Uni Emirat Arab (UEA) membantah keras tuduhan Iran yang menyebut Abu Dhabi terlibat dalam agresi militer Amerika Serikat (AS) dan Israel terhadap Teheran. Bantahan itu disampaikan diplomat senior di Kementerian Luar Negeri UEA, Khalifa bin Shaheen Al Marar, saat menghadiri pertemuan tingkat menteri luar negeri negara-negara anggota BRICS di New Delhi, India, Jumat (15/5).
Dalam pernyataan resmi Kemlu UEA, Al Marar menegaskan negaranya menolak seluruh tuduhan yang dilontarkan Iran. "Yang Mulia (Presiden UEA, Syekh Mohamed bin Zayed Al Nahyan/MBZ) menegaskan penolakan sepenuhnya UEA atas tuduhan Iran," demikian pernyataan Kemlu UEA, dikutip pada Sabtu (16/5).
Al Marar juga menegaskan, UEA tidak akan menerima ancaman ataupun tekanan yang dinilai dapat memengaruhi kebijakan luar negeri dan keputusan nasional negara tersebut. Menurut dia, UEA memiliki hak penuh untuk mempertahankan diri sebagai negara berdaulat.
"UEA memiliki hak kedaulatan, hukum, diplomatik, dan militer secara penuh untuk merespons ancaman, tuduhan, atau tindakan permusuhan apa pun," ujar Al Marar.
Pernyataan itu muncul sehari setelah Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, menuding UEA terlibat langsung dalam operasi militer AS-Israel terhadap Iran. Teheran melihat Abu Dhabi juga tidak pernah mengecam serangan AS dan Israel ke Iran, bahkan menyebut UEA mengizinkan wilayahnya digunakan untuk melancarkan operasi militer.
UEA menolak tuduhan tersebut dan menegaskan tidak membutuhkan perlindungan dari pihak luar. Dalam forum BRICS, Al Marar mengatakan negaranya mampu menjaga keamanan nasional serta mempertahankan integritas wilayahnya sendiri.
Menurut kantor berita WAM, Al Marar juga mengecam segala upaya untuk membenarkan serangan terhadap UEA maupun negara-negara lain di kawasan. Ia menyebut tindakan tersebut bertentangan dengan Piagam Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), hukum internasional, dan prinsip hubungan bertetangga yang baik.
Selain itu, Al Marar menuding Iran telah mengganggu jalur pelayaran internasional melalui penutupan efektif Selat Hormuz. Ia bahkan menyebut penggunaan jalur laut strategis itu sebagai alat tekanan sebagai "tindakan pembajakan".
Dalam keterangannya, Al Marar mengklaim UEA telah mencegat hampir 3.000 rudal balistik, rudal jelajah, dan pesawat nirawak sejak 28 Februari, ketika perang antara AS-Israel melawan Iran mulai meluas dan menyerang sejumlah fasilitas sipil serta infrastruktur penting di kawasan.
Ketegangan di Timur Tengah meningkat sejak AS dan Israel melancarkan serangan terhadap Iran pada akhir Februari lalu. Serangan tersebut memicu aksi balasan Iran terhadap Israel dan berbagai fasilitas militer AS di kawasan Teluk.
Eskalasi konflik turut berdampak pada jalur perdagangan energi global setelah Selat Hormuz, jalur utama distribusi minyak dan gas dari Teluk Persia, sempat ditutup. Penutupan itu memicu kekhawatiran pasar internasional terhadap gangguan pasokan energi dunia.
Meskipun gencatan senjata mulai berlaku pada awal April melalui mediasi Pakistan, perundingan lanjutan belum menghasilkan kesepakatan permanen. Presiden AS Donald Trump kemudian memperpanjang gencatan senjata tersebut tanpa batas waktu.




:strip_icc()/kly-media-production/medias/5750034/original/052497000_1778650297-tahun-ini-polri-targetkan-tangani-916-kasus-korupsi.jpg)