Dokter Internship Juga Manusia, Bukan Mesin

kumparan.com
9 jam lalu
Cover Berita

Saya dapat memahami betapa beratnya fisik maupun mental seseorang dalam tahapan menjadi dokter umum, karena anak perempuan kandung saya sendiri, Tuffa, adalah seorang dokter. Saya masih ingat suasana dia dari kala mengikuti masa pendidikan dan juga internship.

Ada hari-hari ketika ia pulang dengan wajah sangat letih, tidur hanya beberapa jam, lalu harus kembali menghadapi pasien, laporan medis, supervisi senior, dan tekanan psikologis untuk tidak boleh salah sedikit pun. Dalam banyak kesempatan, masyarakat hanya melihat profesi dokter sebagai simbol prestise dan penghormatan sosial. Padahal, di balik jas putih itu, terdapat proses panjang yang sering kali menguras daya tahan manusia hingga batas paling rapuh.

Karena itu, ketika membaca berita tentang meninggalnya beberapa dokter internship dalam waktu berdekatan, saya tidak melihatnya semata sebagai peristiwa individual, melainkan sebagai alarm serius tentang adanya persoalan sistemik dalam tata kelola pendidikan dan pelayanan kesehatan kita. Dunia kedokteran memang menuntut disiplin tinggi, ketahanan mental, serta pengabdian besar. Namun pengabdian tidak boleh berubah menjadi normalisasi penderitaan.

Seperti yang saya baca di The Jakarta Post dalam artikel berjudul “Intern deaths prompt overhaul of medical training system” karya Vidya Pinandhita yang terbit pada 8 Mei 2026, Kementerian Kesehatan berjanji merombak sistem internship dokter setelah empat dokter internship meninggal hanya dalam kurun dua bulan.

Salah satu kasus paling menyentuh adalah meninggalnya dokter internship Universitas Sriwijaya, Myta Aprilia Azmy, yang tetap bekerja meski mengalami infeksi paru-paru tanpa mengambil cuti sakit hingga kondisinya memburuk. Artikel itu juga mengungkap adanya pelanggaran serius berupa jam kerja berlebihan, tidak adanya hari libur selama rotasi bangsal, hingga praktik penugasan dokter internship untuk menggantikan fungsi dokter tetap.

Budaya “Tahan Banting” yang Keliru

Selama bertahun-tahun, terdapat budaya tidak tertulis dalam pendidikan kedokteran bahwa dokter muda harus “tahan banting”. Semakin kuat menghadapi tekanan ekstrem, dianggap semakin layak menjadi dokter sejati. Narasi seperti ini sering dibungkus dengan romantisme pengabdian dan profesionalisme. Padahal dalam perspektif ilmu psikologi organisasi modern, budaya kerja yang menormalisasi kelelahan kronis justru berbahaya.

Psikolog Christina Maslach melalui teori burnout menjelaskan bahwa kelelahan emosional berkepanjangan dapat menurunkan empati, meningkatkan depersonalisasi, dan mengurangi kualitas pengambilan keputusan seseorang. Dalam profesi medis, dampaknya bukan hanya terhadap tenaga kesehatan, tetapi juga terhadap keselamatan pasien. Dokter yang bekerja dalam kondisi kurang tidur dan tekanan mental ekstrem memiliki risiko lebih tinggi melakukan kesalahan medis.

Di banyak negara maju, isu jam kerja dokter muda sudah lama menjadi perhatian serius. Amerika Serikat misalnya, melakukan reformasi pembatasan jam kerja residen setelah kasus kematian pasien Libby Zion pada 1984 yang memicu kritik terhadap sistem dokter muda yang dipaksa bekerja terlalu lama tanpa istirahat memadai. Eropa bahkan menerapkan pembatasan jam kerja ketat bagi tenaga medis berdasarkan prinsip keselamatan kerja dan hak asasi manusia.

Indonesia tampaknya terlalu lama memandang kelelahan dokter muda sebagai bagian “normal” dari proses pembentukan mental. Padahal tubuh manusia memiliki batas biologis. Dokter bukan mesin pelayanan yang dapat dipaksa bekerja terus-menerus tanpa pemulihan fisik dan psikologis.

Ketika Dokter Internship Menjadi “Penambal” Krisis Sistem

Pernyataan Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin bahwa dokter internship tidak boleh menggantikan dokter permanen sesungguhnya menyentuh akar persoalan yang lebih besar. Dalam praktik di lapangan, banyak rumah sakit daerah menghadapi kekurangan tenaga medis tetap, terutama di luar kota besar. Situasi ini menciptakan ketergantungan tidak sehat terhadap dokter internship sebagai tenaga operasional utama.

Akibatnya, program internship yang semestinya berfungsi sebagai tahap pembelajaran transisional berubah menjadi mekanisme tambal sulam kekurangan SDM kesehatan nasional. Dokter muda bukan lagi diposisikan sebagai peserta pendidikan profesi yang dibimbing, tetapi perlahan dijadikan tulang punggung pelayanan dengan beban besar namun otoritas terbatas.

Fenomena ini sebenarnya dapat dijelaskan melalui teori “role conflict” dalam sosiologi organisasi, yakni ketika seseorang memegang status pelatihan namun dibebani ekspektasi pekerjaan penuh. Mereka dituntut belajar sekaligus bertanggung jawab seperti dokter senior. Dalam jangka panjang, kondisi demikian menciptakan tekanan mental kronis, rasa tidak aman profesional, dan kelelahan emosional.

Yang lebih memprihatinkan, budaya hierarkis dalam dunia medis sering membuat dokter muda takut menolak tugas meskipun kondisi fisiknya tidak memungkinkan. Ada rasa khawatir dianggap lemah, tidak loyal, atau tidak profesional bila meminta istirahat. Dalam budaya seperti ini, mengambil cuti sakit kadang justru terasa seperti pelanggaran moral.

Kematian Myta menjadi simbol tragis dari situasi tersebut. Seorang dokter muda yang sedang sakit tetap bekerja karena mungkin merasa tanggung jawab profesional harus didahulukan dibanding keselamatan dirinya sendiri. Di titik itu, sistem telah gagal melindungi manusia yang sedang dipersiapkan untuk melindungi manusia lain.

Reformasi Tidak Boleh Bersifat Kosmetik

Janji reformasi dari Kementerian Kesehatan patut diapresiasi, tetapi publik tentu berharap perubahan itu tidak berhenti pada respons sesaat setelah muncul sorotan media. Persoalan ini memerlukan evaluasi struktural yang menyeluruh.

Pertama, harus ada standar nasional yang ketat mengenai batas jam kerja dokter internship, hak cuti, waktu istirahat, serta mekanisme pengawasan independen. Rumah sakit tidak boleh dibiarkan membuat aturan sendiri yang berpotensi melanggar prinsip keselamatan kerja.

Kedua, sistem supervisi harus diperkuat. Dokter internship wajib didampingi secara nyata oleh dokter penanggung jawab, bukan sekadar formalitas administratif. Pendidikan profesi medis harus kembali pada hakikatnya sebagai proses pembelajaran, bukan eksploitasi tenaga kerja murah terselubung.

Ketiga, pemerintah perlu jujur mengakui bahwa akar persoalan juga berkaitan dengan ketimpangan distribusi dokter di Indonesia. Banyak rumah sakit daerah kekurangan dokter tetap sehingga membebankan pekerjaan berlebihan kepada dokter internship. Tanpa pembenahan distribusi tenaga kesehatan nasional, tekanan terhadap dokter muda akan terus berulang dalam bentuk berbeda.

Keempat, kesehatan mental tenaga medis harus diperlakukan sebagai isu strategis nasional. Selama ini dokter sering diasumsikan selalu kuat menghadapi tekanan. Padahal mereka juga manusia yang bisa lelah, sakit, cemas, bahkan mengalami depresi. Negara yang ingin memiliki sistem kesehatan kuat harus terlebih dahulu memastikan para tenaga kesehatannya bekerja dalam kondisi manusiawi.

Masyarakat sering memanggil dokter sebagai “pahlawan kesehatan”. Namun penghormatan sejati kepada profesi dokter bukan sekadar pujian simbolik atau tepuk tangan moral. Penghormatan itu diwujudkan melalui sistem kerja yang sehat, perlindungan yang layak, supervisi yang adil, dan budaya profesional yang tidak memuliakan kelelahan ekstrem sebagai ukuran dedikasi.

Sebab bila dokter-dokter muda terus dipaksa bertahan dalam sistem yang menggerus fisik dan mental mereka, yang terancam bukan hanya masa depan para dokter itu sendiri, melainkan juga kualitas kemanusiaan dalam pelayanan kesehatan Indonesia.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Wujudkan Kamseltibcarlantas, Kakorlantas Tekankan Digitalisasi-Profesionalisme Jajaran
• 17 jam laludetik.com
thumb
Pemilu 2024 Tak Benar-benar Sehat, DKPP Pecat 65 Penyelenggara dari KPU-Bawaslu
• 20 jam laluharianfajar
thumb
Polisi Bekuk 25 Pelaku Curanmor dan Pencurian Rumah Kosong di Bekasi
• 15 jam lalupantau.com
thumb
Diperiksa Polisi Terkait Laporan Ahmad Dhani, Lita Gading Heran Cuma Dicecar 1 Pertanyaan
• 15 jam lalugrid.id
thumb
Satgas PASTI Hentikan Magento, Diduga Jalankan Investasi Bodong Bermodus Impersonasi
• 14 jam lalubisnis.com
Berhasil disimpan.