Bisnis.com, JAKARTA – Nilai tukar rupiah terus tertekan hingga menyentuh level psikologis Rp17.500 per dolar AS. Di sisi lain, dolar AS tengah mendapat momentum penguatan seiring dengan eskalasi perang AS-Iran yang terus berkembang.
Melansir Trading Economics pada pukul 11.43 WIB, rupiah melemah 0,46% atau 79,4 poin ke Rp17.500,4 per dolar AS. Level rupiah tersebut mencerminkan depresiasi 2,18% secara bulanan, atau 5,39% secara tahunan.
Trading Economics memperkirakan rupiah akan berada di level Rp17.388 per dolar AS pada akhir kuartal kedua 2026, namun bisa turun lebih dalam di penghujung tahun. Secara historis, level terendah rupiah dalam sejarah berada di posisi Rp17.519 pada Mei 2026.
"Rupiah Indonesia diperkirakan akan melemah hingga pertengahan 2026, dengan perkiraan menunjukkan di kisaran Rp17.300 sampai lebih dari Rp17.500 per dolar AS pada akhir 2026," tulis laporan Trading Economics, Selasa (12/5/2026).
Laporan tersebut menjabarkan bahwa rupiah terus tertekan seiring dengan indeks dolar AS yang menguat. Penguatan greenback didorong oleh konflik AS-Iran yang berkepanjangan dan menyulut harga minyak global melambung.
Saat ini, terdapat keraguan pasar akan kemampuan Bank Indonesia untuk menjaga stabilitas rupiah meskipun ada langkah-langkah untuk memperketat aturan valuta asing, meningkatkan likuiditas, dan meningkatkan koordinasi makroprudensial. Di sisi lain, cadangan devisa pada April 2026 tercatat turun ke level terendah dalam hampir dua tahun terakhir.
"Ini menggarisbawahi penyangga eksternal yang rapuh. Sentimen domestik juga menambah tekanan, dengan sentimen konsumen yang tetap berada di dekat level terendah dalam 5 bulan terakhir di tengah kekhawatiran tentang lapangan kerja dan pendapatan," tulis laporan tersebut.
Sementara itu, Direktur PT Traze Andalan Futures Ibrahim Assuaibi memperkirakan rupiah hari ini akan melanjutkan pelemahan ke level Rp17.410 sampai Rp17.460 per dolar AS. Sebelumnya, pada perdagangan Senin (11/5/2026), rupiah ditutup melemah 32 poin ke Rp17.414 dolar AS. Sedangkan indeks dolar AS menguat 0,09% ke 97,98.
Ibrahim menjelaskan bahwa penguatan dolar AS dipicu ketegangan konflik AS-Iran yang terus berkembang. Terbaru, Presiden AS Donald Trump menolak proposal perdamaian terbaru dari Iran. Sikap Trump tersebut langsung meredam harapan pasar akan deeskalasi di kawasan Teluk.
"Komentar tersebut meningkatkan risiko geopolitik. Fokus pasar tetap tertuju pada Selat Hormuz yang sebagian besar masih tertutup sejak konflik dimulai," kata Ibrahim.





