Kementerian Haji dan Umrah Republik Indonesia (Kemenhaj RI) telah memberangkatkan Musyrif Diny pada pelaksanaan haji 2026. Istilah Musyrif Diny sebelumnya dikenal dengan istilah Mustasyar Diny.
Dikutip dari Breaking News Metro TV, Ketua Musyrif Diny Haji 2026, KH Cholil Nafis, menjelaskan bahwa kehadiran 31 personel Musyrif Diny yang tersebar di berbagai sektor bertujuan untuk menyamakan persepsi keibadahan dan meminimalisasi perdebatan di lapangan.
"Tentu kita membantu pemerintah untuk menjamin bahwa pelaksanaan ibadah haji itu sesuai dengan ajaran Islam. Kita juga ingin menghilangkan perdebatan-perdebatan berkenaan seputar rukun, wajib, maupun sunah haji karena rawan jidal (perdebatan) yang mengganggu kekhusyukan," ujar KH Cholil Nafis.
Tiga Skema Mabit di Muzdalifah
Salah satu titik paling krusial yang diantisipasi oleh tim Musyrif Diny adalah fase bermalam (mabit) di Muzdalifah pasca-Wukuf di Arafah. Menimbang kepadatan massa dan faktor kesehatan jemaah, Cholil membeberkan tiga skema pergerakan yang akan diterapkan secara ketat berdasarkan rekomendasi tim medis:
- Mabit Adi (Reguler): Jemaah turun dari bus di Muzdalifah untuk beriktikaf, berzikir, dan mengambil batu kerikil secara normal hingga melewati tengah malam sebelum bergerak ke Mina.
- Mabit Murur: Jemaah tetap berada di dalam bus saat sampai di Muzdalifah hingga melewati waktu tengah malam, lalu bus langsung melanjutkan perjalanan menuju Mina tanpa turun.
- Murur Khusus (Tanpa Mabit): Skema khusus bagi jemaah lansia, sakit, dan risiko tinggi (risti). Bus yang mengangkut kelompok uzur ini hanya akan melintasi kawasan Muzdalifah tanpa berhenti dan langsung menuju Mina demi menghindari risiko fatal.
Baca Juga :
Jelang Puncak Haji 2026, 86% Jemaah Indonesia Tiba di MakkahKementerian Haji juga memberikan kepastian hukum syariah bagi jemaah yang dipanggil oleh Allah SWT sebelum sempat melaksanakan wukuf.
"Bagi jemaah haji yang wafat sebelum pelaksanaan wukuf, itu juga mereka dibadalkan hajinya. Badal haji itu digantikan oleh orang yang sudah pernah melaksanakan ibadah haji. Jadi aspek kesempurnaan dan ketercapaian ibadah pun dijamin oleh penyelenggara," jelas Cholil.
Cholil turut memberikan peringatan keras terkait maraknya penggunaan ponsel pintar oleh jemaah untuk konten di media sosial.
"Hati-hati menggunakan handphone-nya. Jangan sampai menyuting hal-hal yang dilarang seperti privasi orang, mengiklankan di depan Masjidil Haram, bahkan untuk kepentingan flexing atau sekadar pamer. Karena itu akan menghilangkan pahala ibadahnya atau menjauhkan dari kemabruran haji akibat menimbulkan rasa ria," tegasnya.




