Liputan6.com, Jakarta - Disrupsi teknologi dan derasnya arus informasi dinilai telah melampaui fungsi komunikasi maupun hiburan. Perkembangan media digital kini disebut turut memengaruhi kondisi psikologis generasi muda dan berpotensi menjadi ancaman serius bagi kualitas sumber daya manusia di masa depan.
Atas dasar itu, Komisi Penyiaran Indonesia Daerah (KPID) Jawa Barat berkolaborasi dengan RRI Bandung menggelar Global Public Forum bertajuk Broadcasting dalam Perspektif Psikologi. Kegiatan tersebut melibatkan Universitas Sabah Malaysia (UMS), ISKI Pusat, serta sejumlah pihak lain untuk membahas kondisi penyiaran dan dampaknya terhadap masyarakat.
Advertisement
Ketua KPID Jawa Barat, Adiyana Slamet, menilai perubahan lanskap media saat ini tidak lagi sekadar menjadi ruang distribusi informasi. Media digital telah berkembang menjadi ruang yang membentuk pola pikir, emosi, hingga perilaku sosial generasi muda.
“Disrupsi teknologi dan informasi ini sudah sangat membahayakan, baik terhadap keselamatan warga negara dari perspektif psikologi maupun terhadap industri penyiaran seperti televisi dan radio,” kata Adiyana di Gedung Lokantara Budaya RRI Bandung, Senin, 11 Mei 2026.
Adiyana menegaskan, generasi muda sangat rentan kehilangan karakter akibat dominasi algoritma dan fenomena fear of missing out (FOMO). Kondisi tersebut dinilai dapat mengubah pola pikir dan perilaku sosial secara signifikan.
“Ketika proses berpikir manusia rusak, terutama Gen Z dan Gen Alpha, maka emosi, cara pandang, dan perilakunya juga akan ikut rusak,” jelasnya.
Menurut dia, negara harus hadir melalui regulasi yang kuat untuk melindungi generasi muda dari dampak negatif disrupsi digital. Persoalan tersebut dinilai tidak bisa diserahkan sepenuhnya pada mekanisme pengaturan mandiri.
“Disrupsi ini tidak bisa diserahkan pada self-regulation, negara harus hadir dengan hard regulation,” tegas Adiyana.
Dalam kesempatan itu, KPID Jabar juga memaparkan hasil penelitian bertajuk Gen Z Media Habits: Navigating the Digital Era. Riset tersebut melibatkan 601 responden berusia 15 hingga 24 tahun di enam klaster wilayah Jawa Barat menggunakan pendekatan kuantitatif deskriptif dengan cluster sampling proporsional, tingkat kepercayaan 95 persen, dan margin of error lima persen.
Hasil penelitian menunjukkan kepemilikan smartphone di kalangan responden mencapai 97-98 persen, sementara penggunaan media sosial menyentuh angka 99,83 persen. Sebanyak 51,74 persen responden mengaku lebih banyak mengonsumsi konten hiburan seperti film, musik, komedi, kuliner, dan fashion sebagai bentuk escapism.



