Beirut: Kelompok Hizbullah mengumumkan telah melancarkan 33 serangan terhadap pasukan dan posisi militer Israel di Lebanon selatan dalam 24 jam terakhir.
Dalam pernyataan pada Jumat kemarin, Hizbullah menyebut serangan tersebut sebagai respons atas dugaan pelanggaran gencatan senjata yang terus dilakukan Israel, termasuk serangan terhadap warga sipil dan wilayah di Lebanon selatan.
Dilansir dari Anadolu, Sabtu, 16 Mei 2026, Hizbullah mengatakan serangan menargetkan konsentrasi pasukan serta kendaraan militer Israel di Rashaf, Qouzah, dan Hadatha. Kelompok itu mengklaim menggunakan drone, roket, dan artileri untuk menyerang buldoser militer dan pasukan Israel di Rashaf.
Selain itu, barak militer Liman dan Kiryat Shmona juga disebut menjadi sasaran serangan drone. Sementara posisi militer Israel di Qouzah dan Hadatha diklaim dihantam roket dan artileri secara tepat sasaran.
Di sisi lain, militer Israel sebelumnya menetapkan wilayah utara Rosh Hanikra dan Achziv sebagai zona militer tertutup akibat memburuknya situasi keamanan.
Keputusan tersebut diambil setelah sirene serangan udara beberapa kali berbunyi menyusul infiltrasi drone dan peluncuran roket dari Lebanon selatan.
Dalam beberapa pekan terakhir, penggunaan drone serat optik oleh Hizbullah disebut menjadi perhatian serius bagi Israel karena lebih sulit dideteksi sistem pertahanan udara.
Pada akhir April lalu, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengakui ancaman rudal dan drone Hezbollah menjadi tantangan besar bagi keamanan Israel.
Netanyahu juga meminta militer Israel segera menemukan solusi pertahanan yang lebih efektif untuk menghadapi ancaman tersebut. (Kelvin Yurcel)
Baca juga: Gencatan Senjata Gagal, Konflik Israel dan Hizbullah di Lebanon Meluas Jadi Perang Terbuka




