Pertemuan tingkat tinggi antara Xi Jinping Presiden China dan Donald Trump Presiden Amerika Serikat (AS) di Beijing mendapat sorotan luas dari lembaga internasional, pelaku bisnis, hingga pengamat ekonomi global.
Pertemuan kedua pemimpin negara dengan ekonomi terbesar di dunia itu dinilai menjadi momentum penting untuk meredakan ketegangan geopolitik sekaligus memperkuat optimisme pemulihan ekonomi global.
Kunjungan kenegaraan Donald Trump ke China yang berakhir pada Jumat (15/5/2026), disebut membawa harapan baru bagi stabilitas perdagangan internasional, rantai pasokan global, dan iklim investasi dunia.
Julie Kozack Direktur Departemen Komunikasi Dana Moneter Internasional (IMF) mengatakan, hubungan yang lebih stabil antara Washington dan Beijing akan memberikan dampak positif tidak hanya bagi kedua negara, tetapi juga bagi ekonomi global secara keseluruhan.
“Apa pun yang membantu mengurangi ketegangan dan ketidakpastian perdagangan adalah hal yang baik bagi dua ekonomi besar tersebut dan juga bagi ekonomi global,” ujar Julie dikutip dari Antara, Minggu (17/5/2026).
Bruce McLaughlin CEO Sinogie Consulting Group Australia menilai hubungan China-AS memiliki pengaruh besar terhadap stabilitas ekonomi kawasan Asia-Pasifik dan pasar internasional.
Menurutnya, hubungan bilateral kedua negara tidak hanya berdampak pada perdagangan dan investasi, tetapi juga menentukan tingkat kepercayaan pasar global serta kelancaran rantai industri dan pasokan internasional.
“Stabilitas global akan semakin bergantung pada pengaturan perdagangan dan investasi yang terbuka, stabil, dan berbasis aturan,” kata McLaughlin.
Ia menambahkan, pertemuan Xi Jinping dan Donald Trump dapat membuka peluang baru bagi negara-negara lain untuk memperkuat kerja sama ekonomi dan memperluas jaringan rantai pasokan global.
Bagi dunia usaha, khususnya di kawasan Asia-Pasifik dan Australia, hubungan China-AS yang lebih kondusif diyakini mampu menekan biaya akibat fragmentasi rantai pasokan serta meningkatkan kepercayaan investor.
Sementara itu, Tom Watkins mantan penasihat Pusat Inovasi Michigan-China mengatakan, dunia membutuhkan stabilitas dan kepastian agar investasi global dapat tumbuh secara sehat.
“Baik masyarakat AS maupun China, serta para pemimpin dunia, tidak menyukai ketidakstabilan dan ketidakpastian, karena investasi cenderung mengarah pada prediktabilitas dan stabilitas,” ujarnya.
Watkins juga menilai China dan Amerika Serikat memiliki peluang besar memperkuat kolaborasi di sektor strategis, termasuk kecerdasan buatan (AI), teknologi hijau, dan penanganan perubahan iklim.
Menurut dia, kerja sama di bidang tersebut penting untuk memastikan perkembangan teknologi berjalan aman sekaligus memberi manfaat luas bagi masyarakat global.
Dampak positif dari membaiknya hubungan Beijing-Washington juga dirasakan negara-negara berkembang, termasuk di kawasan Afrika. (ant/saf/ham)




