IHSG Buntuti Pegerakan Wall Street, Begini Proyeksinya?

medcom.id
20 jam lalu
Cover Berita
Jakarta: Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) hari ini menjadi angin segar bagi investor pasar modal.
 
Setelah sempat tertekan pada pada perdagangan kemarin, pasar saham Indonesia mulai menunjukkan sinyal penguatan di tengah sentimen global dan domestik yang masih dinamis.
 
Melansir Antara, Selasa, 12 Mei 2026, IHSG dibuka menguat 41,23 poin atau 0,60 persen ke posisi 6.946,85. Sementara indeks saham unggulan LQ45 turut naik 1,43 poin atau 0,21 persen ke level 670,06.

Penguatan ini terjadi setelah mayoritas indeks di Wall Street ditutup di zona hijau pada perdagangan sebelumnya. Wall Street menguat jadi sentimen positif Pasar saham Amerika Serikat ditutup menguat dan memberi dorongan positif bagi pasar Asia, termasuk Indonesia.
 
Pada perdagangan kemarin indeks di bursa Wall Street ditutup menguat. Dow Jones Industrial Average ditutup menguat 0,19 persen ke level 49.704,47. Sementara itu, S&P 500 menguat 0,19 persen ke 7.412,84, dan Nasdaq Composite menguat 0,10 persen menjadi 26.274,12.
  Baca juga: Pembukaan Perdagangan, IHSG Terjun Bebas ke 6857 IHSG masih dibayangi tekanan asing Meski dibuka menguat, IHSG sebelumnya ditutup melemah 0,92 persen ke level 6.905,6 pada perdagangan Senin, 11 Mei 2026.
 
Tekanan jual asing yang masih dominan melalui net foreign sell sebesar Rp659 miliar di pasar reguler. 
 
Tim riset BRI Danareksa Sekuritas menjelaskan, sentimen pasar sempat membaik setelah penundaan rencana kenaikan tarif royalti tambang, namun kembali tertekan setelah pemerintah memastikan penyesuaian royalti tetap berlaku mulai Juni 2026.
 
"Dari eksternal, mayoritas bursa Asia melemah seiring kenaikan harga minyak mentah setelah Presiden AS Donald Trump menolak proposal damai Iran," jelasnya.
 
Selain itu, pelemahan rupiah di atas Rp17.400 per USD juga turut menambah tekanan terhadap pasar domestik.
 
Secara teknikal, IHSG masih menguji area support penting di kisaran 6.850-6.960. 
 
"Selama level tersebut bertahan, peluang rebound masih terbuka, namun jika ditembus maka risiko pelemahan lanjutan akan meningkat," tuturnya.
 
Pasar juga menantikan data retail sales Indonesia, inflasi AS, serta rebalancing MSCI pada 12 Mei 2026. 

 
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(ANN)

Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Rupiah Melemah Tajam, Kemenkeu Intervensi Pasar Obligasi demi Tahan Dana Asing
• 11 jam lalueranasional.com
thumb
Peta Maskapai Asia: Satu Langit, Beda Nasib
• 12 jam lalucnbcindonesia.com
thumb
Di Rapur, DPR Sampaikan Duka atas Kecelakaan KRL Bekasi Timur hingga Bus ALS di Sumsel
• 16 jam lalukompas.com
thumb
Masih Dibutuhkan atau Diputus Kontrak? Begini Nasib PPPK Paruh Waktu Tahun Depan
• 8 jam laluharianfajar
thumb
Cara Sederhana Menurunkan Kadar Gula Darah
• 19 jam lalutabloidbintang.com
Berhasil disimpan.