Ahmad Dhani Gagas Gerakan Masyarakat Anti Hoax, Libatkan 12 Praktisi Hukum

grid.id
5 jam lalu
Cover Berita

Grid.ID - Musisi sekaligus anggota DPR RI Ahmad Dhani menggagas Gerakan Masyarakat Anti Hoax (GEMAS) bersama 12 praktisi hukum sebagai bentuk kepedulian terhadap maraknya penyebaran berita bohong di media sosial. Salah satu tokoh yang terlibat dalam gerakan tersebut adalah Malik Bawazier, suami artis Cut Keke.

Dalam konferensi pers yang dihadiri sejumlah advokat dan tokoh lintas profesi itu, Ahmad Dhani menilai hoaks kini telah menjadi “budaya” yang mengkhawatirkan di Indonesia, terutama di media sosial. Sebagai anggota Komisi X DPR RI yang membidangi kebudayaan, Dhani mengaku terpanggil untuk mengumpulkan berbagai elemen masyarakat demi mencari solusi memberantas hoaks.

“Hoax ini sudah menjadi budaya di Indonesia terutama di media sosial. Maka dari itu kami menyebutnya bahwa hoax di Indonesia itu sudah darurat,” kata Ahmad Dhani saat ditemui di kawasan Senayan, Jakarta Pusat, Rabu (13/5/2026).

Pentolan grup Dewa 19 itu menegaskan GEMAS bukan sekadar forum diskusi, melainkan gerakan yang nantinya akan menyusun langkah konkret untuk memerangi hoaks di ruang digital. Menurutnya, masih banyak masyarakat yang belum memahami bahwa membuat maupun menyebarkan hoaks bisa melanggar Undang-Undang ITE dan KUHP.

Ahmad Dhani juga mengungkapkan bahwa pihaknya berencana berdialog dengan pemerintah, termasuk Kementerian Komunikasi dan Informatika serta organisasi pers, untuk membahas penertiban akun-akun media sosial yang menyerupai media resmi namun tidak terdaftar di Dewan Pers.

Sementara itu, Malik Bawazier menyebut gerakan yang digagas Ahmad Dhani hadir di momen yang tepat. Ia mengapresiasi langkah Ahmad Dhani sebagai anggota dewan yang berhasil mengumpulkan para advokat dan lintas profesi untuk bersama-sama memikirkan solusi melawan hoaks di Indonesia.

“Saya terus terang memberikan apresiasi yang setinggi-tingginya kepada Mas Ahmad Dhani dalam kapasitas dia sebagai seorang anggota dewan dan baru kali ini ada seorang anggota dewan yang kemudian meng-gathering kita, mengumpulkan kita bersama-sama, khususnya profesi advokat sebagai praktisi hukum,” ujar Malik Bawazier.

Ia menilai hoaks bukan lagi persoalan sepele karena dapat memicu fitnah, penghinaan hingga penghasutan yang mengancam stabilitas sosial dan politik.

“Beliau concern memikirkan tujuan ideal dari gerakan masyarakat anti hoax ini adalah menjaga persatuan dan kesatuan bangsa, tidak ada orang yang menjadi korban hoax, korban fitnah, penyiaran berita bohong,” lanjut Malik.

Malik juga menyoroti pentingnya prinsip kehati-hatian saat berbicara di ruang publik. Menurutnya, setiap pernyataan yang disampaikan harus berdasarkan fakta material dan bukti yang valid agar tidak berubah menjadi fitnah atau character assassination terhadap seseorang.

Ia bahkan menyebut hoaks saat ini sudah seperti “kanker stadium akhir” yang harus segera diperangi bersama-sama oleh masyarakat, media, dan negara.

 

Selain melibatkan praktisi hukum, gerakan GEMAS disebut akan bersifat inklusif dengan menggandeng berbagai kalangan profesi.Para penggagas berharap gerakan tersebut dapat menjadi sarana edukasi publik agar masyarakat lebih bijak menggunakan media sosial dan tidak mudah menyebarkan informasi tanpa verifikasi.

“Ini gerakan sosial untuk melawan begitu bahayanya informasi bohong atau hoax,” ujar salah satu praktisi hukum lain.(*)

 

Artikel Asli


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Kolaborasi NU dan UI Buka Peluang Beasiswa "Double Degree"
• 7 jam lalukompas.id
thumb
Revitalisasi SMK Genjot Ekonomi Daerah dan Lulusan Siap Kerja
• 19 jam laludisway.id
thumb
Kala Ruang Hidup Masyarakat Adat To Kulawi Uma Terimpit Regulasi
• 14 jam lalukompas.id
thumb
Calon Direksi Baru BEI Diumumkan Paling Lambat pada 22 Juni 2026
• 10 jam lalukumparan.com
thumb
Aldi Taher Minta Doa, Sang Ayah Dilarikan ke Rumah Sakit Karena Usus Buntu
• 19 jam laluintipseleb.com
Berhasil disimpan.