Jakarta, ERANASIONAL.COM – Pemerintah Indonesia terus memperkuat kerja sama energi lintas negara di kawasan Asia Tenggara melalui pengembangan jaringan listrik regional. Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengungkapkan bahwa transmisi listrik Filipina akan segera terhubung ke jaringan Trans Borneo Power Grid guna meningkatkan efisiensi distribusi energi antarnegara ASEAN.
Menurut Bahlil, saat ini Indonesia telah lebih dahulu membangun konektivitas jaringan listrik dengan Malaysia. Kerja sama tersebut memungkinkan Indonesia mengimpor listrik dari pembangkit listrik tenaga air (PLTA) Malaysia untuk memenuhi kebutuhan energi di wilayah Kalimantan.
“Sekarang kan kita sudah bangun jaringan antara Malaysia-Indonesia. Sebentar lagi akan masuk Filipina,” ujar Bahlil, dikutip Rabu (13/5).
Ia menjelaskan, integrasi jaringan listrik regional menjadi langkah strategis untuk memperkuat ketahanan energi kawasan sekaligus memastikan akses listrik yang lebih merata hingga wilayah terpencil. Menurut dia, kerja sama energi antarnegara dapat memberikan keuntungan bagi seluruh pihak apabila dilakukan dengan prinsip saling menguntungkan.
Dalam kerja sama dengan Malaysia, Indonesia memanfaatkan pasokan listrik berbasis energi air yang dinilai lebih efisien dan stabil untuk mendukung kebutuhan listrik di Kalimantan. Bahlil menyebut harga listrik impor dari Malaysia masih berada dalam batas yang wajar dan kompetitif.
“Itu bagus. Harganya cengli,” ujar dia.
Pengembangan jaringan listrik lintas negara ini menjadi bagian dari upaya ASEAN membangun integrasi energi regional di tengah meningkatnya kebutuhan listrik dan tantangan ketahanan energi global. Kawasan Asia Tenggara dinilai memiliki potensi besar untuk membangun sistem distribusi energi yang saling terhubung guna mengurangi ketergantungan terhadap energi fosil serta mempercepat pemanfaatan energi baru terbarukan.
Selain memperluas jaringan dengan Filipina, Indonesia juga membuka peluang ekspor listrik bersih ke Singapura. Namun Bahlil menegaskan kerja sama tersebut harus memberikan manfaat yang adil bagi Indonesia, terutama terkait harga jual listrik yang akan diekspor.
“Untuk Singapura, kita juga akan ekspor tapi harganya harus cengli. Selama itu belum kita bicara tentang win-win, maka saya pikir penting untuk melakukan kajian yang lebih mendalam,” kata Bahlil.
Menurut dia, Indonesia memiliki posisi strategis dalam pengembangan energi bersih di kawasan ASEAN karena memiliki sumber daya energi terbarukan yang sangat besar, mulai dari tenaga air, panas bumi, tenaga surya, hingga energi angin. Potensi tersebut dinilai dapat menjadi modal penting dalam mendukung transisi energi regional menuju energi rendah emisi.
Rencana integrasi jaringan listrik kawasan juga mendapat perhatian Presiden Prabowo Subianto. Dalam berbagai kesempatan, Presiden menekankan pentingnya mempercepat pembangunan jaringan energi ASEAN untuk menghadapi tantangan global, termasuk ketidakstabilan geopolitik dan fluktuasi harga energi dunia.
Presiden Prabowo menyebut kawasan Brunei Darussalam-Indonesia-Malaysia-Philippines East ASEAN Growth Area (BIMP-EAGA) memiliki potensi besar dalam pengembangan energi baru terbarukan. Kawasan tersebut dinilai menyimpan sumber daya energi yang belum dimanfaatkan secara optimal.
Menurut Presiden, Borneo memiliki potensi besar dalam pengembangan tenaga air, sementara wilayah lain di kawasan ASEAN memiliki peluang pengembangan energi surya dan tenaga angin yang dapat mendukung kebutuhan listrik regional.
“Pertanyaannya adalah apakah kita siap untuk bertindak berdasarkan potensi tersebut. Bukan hanya untuk memenuhi kebutuhan subregional kita, tetapi juga untuk berkontribusi pada transisi energi ASEAN,” ujar Prabowo.
Ia juga mendorong langkah konkret dalam mempercepat pengembangan proyek energi bersih lintas negara, termasuk pengembangan tenaga air di Kalimantan, perluasan proyek tenaga surya di Palawan, Filipina, hingga pemanfaatan energi angin di kawasan pesisir.
Menurut Presiden, integrasi energi kawasan tidak hanya berkaitan dengan pasokan listrik, tetapi juga menjadi bagian penting dalam memperkuat ketahanan ekonomi ASEAN di tengah dinamika global yang semakin kompleks.
Indonesia sendiri saat ini tengah mempercepat pembangunan infrastruktur energi baru terbarukan sebagai bagian dari target transisi energi nasional. Pemerintah menargetkan peningkatan kapasitas pembangkit listrik berbasis energi bersih secara bertahap untuk mengurangi ketergantungan terhadap batu bara dan bahan bakar fosil.
Prabowo mengatakan Indonesia memiliki potensi besar dalam pengembangan tenaga surya yang dapat dimanfaatkan untuk mendukung kebutuhan listrik domestik maupun regional. Pemerintah bahkan menargetkan pengembangan energi surya hingga mencapai kapasitas 100 gigawatt dalam beberapa tahun mendatang.
“Kecepatan penuh, tenaga surya 100 GW, ajak teman-teman kita, tingkatkan infrastruktur energi kita, kita memiliki potensi,” ujar Presiden.
Pengembangan jaringan listrik lintas negara seperti Trans Borneo Power Grid juga dinilai dapat membantu stabilitas pasokan energi di kawasan ASEAN. Melalui sistem interkoneksi, negara-negara anggota dapat saling mendukung ketika terjadi kekurangan pasokan listrik atau gangguan energi di wilayah tertentu.
Selain memperkuat ketahanan energi, kerja sama tersebut juga dinilai berpotensi menekan biaya produksi listrik karena negara-negara ASEAN dapat memanfaatkan sumber energi yang paling efisien dari masing-masing wilayah.
Bagi Indonesia, keterhubungan jaringan listrik regional juga membuka peluang baru dalam pengembangan industri energi hijau. Dengan kapasitas energi terbarukan yang besar, Indonesia berpotensi menjadi salah satu pemasok listrik bersih utama di kawasan Asia Tenggara.
Namun pemerintah menegaskan setiap kerja sama energi internasional harus tetap mempertimbangkan kepentingan nasional, termasuk soal harga jual energi, keamanan pasokan domestik, dan keberlanjutan investasi infrastruktur.
Saat ini pembahasan terkait perluasan jaringan Trans Borneo Power Grid masih terus berlangsung bersama negara-negara terkait. Integrasi Filipina ke dalam jaringan tersebut diharapkan dapat memperkuat konektivitas energi ASEAN sekaligus mempercepat transformasi kawasan menuju sistem energi yang lebih bersih, efisien, dan berkelanjutan.





