Pesta Babi, Pesta Bakar Ubi

kompas.com
11 jam lalu
Cover Berita

SEBUAH film, sekalipun dokumenter, secara sosiologis tetap membutuhkan hentakan agar mampu menarik perhatian khalayak untuk menyimaknya.

Fenomena ini hampir selalu terjadi di kalangan para pembuat film, apa pun jenisnya, tidak hanya pada film komersial seperti Santet Segoro Pitu misalnya, yang sejak judulnya saja sudah mampu memancing rasa penasaran orang untuk datang menonton.

Hal yang sama juga terlihat pada film-film dokumenter seperti Sexy Killers yang mengangkat persoalan tambang batu bara, atau Ice Cold: Murder, Coffee and Jessica Wongso tentang kasus Jessica Wongso, di mana unsur provokasi judul dan isu menjadi pintu masuk perhatian publik.

Saya kira hal serupa juga terjadi pada Pesta Babi, yang kalau boleh saya baca justru seperti “Pesta Bakar Ubi”, sebuah gaya khas film milik Dandhy Laksono yang memang sengaja menghadirkan kejutan agar orang mau berhenti, melihat, lalu membicarakannya.

Awalnya film ini mungkin tidak terlalu menarik perhatian, tetapi ketika ditawarkan melalui konsep nonton bareng gratis cukup dengan mengumpulkan 15 orang, tiba-tiba muncul sensasi baru yang membuat orang penasaran.

Apalagi judulnya begitu menggelora, Pesta Babi, sehingga banyak orang mulai mencari dan membicarakannya: benarkah isinya tentang pesta babi seperti yang dibayangkan banyak orang?

Karena itu, siapa pun yang ingin mengulas atau memberi penilaian seharusnya menonton filmnya terlebih dahulu. 

Jangan terburu-buru berpendapat atau membangun asumsi sebelum benar-benar melihat isi film tersebut.

Baca juga: Ironi Dominasi Kebenaran dalam Lomba Cerdas Cermat Pilar Kebangsaan

Film Pesta Babi menggambarkan dinamika kehidupan masyarakat adat di Papua, seperti suku Marind, Awyu, Yei, dan Muyu yang menghadapi perubahan besar akibat ekspansi proyek perkebunan tebu, sawit, hingga program food estate.

Film ini memperlihatkan bagaimana hutan-hutan adat dibuka untuk kepentingan bioetanol dan ketahanan pangan dalam skala luas, yang pada akhirnya memunculkan rasa kehilangan ruang hidup dan keterasingan masyarakat dari tanah leluhur mereka sendiri.

Dalam situasi tersebut, sebagian masyarakat melakukan perlawanan simbolik dengan memasang “salib merah” sebagai bentuk penolakan terhadap masuknya perusahaan dan penguasaan lahan yang dianggap mengancam keberlangsungan hidup serta identitas adat mereka.

Dengan durasi sekitar 95 menit, film Pesta Babi juga menyoroti dugaan militerisasi dalam pengamanan berbagai proyek investasi yang berlangsung di kawasan Papua.

Di sisi lain, istilah Pesta Babi sendiri bukan sekadar judul provokatif, melainkan merujuk secara harfiah pada tradisi budaya Orang Asli Papua, khususnya masyarakat Muyu melalui ritual adat besar bernama Awon Atatbon. 

Babi memiliki makna penting sebagai simbol sosial, persaudaraan, dan identitas budaya dalam kehidupan masyarakat adat.

.ads-partner-wrap > div { background: transparent; } #div-gpt-ad-Zone_OSM { position: sticky; position: -webkit-sticky; width:100%; height:100%; display:-webkit-box; display:-ms-flexbox; display:flex; -webkit-box-align:center; -ms-flex-align:center; align-items:center; -webkit-box-pack:center; -ms-flex-pack:center; justify-content:center; top: 100px; }

Tradisi tersebut merupakan sebuah budaya bagaimana mereka mempertahankan hutan, bahkan alam di Papua sebagai "rumah makan" mereka.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Masyarakat Tagih Permohonan Maaf Pribadi Juri Lomba Cerdas Cermat Kalbar, Begini Jawaban Setjen MPR
• 17 jam lalutvonenews.com
thumb
BOGORUN 2026 Sukses Digelar, bank bjb Hadirkan Pengalaman Berlari di Kota Bogo
• 7 jam lalukatadata.co.id
thumb
Jelang Idul Adha, Peternak Ponorogo Andalkan Layanan Perawatan Sapi Premium
• 4 jam laluberitajatim.com
thumb
Harga Kedelai Impor Naik Imbas Rupiah Lemah, Perajin Tempe Khawatir
• 41 menit lalukompas.tv
thumb
Apersi Sulsel Matangkan Apex 2026, Gandeng OJK Perkuat Pembiayaan Perumahan
• 12 jam laluharianfajar
Berhasil disimpan.