Jalan terus menanjak selepas pertigaan Jalan Sindanglaya dan Jalan Arcamanik di Sukamiskin, Kota Bandung, Jawa Barat, Selasa (12/5/2026). Kami menuju tempat berkumpulnya anak muda pegiat kopi di rumah Abah Uyek Wariyo (57) di Kampung Arcamanik, Desa Mekarmanik, Kecamatan Cimenyan, Kabupaten Bandung, yang berjarak 20 kilometer dari pusat Kota Bandung. Siang itu matahari bersinar terik. Ibu-ibu tengah menjemur kopi di halaman rumah.
Abah Uyek tengah bersantai di ruang tamunya. Uyek adalah penerus dan penggerak kopi rasa galor. Kopi arabika yang oleh warga setempat diberi nama rasa galor tersebut mengambil nama dari blok wilayah perkebunan kopi di kawasan tersebut yang dikembangkan oleh Belanda pada masa penjajahan. Setelah berganti-ganti tanaman dari sayuran, cengkeh, hingga pinus, akhirnya warga setempat kembali menanam kopi arabika pada tahun 2003.
”Pada masa penjajahan, Belanda mengembangkan perkebunan kopi di desa ini, yang terbagi menjadi tiga blok wilayah, yaitu rasa galor, nagarawangi, dan cigorowong. Maka, kopi di sini dikenal dengan nama rasa galor dan mekarmanik (nama desa). Galor (galore) dalam bahasa Inggris artinya kelimpahan atau bisa dikatakan kaya rasa. Saya masuk di kopi tahun 2000-an. Awalnya susah mengajak warga karena sudah nyaman dengan sayuran. Tetapi, sekarang akhirnya warga lebih nyaman menanam kopi, kopi mulai panen sejak 2005,” tutur Uyek.
Kendala cuaca berupa hujan yang terus turun menyebabkan produksi kopi di kawasan ini turun hingga 50 persen dalam dua tahun terakhir. Saat cuaca bagus, produksi kopi bisa mencapai 4-5 ton per hektar, sedangkan dalam dua tahun terakhir produksi kopi di bawah 2 ton per hektar. Beras kopi medium dijual Rp 140.000 per kilogram, sedangkan beras kopi premium dijual Rp 190.000 per kilogram. Pasar kopi dari sini kebanyakan dibawa ke kedai kopi di Jakarta.
Yadi dan Rifki, dua anak muda pegiat kopi yang tergabung dalam Lembaga Masyarakat Desa Hutan (LMDH) Tani Mukti Giri Jaya, datang setelah ditelepon Uyek. Keduanya bercerita tentang semangat kaum muda untuk kembali menghidupkan kopi, mengikuti proses standar pengolahan dari pemetikan ceri merah, sortasi, hingga pengeringan. Mereka yakin kopi akan menjadi sumber penghasilan yang lebih stabil.
Menyortir kopi
Menurut Yadi, petani setelah panen menjemur masing-masing di halaman rumahnya. Kemudian, untuk mengolah dan mengontrol standarnya dilakukan anak-anak muda pegiat kopi. Diharapkan petani mengolah kopi minimal hingga menjadi beras kopi, jadi lebih tahan lama dan harga bisa lebih tinggi.
”Ada tambahan nilai Rp 3.000 per kilogram setelah ada pengolahan. Paling lama tiga minggu. Produksi kopi misalnya 3 ton dalam satu musim, tambahan nilai uangnya bisa mencapai Rp 9 juta,” kata Yadi.
Rifki Abdul Aziz, salah satu pengurus LMDH Tani Mukti Giri Jaya, menyebut petani kopi di kawasan ini terbilang baru. Dalam empat tahun terakhir, pengurus memberikan edukasi soal pengolahan hingga menjadi beras kopi agar petani bisa mandiri dan harga tidak dimainkan oleh bandar.
Sebanyak 300 petani kopi bekerja sama dengan Perhutani memanfaatkan lahan seluas 400 hektar di kaki Gunung Palasari yang berketinggian 1.200-1.400 meter di atas permukaan laut (mdpl). Kopi arabika varietas Lini S dipilih warga karena lebih cocok dengan tanahnya, minim perawatan, dan produktivitasnya lumayan.




