Pelemahan ini memicu kekhawatiran karena berpotensi berdampak langsung terhadap harga barang hingga biaya hidup masyarakat.
Tekanan terhadap rupiah kali ini dipengaruhi memanasnya konflik di Timur Tengah yang meningkatkan ketidakpastian ekonomi global.
Kondisi tersebut membuat investor cenderung memburu dolar AS sebagai aset aman, sehingga mata uang negara berkembang, termasuk rupiah, ikut tertekan.
Baca juga: Rupiah Semakin Mepet ke Rp17.500 per Dolar AS, Sentimen Global Jadi Tekanan Perfect storm hantam rupiah Tidak hanya faktor global, kondisi domestik juga dinilai memperbesar tekanan terhadap nilai tukar rupiah.
Mengutip artikel dari laman ugm.ac.id, Akademisi Fakultas Ekonomika dan Bisnis (FEB) UGM, Rijadh Djatu Winardi, S.E., M.Sc., Ph.D., menilai pelemahan rupiah saat ini merupakan hasil dari akumulasi berbagai tekanan yang terjadi secara bersamaan, atau kerap disebut dengan “perfect storm.”
Dari sisi global, ia menjelaskan bahwa ketegangan geopolitik dan ketidakpastian ekonomi dunia mendorong lonjakan permintaan terhadap dolar AS, sehingga investor cenderung menjadikannya sebagai aset aman utama.
Sementara itu, dari sisi ekonomi domestik, ia menyebut adanya faktor musiman dan struktural yang turut memperbesar tekanan nilai rupiah, seperti periode pembayaran dividen kepada investor asing yang secara rutin meningkatkan kebutuhan valuta asing.
Selain itu, meningkatnya kekhawatiran pasar terhadap ruang fiskal yang semakin terbatas atau defisit yang mendekati batas turut mendorong naiknya persepsi risiko terhadap perekonomian domestik.
“Kombinasi dari sisi global dan sisi domestik inilah yang menurut saya membuat pelemahan rupiah terasa lebih tajam,” jelasnya dikutip pada Selasa, 12 Mei 2026. Apa dampak pelemahan rupiah? Mekanisme pelemahan nilai tukar rupiah dinilai memiliki dampak yang relatif langsung terhadap harga barang yang dikonsumsi masyarakat.
Rijadh menjelaskan bahwa dalam kajian ekonomi, fenomena tersebut dikenal sebagai inflasi impor, di mana pelemahan rupiah menyebabkan kenaikan biaya barang impor dalam denominasi rupiah.
Menurutnya, perusahaan yang bergantung pada bahan baku impor akan menghadapi peningkatan biaya produksi. Meski masih memiliki stok lama, penyesuaian harga pada akhirnya sulit dihindari dan umumnya mulai diteruskan kepada konsumen dalam rentang waktu satu hingga beberapa bulan setelahnya.
“Masyarakat akan mulai merasakan dampaknya dalam bentuk harga kebutuhan pokok yang meningkat, biaya transportasi yang naik, hingga harga produk kesehatan yang ikut terdampak,” ujarnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(ANN)





