Sebanyak 123 guru dari 101 Sekolah Dasar (SD) se-Kota Pekanbaru mengikuti pelatihan pembelajaran berbasis deep learning, koding, dan kecerdasan artifisial (AI) pada 4-6 Mei 2026. Pelatihan diadakan oleh tim Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Riau (Unri) bekerja sama dengan Rumah Edukasi.
Ketua tim Neni Hermita menuturkan pelatihan dirancang untuk menjembatani kesenjangan antara pemahaman guru terhadap kebijakan Koding dan Kecerdasan Artifisial (KKA) dengan praktik pembelajaran di kelas.
“Selama ini banyak guru sudah mengenal KKA, tetapi belum sampai pada tahap implementasi. Kami ingin mendorong perubahan nyata, dari memahami menjadi mampu menerapkan dalam pembelajaran sehari-hari,” ujar Neni melalui keterangan tertulis dikutip Rabu, 13 Mei 2026.
Pendekatan yang digunakan dalam pelatihan ini menekankan pada koding unplugged, yakni pembelajaran koding tanpa komputer melalui lembar kerja (LKPD), kartu algoritma, dan aktivitas berbasis masalah yang kontekstual. Melalui pendekatan ini, koding tidak lagi dipahami sebagai aktivitas teknis, tetapi sebagai kerangka berpikir yang dapat diintegrasikan dalam berbagai mata pelajaran.
Selain itu, guru juga dikenalkan pada penerapan kecerdasan artifisial sederhana melalui platform Teachable Machine. Hal ini memungkinkan pembuatan model berbasis pengenalan gambar atau suara tanpa memerlukan kemampuan pemrograman yang kompleks.
Dalam sesi praktik, peserta mencoba langsung merancang aktivitas pembelajaran, seperti mengklasifikasikan objek atau mengenali pola sederhana berbasis data. Melalui pengalaman ini, guru tidak hanya menjadi pengguna teknologi, tetapi mulai memahami bagaimana AI bekerja secara sederhana dan bagaimana konsep tersebut dapat diterjemahkan menjadi aktivitas belajar yang bermakna bagi siswa.
Baca Juga :
Dosen Bakal Tergantikan AI? Mendiktisaintek Beri Jawaban MenohokSetelah pelatihan, 70 persen guru mampu merancang pembelajaran berbasis koding, dan 90 persen peserta berhasil menyusun LKPD koding sederhana yang siap digunakan di kelas. Salah satu peserta, Rista, merasakan perubahan dalam cara pandangnya terhadap pembelajaran.
“Selama ini kami menganggap koding dan AI itu sulit. Tapi setelah praktik, ternyata bisa diterapkan dengan cara sederhana. Saya jadi lebih percaya diri untuk mencoba di kelas,” kata guru dari SD Kartika 1-9 Sail Pekanbaru itu.
Pendekatan ini juga tidak hanya berdampak pada guru, tetapi juga membuka peluang pembelajaran lebih bermakna bagi siswa. Siswa dapat dilatih untuk berpikir logis, mengenali pola, serta memahami hubungan sebab-akibat, bukan sekadar menghafal materi.
Pelatihan koding dan AI untuk guru se-Pekanbaru oleh Unri. DOK Unri
Pelaksana Tugas Kepala Dinas Pendidikan Kota Pekanbaru, Syafrian Tommy, menyambut baik kegiatan ini. Dia menekankan pentingnya perubahan paradigma pembelajaran, khususnya di momentum Hari Pendidikan Nasional.
“Di Hari Pendidikan ini, kita ingin anak-anak belajar koding secara mendalam, bermakna, dan menyenangkan. Koding bukan sekadar keterampilan teknis, tetapi cara melatih berpikir. Di sinilah peran guru menjadi sangat penting,” ujar dia.
Ke depan, kegiatan tidak berhenti pada pelatihan, tetapi dilanjutkan dengan pendampingan melalui forum Kelompok Kerja Kepala Sekolah (K3S). Sehingga, praktik baik yang dihasilkan dapat terus berkembang dan direplikasi di sekolah lain.
Di tengah tuntutan pendidikan yang semakin kompleks, pendekatan sederhana seperti koding unplugged dan pemanfaatan AI dasar menunjukkan inovasi tidak selalu bergantung pada teknologi canggih. Terpenting, pembelajaran mampu menghadirkan pengalaman belajar yang bermakna, kontekstual, dan membentuk cara berpikir siswa sejak dini.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(REN)





