Membendung “Tiga Produk Baru” Tiongkok, Eropa dan AS Larang Inverter serta Mobil Tiongkok

erabaru.net
11 jam lalu
Cover Berita

Uni Eropa baru-baru ini melarang seluruh program yang didanai publik Uni Eropa menggunakan inverter dari “negara berisiko tinggi” seperti Tiongkok. Di saat yang sama, anggota parlemen Amerika Serikat juga sedang menyiapkan rancangan undang-undang untuk mencegah mobil listrik Tiongkok membanjiri pasar AS. Hal ini menunjukkan bahwa ekonomi-ekonomi utama dunia semakin memperkuat langkah pertahanan terhadap apa yang disebut “tiga produk baru” Tiongkok, yaitu kendaraan listrik, baterai lithium, dan tenaga surya.

EtIndonesia. Pejabat Uni Eropa pada 4 Mei 2026 mengumumkan larangan penggunaan inverter dari negara “berisiko tinggi” seperti Tiongkok dalam seluruh program yang didanai publik Uni Eropa.

Inverter adalah pusat pengelolaan dan pengoperasian dalam sistem tenaga surya, yang berfungsi mengubah arus searah (DC) dari panel surya menjadi arus bolak-balik (AC) untuk kebutuhan rumah tangga. Saat ini, inverter produksi perusahaan Tiongkok seperti Huawei dan Sungrow diperkirakan telah menguasai hampir 80% pasar Eropa. Hal ini dinilai berpotensi mengancam stabilitas jaringan listrik Eropa.

“Karena tenaga surya dan tenaga angin dari Tiongkok relatif murah, negara-negara Eropa menjadi sangat bergantung padanya, dan tentu saja ini membuat mereka rentan dikendalikan Tiongkok. Industri terkait di dalam negeri sendiri juga menjadi sulit berkembang. Jika suatu hari Eropa dan Tiongkok mengalami konflik, perdagangan dan ekonomi bisa dijadikan senjata sanksi. Selain itu ada pertimbangan keamanan siber. Perangkat ini menerima dan memproses banyak data, dan kita tidak tahu ke mana data itu akhirnya akan dikirim,” ujar peneliti Institut Penelitian Pertahanan dan Keamanan Nasional Taiwan, Shen Mingshi. 

Sebelumnya pada April, pejabat Uni Eropa menyatakan bahwa setelah mengevaluasi bukti rahasia dan non-rahasia dari sejumlah negara anggota, ditemukan bahwa dalam skenario terburuk, beberapa negara dapat merusak infrastruktur energi Eropa bahkan memicu pemadaman listrik besar-besaran. Yang dimaksud adalah Tiongkok, Iran, Korea Utara, dan Rusia. Karena itu Uni Eropa memutuskan secara bertahap menghentikan penggunaan inverter buatan Tiongkok dalam proyek energi yang didanai Uni Eropa.

“Banyak negara Eropa khawatir Tiongkok bisa melakukan kendali jarak jauh untuk mengganggu inverter tersebut, bahkan mematikan sistem listrik dari jauh atau memantau data pembangkitan listrik. Pada saat diperlukan, mereka mungkin dapat menciptakan pemadaman listrik massal, gangguan jaringan, atau kekacauan sistem. Karena itu stabilitas sistem listrik dan jaringan energi bisa dijadikan alat tekanan,” ujar asisten peneliti Institut Penelitian Pertahanan dan Keamanan Nasional Taiwan, Yang Yikui. 

Kementerian Perdagangan PKT pada 7 Mei menanggapi bahwa Uni Eropa untuk pertama kalinya menetapkan Tiongkok sebagai “negara berisiko tinggi”, dan menyebutnya sebagai tindakan stigmatisasi. Pihak Tiongkok menyatakan menolak dan menentangnya dengan tegas.

Namun bukan hanya Eropa yang meragukan keamanan perangkat produksi Tiongkok, Amerika Serikat juga memiliki kekhawatiran serupa.

Mantan Presiden Joe Biden pernah menggambarkan mobil terhubung internet buatan Tiongkok sebagai “smartphone beroda” yang dapat mengumpulkan lokasi geografis dan data biometrik pengemudi, bahkan mungkin dapat dikendalikan dari jarak jauh oleh Beijing. Karena itu pada Mei 2024, ia menaikkan tarif “Pasal 301” terhadap mobil listrik Tiongkok dari 25% menjadi 100%.

Setelah itu, Departemen Perdagangan AS juga melarang kendaraan terhubung internet yang beroperasi di jalan raya Amerika menggunakan perangkat lunak dan perangkat keras penting dari Tiongkok atau Rusia.

Pemerintahan Donald Trump tidak hanya mempertahankan tarif tersebut, tetapi juga menambahkan tarif dasar global sebesar 10%. 

Pada akhir April lalu, Senat AS memperkenalkan “Undang-Undang Keamanan Kendaraan Terhubung 2026”, dan DPR AS juga akan mengajukan RUU pada akhir bulan untuk melarang kendaraan Tiongkok membanjiri pasar Amerika.

“Saya pikir ini bukan peristiwa tunggal. Amerika Serikat dan Eropa kini mulai memikirkan bahwa ketergantungan terhadap produk Tiongkok, seperti logam tanah jarang, justru bisa menjadi alat untuk menekan mereka. Karena itu AS dan negara-negara Eropa berusaha mencari cara untuk menghindari ketergantungan tersebut, sekaligus mencegah informasi internal yang tampaknya biasa saja dikirim ke Tiongkok dan kemudian dimanfaatkan dengan cara yang tidak diketahui, yang pada akhirnya dapat menjadi ancaman bagi Eropa atau Amerika,” ujar Shen Mingshi. 

Selain Uni Eropa dan Amerika Serikat, negara-negara seperti Brasil, Turki, dan India juga mulai memberlakukan tarif atau langkah anti-dumping terhadap kendaraan listrik dan produk tenaga surya Tiongkok. Kecuali beberapa negara yang telah mencapai kesepakatan dengan PKT, ekonomi-ekonomi utama dunia kini semakin memperkuat langkah pertahanan terhadap apa yang disebut “tiga produk baru” Tiongkok: kendaraan listrik, baterai lithium, dan tenaga surya.

Sumber : NTDTV.com


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Gaji PPPK Paruh Waktu Rp2–5,6 Juta, Bupati Izinkan Ambil Pekerjaan Tambahan
• 13 jam laluwartaekonomi.co.id
thumb
Korban Pencabulan di Ponpes Pati Kemungkinan Bertambah
• 8 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Pemprov DKI Dalami Dugaan Parkir Ilegal di Blok M Square, Bakal Periksa Izin hingga Pajak
• 14 jam lalukompas.com
thumb
Profil Kalis Mardiasih, Aktivis yang Vokal Suarakan Hak-Hak Perempuan
• 10 jam lalubeautynesia.id
thumb
Aktivitas Meningkat, Status Gunung Lewotobi Laki-laki Naik ke Level III
• 12 jam laluokezone.com
Berhasil disimpan.