Bisnis.com, JAKARTA — Indonesia Investment Authority (INA) memberikan tanggapan terkait dengan kabar penunjukan bankir investasi senior, Oki Ramadhana, sebagai CEO baru menggantikan Ridha Wirakusumah.
VP Corporate Communication INA, Putri Dianita, mengonfirmasi saat ini sedang berlangsung proses transisi kepemimpinan di jajaran direksi institusi tersebut. Proses ini diklaim berjalan sesuai dengan prosedur formal yang berlaku.
“INA mengonfirmasi bahwa transisi kepemimpinan di jajaran direksi saat ini sedang berlangsung sesuai dengan kerangka tata kelola dan proses formal yang berlaku di INA,” ujar Putri kepada Bisnis, Rabu (13/5/2026).
Di samping itu, Putri menambahkan bahwa detail resmi terkait dengan pengangkatan jajaran direksi baru tersebut akan diumumkan setelah seluruh tahapan administrasi dan proses formal selesai dilakukan.
Berdasarkan informasi yang beredar, Oki Ramadhana dikabarkan terpilih untuk mengisi kekosongan kepemimpinan di sovereign wealth fund pertama Indonesia tersebut sejak masa jabatan Ridha Wirakusumah berakhir pada Februari lalu.
Oki sendiri dikenal memiliki rekam jejak panjang di dunia perbankan investasi, termasuk menjabat sebagai Direktur Utama Mandiri Sekuritas, serta posisi senior di HSBC Sekuritas, Morgan Stanley, dan Goldman Sachs.
Baca Juga
- Proyek Fraksionasi Plasma INA di Karawang Raih Pengakuan
- CIO Indonesia Investment Authority (INA) Resign
- Dana Kelolaan Rp160 Triliun, Indonesia Investment Authority (INA) Dorong Investasi Berkelanjutan
Selain Oki, INA juga disebut-sebut memboyong dua sosok profesional lainnya. Mantan Direktur Utama BRI Danareksa Sekuritas, Laksono Widodo, dikabarkan mengisi posisi Chief Investment Officer (CIO), sementara Adhiputra Tanoyo, mantan Direktur Bank Ina Perdana, ditunjuk sebagai Chief Risk Officer (CRO).
Ketiga sosok baru tersebut dikabarkan telah menjalani prosesi pelantikan pada Rabu (13/5/2026), meskipun manajemen INA memilih untuk menunggu penyelesaian proses formal sebelum memberikan pernyataan lebih terperinci.
Adapun, pengisian kursi direksi ini menjadi langkah penting guna menjaga kesinambungan mandat strategis INA dalam menjaring modal asing melalui skema co-investment. Hingga saat ini, perseroan telah menyalurkan lebih dari US$4,5 miliar bersama mitra investor ke berbagai sektor.
“Saat ini kami fokus di sektor yang sesuai dengan program-program pemerintah, yaitu transportasi, logistik dan infrastruktur, digital, energi hijau dan ekonomi biru, mineral dan hilirisasi, serta kesehatan,” ungkap Chief Investment Officer INA, Christopher Ganis, saat berkunjung ke Bisnis Indonesia, tahun lalu.
Christopher menjelaskan bahwa penyelarasan dengan program pemerintah bertujuan untuk menarik Foreign Direct Investment (FDI).
Fungsi INA ditekankan bukan untuk mengusir modal yang sudah ada (crowding out), melainkan untuk menarik modal masuk. Selain sektor prioritas, INA juga tidak menutup kemungkinan untuk masuk ke sektor lain seperti pendidikan, selama memiliki imbal hasil yang baik dan risiko yang terukur.





