MAKASSAR, KOMPAS - Pemerintah Perancis melalui kedutaan besar di Indonesia merancang program kemitraan sastra jangka panjang. Inisiatif itu nantinya dilanjutkan dalam berbagai model jembatan kemitraan, mulai dari penulisan, residensi, hingga penerjemahan. Diharapkan, program ini terus berkesinambungan hingga sastra di kedua negara terus memberi sumbangsih untuk dunia.
Duta Besar Perancis untuk Indonesia Fabien Penone menuturkan, untuk pertama kalinya pemerintah Indonesia terlibat aktif dalam festival sastra Makassar International Writers Festival, di Makassar, Sulawesi Selatan. Ide besarnya adalah kerja sama jangka panjang dalam bidang sastra dengan berbagai bentuk dan momentum.
“Hal yang penting adalah menghindari inisiatif acara yang hanya sekali jalan. Jika ingin sukses, anda perlu membangun kemitraan jangka panjang. Bagaimana caranya? Menemukan mitra dialog lokal bagi kami, menentukan bersama, mendanai bersama. Jadi, kami sekarang membawa lebih banyak institusi Prancis ke bidang sastra, bidang sinema, atau lembaga budaya apa pun,” terang Fabien, Jumat (15/5/2026) jelang sore, saat mengunjungi redaksi Kompas di Makassar.
Selain Fabien, delegasi Prancis terdiri dari penulis sekaligus Presiden Académie Goncourt, Philippe Claudel. Juga hadir Karina Hocine, editor dan sekretaris jenderal dari penerbit asal Prancis Éditions Gallimard, serta sejumlah delegasi lainnya. Melalui dialog lintas bangsa ini, pemerintah berharap dapat menentukan ulang koordinat relasional yang lebih erat antara penulis, penerbit, dan pembaca dari kedua negara.
Menurut Fabien, kemitraan jangka panjang ini bisa ditempuh dalam berbagai medium. Selain diskusi dan telaah sastra bersama, juga ada inisiatif residensi menulis, hingga residensi penerjemahan. Penerjemahan menjadi penting karena menentukan kualitas dari sebuah buku bisa dicerna dan diserap sesuai konteks penulis.
Buku, serta sastra secara luas, terang Fabien, adalah salah satu media terbaik untuk mendorong orang saling bertemu. Bagi pemerintah Perancis, ini adalah salah satu cara untuk menjelajahi Indonesia dari kisah-kisah yang dituliskan. “Dan kami berharap hal yang sama akan terjadi pada para pembaca di sini saat menemukan dan memahami realitas Prancis ini melalui novel-novel Prancis kontemporer,” ucapnya.
Lebih penting lagi, adalah membangun kolaborasi bersama para pembaca muda. Di festival MIWF Makassar, gairah anak muda membuncah. Generasi muda berpikiran terbuka antusias dengan diskusi sastra, ikut terlibat aktif, dan membangun gerakan bersama.
“Tahun lalu ketika Presiden Macron melakukan kunjungan kenegaraan ke Indonesia, kedua pemimpin kita membuat apa yang Anda sebut deklarasi Borobudur, pada dasarnya bersama-sama menyentuh ekonomi warisan budaya untuk menciptakan peluang bisnis. Tetapi di atas semua itu, pada situasi yang sangat tegang, dengan dunia yang sangat terpecah, kita perlu berbicara bersama,” katanya.
Ia melanjutkan, “di saat itu, Prancis dan Indonesia, negara dari utara dan negara dari selatan, bekerja sama memberikan sinyal politik yang sangat penting bagi seluruh dunia. Dan saya pikir sastra, seni, secara umum, dapat membantu membangun jembatan ini antara kedua negara kita, di antara Perserikatan Bangsa-Bangsa kita.”
Presiden Académie Goncourt, Philippe Claudel menjabarkan, ada keinginan dan energi nyata untuk membangun hubungan erat yang intens di bidang sastra antara Indonesia dan Prancis. Hal itu dilakukan dengan memberikan kesempatan kepada generasi muda, kepada seluruh rakyat Indonesia untuk mengenal lebih baik negara Prancis, begitu juga sebaliknya bagi masyarakat Prancis untuk bekerja sama dengan Indonesia dalam kemitraan nyata.
“Ini pertama kalinya saya diundang ke Makassar International Writers Festival, tetapi ini kedua kalinya saya ke sini… Dan sejak kemarin saya mengamati festival ini, dan saya sangat senang sekaligus terkejut melihat penontonnya, terutama penonton muda. Ada gairah di sana, Anda tahu, dan saya merasa betapa pentingnya bagi anak-anak muda dari Makassar untuk datang ke festival, mendengarkan para penulis, berpartisipasi dalam lokakarya, dan menemukan cara berpikir atau cara merasakan yang baru,” katanya.
Meski begitu, untuk saat ini memang belum cukup banyak penulis Indonesia yang diterjemahkan ke dalam bahasa Prancis, dan penulis Prancis yang diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Oleh karena itu, kerja sama ke depan harus berada di jalur tersebut. Terlebih lagi, menemukan sastra kontemporer yang relevan dengan situasi saat ini.
Tidak hanya itu, Philippe berharap agar setelah festival berlangsung berbagai inisiatif yang berbeda ini bisa membangun hubungan mendalam. “Dan pesan saya untuk generasi muda adalah jangan biarkan siapa pun menentukan takdirmu. Kamulah pemilik takdirmu sendiri. Penting untuk membaca, menonton film, mempertimbangkan pemikiran, untuk setiap hari memiliki nilai kemanusiaan. Dan saya berharap dengan bantuan sastra, film, dengan berbagai seni yang berbeda, kita bisa menjadi lebih baik dari hari ke hari. Lebih sadar akan takdir bersama kita, dan sadar bahwa kita memiliki kekuatan. Mungkin bukan mengubah dunia sepenuhnya, tetapi membangun dunia bersama-sama,” tuturnya.
Coorporate Communication Director Kompas Gramedia Glory Oyong menyebutkan, kerjasama Indonesia dan Perancis ini diharapkan terus berlanjut dalam berbagai medium dan format. Hal ini untuk menunjang kesusateraan dan dunia kepenulisan di kedua negara.
Ke depannya, diharapkan ada pertukaran nashkah dari penulis Indonesia yang diterbitkan di Perancis, begitu pula sebaliknya. Saat ini, misalnya satu buku dari penulis Perancis telah diterbitkan oleh Gramedia Pustaka Utama di Indonesia.
“Salah satu alasan kedutaan Besar Perancis datang dalam helatan ini adalah mempertemukan penerbit Perancis dengan penulis-penulis bertalenta Indonesia. Kami berharap agar kerjasama ini terus berlanjut dalam berbagai bentuk dan medium jangka panjang untuk pengembangan sastra dan kebudayaan di tanah air,” ujarnya.
Helatan MIWF 2026 sendiri berlangsung selama empat hari, yaitu 14-17 Mei 2026. Kegiatan ini menghadirkan 144 program diskusi, pertunjukan, lokakarya, hingga kolaborasi lintas negara yang dipusatkan di Benteng Rotterdam.
Sementara itu, Wali Kota Makassar Munafri Arifuddin saat membuka helatan MIWF 2026, Kamis (14/5/2026) malam menuturkan, pemerintah kota ingin hadir sebagai mitra bagi komunitas, seniman, dan pegiat sastra untuk bersama-sama membangun ruang kebudayaan yang terbuka bagi semua kalangan. Ia menilai kehadiran delegasi internasional dalam pembukaan MIWF menjadi bukti bahwa festival tersebut semakin diperhitungkan dalam jejaring sastra dunia dan membawa nama Makassar ke panggung internasional.





