Bisnis.com, JAKARTA — MSCI Inc. resmi mengumumkan hasil tinjauan indeks Mei 2026 untuk MSCI Equity Indexes pada Selasa (12/5/2026). Dalam revisi kali ini, saham AMRT masuk ke dalam MSCI Small Cap Index, sementara saham ANTM, SIDO dan sejumlah emiten lainnya justru dikeluarkan dari indeks tersebut.
MSCI menyebut seluruh perubahan hasil review indeks akan berlaku efektif pada penutupan perdagangan 29 Mei 2026 dan mulai diterapkan pada 1 Juni 2026.
Berdasarkan MSCI May 2026 Index Review, tidak ada tambahan saham Indonesia baru dalam MSCI Global Standard Index. Sebaliknya, MSCI menghapus enam saham Indonesia dari indeks tersebut, yakni AMMN, BREN, TPIA, DSSA, CUAN, dan AMRT.
Namun, MSCI memasukkan saham AMRT ke dalam MSCI Small Cap Index setelah sebelumnya saham tersebut dikeluarkan dari MSCI Global Standard Index.
Di sisi lain, terdapat 13 saham Indonesia yang dicoret dari MSCI Small Cap Index. Saham-saham tersebut meliputi ANTM, AALI, BANK, dan BSDE.
Kemudian, MSCI juga menghapus DSNG, SIDO, MIDI, serta MIKA dari MSCI Small Cap Index.
Baca Juga
- MSCI Umumkan 6 Saham RI Keluar dari Global Standard, Ada BREN, DSSA hingga AMMN
- Volatilitas MSCI Jadi Ajang Buy on Dip, Asing Mulai Borong Big Caps
- MSCI Umumkan Indeks Saham RI, AMMN, BREN, TPIA Terdampak
Selanjutnya, saham MSIN, TKIM, APIC, SSMS, dan TAPG juga keluar dari indeks tersebut.
Secara global, MSCI menyampaikan terdapat 246 penambahan dan 195 penghapusan pada MSCI ACWI Small Cap Index dalam review Mei 2026.
MSCI juga menyebut jadwal review indeks berikutnya akan diumumkan pada 12 Agustus 2026 dan berlaku efektif mulai 1 September 2026.
Daftar Emiten yang masuk dan keluar MSCI Small Cap Index MSCI Small Cap Indexes Keterangan Additions AMRT Deletions ANTM, AALI, BANK, BSDE, DSNG, SIDO, MIDI, MIKA, MSIN, TKIM, APIC, SSMS, TAPG Langkah OJK dan BEISebelumnya, Ketua Dewan Komisioner OJK, Friderica Widyasari Dewi alias Kiki, mengatakan pihaknya akan mengantisipasi gejolak pasar imbas pengumuman tersebut. Sejak awal tahun OJK bersama BEI terus menjalankan reformasi perbaikan pasar modal.
"Jadi kita harus mengantisipasi. Tadi saya sampaikan, mungkin bisa menjadi short term pain, tapi Insyaallah menjadi long term gain," kata Kiki di Gedung BEI, Jakarta, Senin (11/5/2026).
OJK memahami pengumuman MSCI pada 12 Mei 2026 akan membawa dinamika pasar saham Tanah Air. Regulator melihat pasar akan mengalami koreksi singkat, namun dalam jangka panjang akan menjadi pijakan yang solid untuk penguatan berkelanjutan. Saat ini, salah satu yang ditunggu investor Tanah Air adalah keputusan MSCI yang akan menghapus konstituen saham Indonesia yang masuk di dalam daftar high shareholding concentration (HSC) atau daftar saham-saham dengan kepemilikan terkonsentrasi.
Kiki mengimbau investor Tanah Air tidak panik. Dampak pengumuman MSCI nanti menurutnya hanya sebuah konsekuensi dari perbaikan-perbaikan reformasi pasar modal. Di sisi lain, kondisi makro ekonomi Indonesia yang solid juga bisa memberikan rasa percaya diri investor. Selain itu, regulator juga berkomitmen untuk melanjutkan perbaikan dan transparansi tata kelola pasar modal Indonesia.
"Delapan aksi reformasi itu terus kita lakukan. Misalnya penegakan hukum, penguatan pengawasan. Dari BEI bagaimana mendorong banyak perusahaan masuk bursa, yang tentu saja akan kita lihat dulu kualitasnya, tidak hanya kuantitas saja," ujar Kiki.
Selanjutnya, OJK juga mendorong pendalaman pasar oleh investor institusi domestik. Kiki membandingkan, bahwa dahulu pasar modal RI lebih sensitif oleh gejolak global. Namun, sekarang dengan jumlah investor RI mencapai 26 juta menurutnya kondisinya kini jauh lebih baik.
Sementara itu, Pjs. Direktur Utama Bursa Efek Indonesia (BEI) Jeffrey Hendrik mengatakan bahwa pihaknya melihat gejolak pasar yang disebabkan oleh MSCI bukanlah sebuah bencana atau ancaman, melainkan sebagai peluang melakukan perbaikan fundamental pasar modal.
Jeffrey menegaskan perbaikan pasar modal Indonesia telah menggunakan best practice global. Misalnya, pembukaan data keterbukaan investor di atas 1% hanya diterapkan di India dan Indonesia, sementara pembukaan data daftar saham terkonsentrasi (HSC) hanya ada di Hong Kong dan Indonesia.
"Jadi apa yang menjadi best practice di India dan tidak ada di tempat lain itu kita adopsi, apa yang ada di Hong Kong dan tidak ada di tempat lain itu juga kita adopsi. Itulah yang membuat saat ini sepertinya Bursa Indonesia adalah Bursa yang paling transparan di dunia," kata Jeffrey.
Imbas dari implementasi HSC, BEI telah mengeluarkan 9 saham yang terdaftar di dalamnya dari indeks utama seperti IDX80, IDX30 dan LQ45. Jeffrey bilang, langkah ini sejalan dengan ketentuan MSCI yang juga akan mendepak saham konstituen Indonesia yang terdaftar di dalam daftar HSC.
Jeffrey memahami hal tersebut akan berdampak bagi penurunan bobot saham Indonesia di MSCI, namun hal itu dianggap perlu demi kesehatan pasar modal jangka panjang. BEI optimis bobot saham Indonensia di MSCI dalam jangka panjang akan meningkat.
"Proses reformasi ini akan menjadi proses yang tidak pernah berhenti. Ini akan terus kami lakukan sampai Indonesia, Bursa Efek Indonesia menjadi bursa kelas dunia. Sebelum itu kami tidak akan berhenti. Kalau ditanya seberapa confidence atas upaya-upaya yang kita lakukan bersama ini, saya hanya akan menyampaikan bahwa kami dari Bursa Efek Indonesia sangat confidence pasar modal Indonesia on the right track, in the right direction," pungkasnya.
______
Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.





