Konflik Iran Belum Reda, Harga Minyak Diproyeksi Tetap Tinggi

idxchannel.com
6 jam lalu
Cover Berita

Harga minyak dunia diperkirakan masih bertahan tinggi dalam beberapa hari ke depan di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik antara AS dan Iran.

Konflik Iran Belum Reda, Harga Minyak Diproyeksi Tetap Tinggi. (Foto: Magnific)

IDXChannel - Harga minyak dunia diperkirakan masih bertahan tinggi dalam beberapa hari ke depan di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat (AS) dan Iran.

Pelaku pasar berspekulasi harga minyak mentah dapat bergerak di kisaran USD93 hingga USD107 per barel.

Baca Juga:
Prospek Sektor Batu Bara di Tengah Krisis LNG dan El Niño

Pergerakan tersebut terjadi setelah harga minyak melonjak lebih dari 3 persen pada perdagangan Jumat (15/5/2026), dipicu memudarnya harapan tercapainya kesepakatan untuk mengakhiri serangan dan penyitaan kapal di sekitar Selat Hormuz.

Kontrak berjangka (futures) Brent ditutup di level USD109,26 per barel, naik 3,35 persen. Sementara itu, futures WTI AS berakhir di USD105,42 per barel atau melonjak 4,2 persen.

Baca Juga:
UNTR-AUTO Kompak Guyur Dividen Final Hari Ini, Cek Rekening

Sepanjang pekan lalu, Brent telah menguat 7,8 persen dan WTI melesat 10,5 persen seiring meningkatnya kekhawatiran pasar terhadap rapuhnya gencatan senjata dalam konflik Iran.

Analis menilai harga minyak masih berpotensi bergerak tinggi karena pasar terus memantau perkembangan hubungan AS-Iran yang kembali memanas.

Baca Juga:
Mogok Massal Samsung, Kerugian Bisa Tembus Rp1.100 Triliun

Meski demikian, kenaikan harga diperkirakan tidak berlangsung dalam satu arah secara terus-menerus karena aksi ambil untung masih berpotensi terjadi.

Menurut analis Daily Forex, Robert Petrucci, minyak WTI terlihat akan mempertahankan level tinggi dalam beberapa hari ke depan. Namun, kata dia, pelaku pasar juga perlu mengingat bahwa harga minyak tidak selalu bergerak naik tanpa koreksi.

Dalam catatan Petrucci, disebutkan harga WTI sempat bertahan di sekitar USD105 per barel pada April lalu ketika ancaman geopolitik memuncak.

Bahkan, harga pernah menyentuh area USD112 per barel pada Maret akibat kekhawatiran pasar terhadap situasi yang belum pasti.

Kini, pelaku pasar dinilai mulai mencoba menghitung skenario terburuk apabila konflik dengan Iran kembali memburuk, termasuk risiko gangguan lebih besar terhadap distribusi energi global.

Sentimen pasar semakin negatif setelah Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araqchi mengatakan Iran tidak percaya kepada AS dan hanya bersedia bernegosiasi jika Washington benar-benar serius.

Araqchi menegaskan Iran siap kembali berperang, namun tetap membuka peluang penyelesaian diplomatik.

Di sisi lain, Presiden AS Donald Trump mengatakan kesabarannya terhadap Iran mulai habis. Trump juga menyebut telah sepakat dengan Presiden China Xi Jinping bahwa Iran tidak boleh memiliki senjata nuklir dan harus membuka kembali Selat Hormuz.

Selat Hormuz merupakan jalur vital perdagangan energi dunia. Sekitar seperlima pasokan minyak dan gas alam cair global melintasi kawasan tersebut, termasuk ekspor dari Arab Saudi, Irak, dan Qatar.

Meski Xi tidak memberikan komentar langsung terkait pembicaraannya dengan Trump mengenai Iran, Kementerian Luar Negeri China menegaskan konflik tersebut seharusnya tidak perlu terus berlanjut.

“Konflik ini, yang seharusnya tidak pernah terjadi, tidak memiliki alasan untuk terus berlanjut,” tulis pernyataan kementerian tersebut. (Aldo Fernando)


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Teguran Keras Presiden Prabowo dan Praktik Aparat yang Jadi Beking Kejahatan
• 19 jam lalukompas.id
thumb
Dedi Mulyadi Salut dengan Bocah Penjual Kue Ini, Dagangannya Langsung Diborong dan Banjir Pesanan
• 7 jam lalutvonenews.com
thumb
Imigrasi Soekarno-Hatta Tunda Keberangkatan 89 Calon Haji Nonprosedural
• 16 jam lalupantau.com
thumb
Di Rakernas SOKSI, Bahlil Tegaskan Tolak Dikotomi di Internal Golkar
• 23 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Jelang Puncak Haji 2026, KH Cholil Nafis Beberkan 3 Skema Mabit di Muzdalifah
• 15 jam lalumetrotvnews.com
Berhasil disimpan.