

Maka, dua rakit berukuran sekitar 2 meter x 4 meter yang dibuat pemuda nagari jadi pilihan penuh risiko masyarakat Nagari Anduriang, termasuk pelajar, untuk menyeberangi Batang Anai. Sebagai imbal jasa, penumpang memberikan sumbangan sukarela.

Menyeberang dengan rakit di pagi hari bukan perkara mudah bagi pelajar Nagari Anduriang. Sebab, pada jam sibuk itu, mereka mesti antre bersama ratusan penyeberang lain yang berangkat kerja, termasuk guru, petugas kesehatan, pekerja kantoran lainnya, dan pedagang.

Baca JugaKisah Jembatan Rp 25 Miliar di Padang Pariaman yang Hanya Bertahan Dua Tahun

Senin pukul 07.30 WIB, misalnya, tepian Batang Anai di Nagari Anduriang masih penuh dengan antrean penyeberang. Padahal, para petugas rakit mulai beroperasi sejak pukul 05.00. Sebagian pelajar pun tak dapat hadir di sekolah tepat waktu.

”Antreannya banyak, apalagi kalau hanya satu rakit yang beroperasi. Saya antre sejak pukul 06.30, tetapi baru sampai ke seberang pukul 07.14. Jam masuk sekolah 07.15,” kata Fairza Nur Nasywa (15), siswa kelas IX MTsN 1 Padang Pariaman asal Nagari Anduriang.

Dian Mailisa (32), warga Nagari Anduriang, juga menyeberangkan putrinya yang berusia 6 tahun dengan rakit untuk berangkat ke TK IT Hazima di Nagari Kayu Tanam. Di seberang, putrinya dijemput tukang ojek untuk diantar ke TK.

Menurut Dian, menyeberang dengan rakit adalah cara paling hemat untuk ke seberang. Apalagi di tengah situasi ekonomi sulit. Memutar ke Jembatan Padang Lapai dapat memperpanjang jarak tempuhnya menjadi 10-11 kilometer, sedangkan dengan jalur biasa ditambah rakit cuma 2-3 kilometer. ”Kami memutar ke Padang Lapai jika debit air sungai besar,” katanya. 

Perjalanan berisiko

Jembatan Anduriang ambruk pada 27 November 2025 dini hari, hampir bersamaan dengan berbagai bencana ekologis yang terjadi di Pulau Sumatera. Jembatan sepanjang sekitar 70 meter itu putus akibat banjir bandang di Batang Anai yang berhulu di Gunung Marapi, Gunung Singgalang, dan Gunung Tandikat.

Jembatan itu merupakan bagian dari jalan Kabupaten Padang Pariaman. Lokasinya sekitar 1 kilometer dari Pasar Kayu Tanam dan Jalan Nasional Padang-Bukittinggi. Adapun dari pusat Kota Padang, jaraknya sekitar 55 kilometer.

Puing-puing Jembatan Anduriang kini sebagian masih berdiri. Namun, aliran Batang Anai di bawahnya sudah beralih ke arah Nagari Anduriang dengan menggerus daratan berkisar 20-30 meter. Aliran baru itulah yang sejak Januari 2026 dilintasi dua rakit setiap hari dengan ribuan penumpang dari subuh hingga tengah malam.

Menyeberangi aliran sungai selebar 20-30 meter itu memakai rakit penuh dengan risiko. Dalam kondisi normal saja, arus Batang Anai di Nagari Anduriang sangat deras, apalagi saat hujan di hulu. Penumpang harus dapat menjaga keseimbangan di atas rakit agar tidak oleng. 

Baca JugaTambang Ilegal yang Menggerogoti Batang Anai (1)

Risiko perjalanan dengan rakit ini diakui oleh Rudi Kalces (41), salah seorang penarik rakit di Nagari Anduriang. Ia menyebut, setidaknya tiga kali terjadi penumpang sepeda motor jatuh ke sungai. Korban lupa menarik rem saat rakit tiba di dermaga sehingga mundur dan masuk ke sungai.

Perjalanan rakit kian berisiko jika cuaca hujan. Rudi menyebut, saat debit sungai besar, mereka menghentikan operasionalisasi rakit. Masyarakat mau tidak mau menunggu situasi kondusif atau mengambil jalan memutar ke nagari tetangga yang bisa mencapai 10 kilometer. 

Akan tetapi, kata Rudi, ada juga masyarakat yang nekat. Pada Minggu (3/5/2026) sore, misalnya, seorang pria lansia hanyut setelah nekat menyeberang dengan bergelantungan pada tali kawat sling rakit. Mujurnya korban dapat diselamatkan pemuda. 

”Keberadaan jembatan ini sangat penting bagi masyarakat. Maka, kami berharap Jembatan Anduriang segera dibangun kembali,” kata Rudi yang menarik rakit di sela-sela waktu senggangnya sebagai petani. 

Penjabat Wali Nagari Anduriang Henyunis mengatakan, meski memudahkan masyarakat, penyeberangan dengan rakit itu memang berisiko. Risiko tidak hanya mengintai masyarakat yang menyeberang, tetapi juga petugas yang menarik dan mengawal rakit.

”Risikonya cukup tinggi, kalau tidak hati-hati, kalau tidak terpantau debit air, bisa terjadi banjir bandang secara mendadak saat hujan di hulu,” katanya.

Pembangunan jembatan

Henyunis melanjutkan, keberadaan Jembatan Anduriang sangat penting bagi masyarakat. Sekitar 5.000 warga nagari sangat bergantung pada jembatan tersebut untuk menopang mobilitas. Oleh sebab itu, ia berharap pemerintah pusat segera membangun jembatan permanen.

”Masyarakat sebanyak ini pasarnya di Kayu Tanam. Begitu pula sekolahnya, terutama SLTP dan SLTA, juga di Kayu Tanam. Maka, putusnya jembatan sangat berdampak negatif terhadap masyarakat,” kata Henyunis yang juga menyeberang ke kantor Wali Nagari Anduriang dengan rakit.

Baca JugaDampak Tambang Ilegal Hantui Warga di Sekitar Batang Anai (2)

Henyunis menyebut, masyarakat bersama organisasi kemasyarakatan setempat dan TNI Angkatan Laut sempat berupaya membangun jembatan darurat dari pohon kelapa dan tiang batu bronjong. Namun, jembatan itu ambruk akibat dihantam derasnya debit Batang Anai saat turun hujan.

Saat insiden lansia hanyut 3 Mei 2026, kata Henyunis, rencana pembangunan jembatan darurat kembali diapungkan oleh bupati. Dinas pekerjaan umum setempat pun sudah memulai persiapan.

Walakin, masyarakat tidak setuju jika tidak didahului dengan normalisasi sungai. Keberadaan fondasi jembatan darurat berpotensi membelokkan air ke arah kampung. ”Masyarakat khawatir kampungnya semakin hanyut. Makanya mereka minta dipindahkan aliran air ke tengah terlebih dahulu,” ujar Henyunis.

Menurut Henyunis, lokasi jembatan putus ini sebelumnya sudah dikunjungi Kementerian Pekerjaan Umum (PU) dan sejumlah anggota DPR RI, tetapi ia belum mendapat kepastian kapan jembatan permanen yang panjangnya mencapai 140-150 meter itu akan dibangun. Selain itu, ada pula instansi yang berjanji akan membangun jembatan bailey awal April, tetapi belum terealisasi. 

Pada 9 Mei 2026, kata Henyunis, anggota DPR, Andre Rosiade, juga berkunjung dan berjanji jembatan permanen akan dibangun pada akhir tahun. ”Kami berharap sebelum ada jembatan permanen, ada jembatan bailey untuk akses darurat masyarakat,” katanya.

Menunggu pusat

Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Padang Pariaman Emri Nurman mengatakan, pemerintah kabupaten sudah mengusulkan pembangunan Jembatan Anduriang ke pemerintah pusat melalui Kementerian PU. Usulan itu bersamaan dengan perbaikan fasilitas umum lainnya yang termuat dalam dokumen Rencana Rehabilitasi dan Rekonstruksi Pascabencana (R3P).

”Untuk pelaksanaannya, kami menunggu dari pemerintah pusat. Semoga dalam waktu dekat dapat direalisasikan,” kata Emri. 

Soal permintaan normalisasi sungai yang diajukan warga, Emri menyebut, pemerintah kabupaten sudah berkoordinasi dengan Balai Wilayah Sungai (BWS) Sumatera V Padang sebagai instansi berwenang.

Menurut Emri, banjir bandang yang melanda Padang Pariaman pada akhir November 2025 menyebabkan 54 jembatan rusak, dari kategori ringan, sedang, hingga berat. Sebagian jembatan sudah terhubung secara darurat dengan jembatan bailey atau jembatan armco.

”Namun, untuk jembatan rusak berat yang butuh biaya besar, kami memang sifatnya menunggu penganggaran, yang sudah menjadi tanggungan pemerintah pusat,” ujarnya.

Wakil Ketua Komisi VI DPR Andre Rosiade dalam kunjungannya ke puing-puing Jembatan Anduriang mengatakan, rencana pembangunan jembatan baru sedang dalam tahap penyusunan desain teknik rinci (detail engineering design/DED) oleh Balai Pelaksanaan Jalan Nasional (BPJN) Sumbar. Panjang jembatan baru 2 meter x 70 meter atau 140 meter. 

”Kami targetkan Agustus ini DED-nya selesai. Kami mendorong akhir 2026 jembatan ini bisa dibangun kembali,” kata Andre, dalam keterangannya, Sabtu (9/5/2026).

Keberadaan Jembatan Anduriang yang baru tentunya jadi harapan Nadya dan ratusan pelajar lainnya asal Nagari Anduriang. ”Supaya kami bisa berangkat ke sekolah dengan aman dan tidak terlambat lagi,” kata siswa Kelas X SMK Nasional Kayu Tanam itu.  


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Pemerintah Kaji Bangun Double-Double-Track Imbas Kecelakaan KA Bekasi
• 8 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Perempuan Aktivis Terancam di Ruang Daring
• 1 jam lalukompas.id
thumb
Josepha Alexsandra Siswi Protes Juri LCC Empat Pilar MPR RI 2026 Kalbar Dapat Tawaran Beasiswa S1 di China
• 4 jam laluwartaekonomi.co.id
thumb
Ekspektasi Tumbuh Bersama Pendengar, Aruma Ungkap Momen Berkesan Sama Raim Laode
• 14 jam lalukumparan.com
thumb
Rupiah Jebol ke Rp17.510, DPR Langsung Panggil BI dan Purbaya Wanti-wanti Dampak ke Ekonomi
• 8 menit laluwartaekonomi.co.id
Berhasil disimpan.