Tumpukan kardus tersusun rapi di sudut rumah Nur (40), warga Kelurahan Srengseng, Jakarta Barat. Di sampingnya, botol-botol plastik, kaleng bekas, dan kemasan dupleks dipisahkan dalam kelompok-kelompok kecil. Tak ada bau menyengat, tak ada kesan kumuh. Semua tertata.
Bagi Nur, benda-benda yang kerap dianggap tak berguna itu bukan sampah. Itu tabungan.
“Ini baru dua minggu ngumpulinnya,” katanya sambil menunjuk tumpukan kardus dan botol yang belum sempat ia setorkan ke Bank Sampah Bumi Lestari, Minggu (17/5).
Setiap hari, ia terbiasa memisahkan sampah rumah tangga sejak dari dapur. Kardus dilipat dan disimpan. Botol plastik dibersihkan. Kaleng bekas dikelompokkan sendiri. Sedikit demi sedikit, tumpukan itu membesar.
Sebagian berasal dari rumahnya sendiri. Sebagian lain datang dari orang-orang terdekat yang tahu kebiasaannya mengumpulkan sampah.
“Ada yang dikasih dari ibu besan saya, dari tetangga juga. Disatukan biar setorinnya macam-macam,” ujarnya.
Sebulan sekali, semua sampah itu dibawa ke Bank Sampah Bumi Lestari untuk ditimbang. Nilainya tidak selalu sama. Namun, hampir setiap setoran memberi tambahan pemasukan yang berarti.
“Minimal Rp 100 ribu lebih,” kata Nur.
Jumlah itu mungkin terdengar kecil bagi sebagian orang. Namun bagi Nur, uang dari sampah punya arti yang jauh lebih besar daripada sekadar nominal.
“Buat beli sayur, keperluan dapur,” ujarnya.
Dari tumpukan botol dan kardus bekas, Nur menemukan cara lain untuk menopang kebutuhan keluarganya.
Keikutsertaannya dalam bank sampah awalnya bukan semata karena nilai ekonomi. Ia ingin lingkungan tempat tinggalnya lebih bersih.
“Supaya warga mau buang sampah di tempatnya. Supaya bersih, supaya tidak ada sampah di mana-mana,” katanya.
Namun, seiring waktu, manfaat itu terasa berlapis. Rumah menjadi lebih tertata. Lingkungan lebih rapi. Di saat yang sama, sampah yang biasanya dibuang begitu saja justru bisa kembali dalam bentuk uang tunai.
Ketua Bank Sampah Bumi Lestari, Sukini (59), menyebut Nur sebagai salah satu nasabah paling aktif.
Di antara sekitar 80 nasabah yang terdaftar, Nur berada di peringkat kedua dalam jumlah setoran terbanyak.
“Setorannya sangat memuaskan. Dia salah satu nasabah paling aktif,” kata Sukini, Minggu (17/5).
Aktivitas memilah sampah kini telah menjadi rutinitas yang menyatu dengan kehidupan Nur. Apa yang dulu mungkin dianggap pekerjaan tambahan, kini menjadi kebiasaan harian yang ia jalani tanpa beban.
Ia tidak sendiri. Warga sekitar mulai ikut menitipkan sampah kepadanya. Ada yang membawa kardus bekas, ada yang menyerahkan botol plastik setelah dipakai. Sampah-sampah itu dikumpulkan, dipilah, lalu disatukan dalam satu tujuan, agar tetap bernilai.
Di lingkungan tempat Nur tinggal, perubahan itu terasa nyata. Sampah organik diolah menjadi kompos untuk tanaman warga. Ember cat dan galon bekas disulap menjadi pot-pot hijau yang berjajar di sepanjang gang. Bahkan ada kolam gizi yang dikelola warga, hasil penjualannya diputar kembali untuk membeli bibit ikan dan merawat tanaman.
Bagi Nur, semua itu berawal dari satu langkah sederhana: tidak lagi melihat sampah sebagai barang tak bernilai.
Ia berharap kebiasaan ini bisa terus tumbuh di lingkungannya.
“Supaya bank sampah ini sukses, aman, dan juga lingkungan jadi bersih,” katanya.
Di tangannya, kardus bekas bukan akhir dari sebuah barang. Botol plastik bukan sekadar limbah. Semua bisa berubah menjadi sesuatu yang berguna. Menjadi uang belanja.
Menjadi harapan kecil yang dikumpulkan sedikit demi sedikit, dari sampah yang tak lagi dibuang.





