SIDOARJO, KOMPAS - Sebanyak enam jemaah haji asal Embarkasi Surabaya, Jawa Timur meninggal dunia selama pelaksanaan ibadah haji 1447 H/2026 M. Sebagian besar jemaah wafat akibat penyakit jantung dan gangguan pernapasan.
Ketua Petugas Penyelenggara Ibadah Haji atau PPIH Embarkasi Surabaya, Mohammad As’adul Anam, mengatakan seluruh jemaah yang wafat telah mendapatkan penanganan sesuai prosedur. Mereka dimakamkan di Arab Saudi. PPIH juga terus berkoordinasi dengan keluarga jemaah di daerah asal masing-masing.
“Kami turut berduka cita atas wafatnya para jemaah haji di Tanah Suci. Semoga seluruh amal ibadah beliau diterima Allah SWT dan keluarga yang ditinggalkan diberikan ketabahan,” ujar As’adul Anam, Selasa (12/5/2026).
Enam jemaah yang meninggal itu adalah Kamariyah Dul Tayib (85) dari Kloter 8 Kabupaten Pasuruan. Ia meninggal karena gagal napas akut. Jemaah lainnya, Abdul Wachid (71) dari Kloter 7 Kabupaten Pasuruan, meninggal karena syok septik atau kondisi infeksi berat yang menyebabkan tekanan darah turun drastis dan organ tubuh terganggu.
Jemaah lain yang wafat adalah Fajar Puja Sasmita (53) dari Kloter 11 Kota Malang. Ia meninggal karena gangguan jantung atau cardiogenic shock. Penyebab serupa juga dialami Mustika Rajim D (75) dari Kloter 47 Kabupaten Gresik dan Suyono Reso (58) dari Kloter 62 Kabupaten Jombang.
Sementara itu, Sibiatun Saji (72) dari Kloter 33 Kabupaten Lamongan meninggal karena gagal napas akut. Dengan demikian, dari enam jemaah yang wafat, tiga di antaranya meninggal karena gangguan jantung, dua karena gagal napas akut, dan satu karena syok septik.
Selain menangani jemaah yang wafat, PPIH Embarkasi Surabaya juga memantau jemaah yang keberangkatannya tertunda di Asrama Haji Embarkasi Surabaya. Hingga Selasa, jumlahnya 12 orang. Mereka terdiri dari delapan jemaah yang sakit, dua pendamping, dan dua jemaah dalam kategori lain-lain.
“Sebagian jemaah masih menjalani observasi kesehatan dan menunggu ketersediaan kursi kosong untuk diberangkatkan pada kloter berikutnya,” kata Anam.
Beberapa jemaah yang masih berada di embarkasi antara lain berasal dari Gresik, Sidoarjo, Sampang, Kabupaten Mojokerto, Bali, Pamekasan, dan daerah lain. Salah satu jemaah juga berstatus tertunda dalam layanan Mecca Route karena sakit.
Pada Selasa, PPIH Embarkasi Surabaya menjadwalkan kedatangan 760 jemaah ke Asrama Haji. Mereka tergabung dalam dua kloter, yakni SUB 82 dan SUB 83, yang seluruhnya berasal dari Banyuwangi.
PPIH Embarkasi Surabaya menyatakan, operasional pemberangkatan jemaah haji hingga hari ke-21 berjalan lancar dan tertib. Berdasarkan laporan per 11 Mei 2026, sebanyak 28.445 jemaah dan petugas telah diberangkatkan menuju Tanah Suci. Jumlah itu setara dengan 65 persen dari total rencana pemberangkatan musim haji 1447 H/2026 M.
Tahun ini, total rencana pemberangkatan Embarkasi Surabaya mencapai 44.080 orang. Jumlah itu terdiri dari 42.109 jemaah, 464 petugas, 162 petugas haji daerah, serta 140 pembimbing ibadah haji dan umrah dari kelompok bimbingan ibadah haji dan umrah. Seluruhnya terbagi dalam 116 kelompok terbang atau kloter.
“PPIH terus melakukan koordinasi intensif dengan seluruh pihak terkait agar pelayanan jemaah berjalan maksimal, baik dari sisi akomodasi, kesehatan, transportasi, maupun proses penerbangan,” ucap Anam.
Dari sisi ketepatan waktu penerbangan atau on time performance, sebanyak 73 kloter tercatat berangkat tepat waktu. Tidak ada keterlambatan ataupun percepatan jadwal penerbangan pada kloter-kloter tersebut.
Secara nasional, jumlah jemaah haji Indonesia yang meninggal di Arab Saudi hingga hari ke-21 layanan haji mencapai 24 orang. Data itu disampaikan Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj) Republik Indonesia.
Jemaah terbaru yang dilaporkan wafat adalah Kasiani Sigito Tarmidi, asal Kota Medan, Sumatera Utara. Ia meninggal pada Minggu (10/5/2026).
“Atas nama Kemenhaj, kami menyampaikan duka cita yang mendalam. Semoga almarhumah mendapat tempat terbaik di sisi Allah SWT dan keluarga yang ditinggalkan diberikan ketabahan,” ujar Juru Bicara Kemenhaj Maria Assegaf di Jakarta, Senin (11/5/2026), sebagaimana dikutip dari laman resmi Kemenhaj.
Kemenhaj mencatat, saat ini 67 jemaah masih menjalani perawatan di rumah sakit di Arab Saudi. Karena itu, seluruh jemaah haji Indonesia diimbau mulai menghemat tenaga dan fokus mempersiapkan diri menuju fase puncak ibadah haji.
Maria mengatakan, puncak haji membutuhkan kesiapan fisik, mental, dan spiritual. Jemaah diminta tidak memaksakan diri beraktivitas di luar hotel, terutama pada siang hari. Suhu di Makkah dan Madinah saat ini berkisar 38-42 derajat celsius.
Hingga hari ke-21 operasional haji, sebanyak 341 kloter dengan 132.057 jemaah dan 1.361 petugas telah diberangkatkan ke Arab Saudi. Sementara itu, 240 kloter dengan 92.767 jemaah dan 960 petugas telah tiba di Makkah dari Madinah.
Untuk kedatangan gelombang kedua melalui Jeddah, sebanyak 67 kloter dengan 25.541 jemaah dan 269 petugas telah tiba. Adapun jemaah haji khusus yang telah tiba di Arab Saudi berjumlah 5.766 orang.
Kemenhaj juga mengingatkan jemaah lanjut usia, penyandang disabilitas, dan jemaah berisiko tinggi agar segera melapor kepada petugas jika mengalami keluhan kesehatan. Keluhan itu antara lain pusing, sesak napas, nyeri dada, demam, batuk berat, atau kondisi tubuh menurun.
“Jangan menunggu kondisi memburuk. Kesehatan adalah bekal utama menuju puncak haji,” ucap Maria.
Kemenhaj juga meminta kelompok bimbingan ibadah haji dan umrah ikut memperkuat edukasi kesehatan, keselamatan, ketertiban, dan kedisiplinan jemaah. Edukasi itu perlu berjalan bersamaan dengan bimbingan manasik.





