Pemerintah Setujui Insentif Kendaraan Listrik, Jadi Senjata Baru Tekan Impor BBM

wartaekonomi.co.id
9 jam lalu
Cover Berita
Warta Ekonomi, Jakarta -

Pemerintah mulai menyiapkan langkah baru untuk menghadapi ancaman lonjakan harga minyak dunia yang dipicu konflik geopolitik global.

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengungkapkan, salah satu strategi yang kini disiapkan adalah pemberian insentif kendaraan listrik atau electric vehicle (EV) guna menekan impor bahan bakar minyak (BBM).

Menurut Purbaya, tensi konflik antara Amerika Serikat dan Israel dengan Iran diperkirakan masih akan berlangsung cukup lama. Situasi itu diyakini membuat harga minyak dunia tetap tinggi dalam beberapa bulan ke depan dan berdampak langsung terhadap beban impor energi Indonesia.

“Kelihatannya perang masih panjang. Artinya, konsumsi BBM kita juga akan masih tinggi dan dengan harga yang lebih tinggi. Kalau saya bisa pindahkan ke listrik, itu akan mengurangi impor (BBM) kita dengan signifikan,” kata Purbaya di kantor Kementerian Keuangan, Jakarta, Selasa (12/5/2026).

Baca Juga: Dedi Mulyadi Berencana Hapus Pajak Kendaraan di Jawa Barat, Ini Gantinya

Tak hanya untuk menekan impor BBM, kebijakan insentif kendaraan listrik itu juga disebut dapat membantu menyerap kelebihan pasokan listrik nasional. Purbaya menyinggung kondisi sistem kelistrikan PT PLN (Persero) yang saat ini masih mengalami surplus daya.

Ia menjelaskan, PLN menggunakan mekanisme take or pay, yakni pembayaran kepada pembangkit listrik tetap harus dilakukan meski listrik yang diproduksi tidak seluruhnya terserap masyarakat. Karena itu, penggunaan kendaraan listrik dinilai bisa menjadi jalan keluar untuk memanfaatkan listrik domestik sekaligus mengurangi ketergantungan pada BBM impor.

"Saya mau pakai itu supaya subsidinya di PLN mengecil, (subsidi) BBM juga mengecil. Itu utamanya," tambah dia.

Purbaya bahkan memprediksi konflik geopolitik global belum akan cepat mereda. Berdasarkan pengamatannya terhadap situasi politik di Amerika Serikat, ketegangan internasional diperkirakan baru bisa melunak sekitar September 2026, bertepatan dengan agenda pemilihan umum di Negeri Paman Sam tersebut.

Baca Juga: Temui Purbaya, Menperin Bahas Hilal Insentif Kendaraan Listrik

Ia menilai adanya kesepakatan internasional terhadap Iran membuat konflik yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran masih jauh dari kata selesai. Karena itu, pemerintah mulai memperkuat strategi penghematan energi sejak sekarang.

Meski optimistis kendaraan listrik dapat menjadi solusi jangka panjang, pemerintah tetap bersiaga menghadapi kemungkinan perang berlangsung lebih lama dari perkiraan. Langkah efisiensi energi pun disebut akan terus diperkuat dalam beberapa bulan mendatang demi menjaga ketahanan ekonomi nasional di tengah gejolak global.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Masriah yang Viral Melempar Kotoran Manusia ke Tetangga Kembali Berulah
• 11 jam lalutvonenews.com
thumb
Hamdan Zoelva Sebut Pengadilan Tipikor Abaikan Banyak Fakta Penting Adili Perkara Kerry Riza
• 5 jam laluviva.co.id
thumb
John Herdman Tak akan Panggil Jay Idzes ke Timnas Indonesia untuk FIFA Matchday Juni 2026 saat Lawan Oman dan Mozambik?
• 7 jam lalutvonenews.com
thumb
Ribuan Motor Diduga Hasil Curian Ditemukan di Gudang Kebayoran Lama
• 7 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Trump di Beijing, Momentum Diplomasi atau Jalan Buntu?
• 10 jam laludetik.com
Berhasil disimpan.