744 Prajurit TNI Siap Berangkat ke Lebanon, Menko Polkam Tekankan Disiplin dan Profesionalisme

eranasional.com
14 jam lalu
Cover Berita

Jakarta, ERANASIONAL.COM –  Menteri Koordinator Bidang Politik dan Keamanan (Menko Polkam) Djamari Chaniago menegaskan pentingnya menjaga disiplin dan profesionalisme bagi prajurit Satuan Tugas Kontingen Garuda UNIFIL (United Nations Interim Force in Lebanon) yang akan menjalankan misi perdamaian Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) di Lebanon. Menurutnya, keberhasilan tugas para personel TNI tidak hanya berkaitan dengan keamanan dan stabilitas kawasan konflik, tetapi juga menyangkut citra dan kehormatan Indonesia di mata internasional.

Pesan tersebut disampaikan Djamari saat memimpin Rapat Koordinasi Misi Pemeliharaan Perdamaian di Pusat Misi Pemeliharaan Perdamaian (PMPP) TNI di Sentul, Bogor, Jawa Barat, Senin, 11 Mei 2026. Dalam kesempatan itu, ia memberikan arahan langsung kepada ratusan prajurit yang akan diberangkatkan pada akhir Mei 2026 sebagai bagian dari rotasi pasukan perdamaian Indonesia di bawah mandat PBB.

Sebanyak 744 personel Satgas Kontingen Garuda dijadwalkan bertugas di Lebanon untuk mendukung stabilitas keamanan di wilayah yang masih rawan konflik tersebut. Djamari mengingatkan bahwa setiap tindakan dan perilaku prajurit akan menjadi sorotan dunia internasional karena mereka membawa identitas bangsa selama bertugas di luar negeri.

“Jangan pernah lengah selama menjalankan tugas. Ketidakdisiplinan bukan hanya berdampak pada keselamatan pribadi dan satuan, tetapi juga dapat memengaruhi nama baik Indonesia di forum internasional. Tanggung jawab itu berada di pundak kalian,” ujar Djamari dalam keterangannya, Selasa, 12 Mei 2026.

Ia menilai kesiapan mental, kemampuan teknis, serta kualitas latihan menjadi faktor utama yang menentukan keberhasilan penugasan di wilayah konflik. Oleh karena itu, pemerintah bersama TNI terus memperkuat sistem pelatihan bagi prajurit yang akan diberangkatkan dalam misi perdamaian dunia.

Menurut Djamari, latihan intensif yang dijalani para personel bukan sekadar rutinitas militer, melainkan bentuk investasi negara untuk memastikan keselamatan dan kesiapan prajurit di lapangan. Ia menyebut latihan keras sebagai bagian dari upaya negara memberikan perlindungan terbaik kepada personel yang bertugas di area berisiko tinggi.

“Latihan yang keras merupakan bentuk perhatian negara kepada para prajurit. Dengan kesiapan fisik, mental, dan disiplin yang baik, para personel akan mampu menjalankan tugas secara profesional serta menghadapi berbagai tantangan di daerah operasi,” katanya.

Djamari juga menyoroti rekam jejak Indonesia yang cukup panjang dalam misi pemeliharaan perdamaian PBB. Indonesia selama puluhan tahun dikenal aktif mengirimkan pasukan perdamaian ke berbagai negara konflik, mulai dari Timur Tengah, Afrika, hingga kawasan Asia lainnya. Keterlibatan tersebut dinilai menjadi bagian penting dari politik luar negeri Indonesia yang mengedepankan perdamaian dunia dan stabilitas internasional.

Sebagai Pengarah Tim Koordinasi Misi Pemeliharaan Perdamaian, Djamari mengaku memiliki kedekatan emosional dengan tugas-tugas perdamaian internasional. Ia bahkan menyinggung pengalamannya saat tergabung dalam misi United Nations Emergency Force II di Sinai pada era 1970-an. Pengalaman itu, menurutnya, memberikan gambaran nyata mengenai beratnya tugas pasukan perdamaian di lapangan.

Ia menambahkan bahwa pemerintah di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto memberikan perhatian serius terhadap penguatan kapasitas pasukan perdamaian Indonesia. Fokus tersebut tidak hanya pada peningkatan kualitas pelatihan, tetapi juga memperbesar peluang perwira TNI menduduki posisi strategis dalam struktur misi PBB.

Pemerintah, kata Djamari, ingin kontribusi Indonesia dalam operasi perdamaian dunia semakin diperhitungkan. Hal itu dinilai sejalan dengan upaya memperkuat posisi diplomasi Indonesia di tingkat global sekaligus menunjukkan komitmen terhadap perdamaian internasional.

“Para prajurit yang bertugas bukan hanya membawa mandat negara, tetapi juga membawa kehormatan bangsa Indonesia. Di pundak kalian ada bendera Merah Putih dan simbol baret biru PBB yang menjadi lambang kepercayaan dunia terhadap Indonesia,” ucapnya.

Ia meminta seluruh personel memahami makna pengabdian dalam misi perdamaian. Selain menjaga keamanan, para prajurit juga diharapkan mampu membangun hubungan baik dengan masyarakat lokal serta menjaga integritas selama bertugas.

Pengamat militer dan keamanan internasional dari Universitas Indonesia, Connie Rahakundini Bakrie, menilai keterlibatan Indonesia dalam misi perdamaian PBB memiliki dampak strategis bagi posisi Indonesia di kancah global. Menurutnya, konsistensi Indonesia mengirimkan pasukan perdamaian menunjukkan komitmen nyata terhadap stabilitas dunia sekaligus meningkatkan kepercayaan internasional terhadap profesionalisme TNI.

“Pasukan Garuda selama ini dikenal memiliki kemampuan adaptasi dan pendekatan humanis di wilayah konflik. Itu menjadi modal penting bagi Indonesia untuk terus dipercaya PBB,” ujar Connie dalam sejumlah kesempatan terkait misi perdamaian internasional.

Sementara itu, pengamat hubungan internasional Hikmahanto Juwana menilai partisipasi Indonesia dalam operasi perdamaian dunia juga memiliki nilai diplomatik yang besar. Kehadiran pasukan Indonesia dinilai dapat memperkuat posisi tawar Indonesia dalam berbagai forum internasional, termasuk di lingkungan PBB.

Menurut Hikmahanto, tantangan misi perdamaian saat ini semakin kompleks karena pasukan tidak hanya menghadapi ancaman keamanan, tetapi juga dinamika politik dan sosial di wilayah konflik. Karena itu, kesiapan prajurit harus dilakukan secara menyeluruh, termasuk kemampuan komunikasi dan pemahaman budaya lokal.

Rapat koordinasi tersebut turut dihadiri Menteri Luar Negeri Sugiono, Kepala Staf Kepresidenan Jenderal TNI (Purn.) Dudung Abdurachman, Wakil Menteri PPN/Wakil Kepala Bappenas Febrian Alphyanto Ruddyard, serta sejumlah pejabat dari TNI, Polri, dan kementerian terkait lainnya. Kehadiran para pejabat itu menunjukkan komitmen pemerintah dalam mendukung keberhasilan misi perdamaian Indonesia di bawah bendera PBB.

Dengan pengiriman ratusan prajurit ke Lebanon, Indonesia kembali menegaskan perannya sebagai salah satu negara yang aktif menjaga perdamaian dunia. Pemerintah berharap Satgas Kontingen Garuda mampu menjalankan tugas secara optimal sekaligus menjaga kehormatan bangsa selama bertugas di wilayah konflik internasional.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Cara Cek Daftar Nama Baru Penerima Bansos PKH dan BPNT Mei 2026
• 21 jam laluwartaekonomi.co.id
thumb
Update Harga City Car Bekas Mei 2026
• 16 jam lalumedcom.id
thumb
Alasan Kesehatan, Nadiem Makarim Jadi Tahanan Rumah
• 7 jam lalumetrotvnews.com
thumb
KPAI Ungkap Dampak Mengerikan Kekerasan di Daycare terhadap Balita | DIPO INVESTIGASI
• 14 jam lalukompas.tv
thumb
Rahasia Kulit Cantik dan Awet Muda Priyanka Chopra Jonas Tanpa Prosedur Bedah
• 14 jam laluviva.co.id
Berhasil disimpan.