JAKARTA, KOMPAS.com - Aroma gula merah yang meleleh dari kukusan panas menyeruak dari gerobak kaca bercat hijau di sudut Pasar Bukit Duri, Tebet, Jakarta Selatan.
Aroma manis bercampur kelapa parut itu berasal dari dodongkal, jajanan tradisional yang masih bertahan di tengah gempuran dessert kekinian.
Makanan berbahan tepung beras, gula merah, dan kelapa parut itu rupanya tetap memiliki tempat di hati masyarakat.
Baca juga: Suswono Jalan-jalan ke Sarinah, Beli Kue Jadul dan Jersey Timnas
Di tengah menjamurnya toko roti dan kue modern, gerobak dodongkal milik Sunatana (38) tak pernah benar-benar sepi pembeli.
Sunatana mengaku sudah tujuh tahun berjualan dodongkal di Pasar Bukit Duri.
Selain di lokasi tersebut, dodongkal buatannya juga dijual di kawasan Halim dan Pondok Gede.
Pernah Ramai hingga Pembeli Mengantre
Menurut Sunatana, menjual kue tradisional bukan perkara mudah. Tantangan terbesar datang dari perubahan minat pasar.
“Paling ramai itu sekitar tahun 2017, waktu itu sampai antre dan jarang kami bisa santai,” kata Sunatana saat ditemui Kompas.com di lokasi, Jumat (15/5/2026) sore.
Ia mengatakan, saat itu dodongkal kembali populer sehingga banyak orang membeli untuk mengobati kerinduan terhadap jajanan jadul.
Namun, seiring waktu, semakin banyak pedagang serupa bermunculan sehingga persaingan makin ketat.
Meski tak lagi seramai dulu, Sunatana bersyukur dodongkal masih diminati, termasuk oleh kalangan muda.
Baca juga: Walaupun Ada Roti Kekinian, Dagangan Kue Bantal Saya Tetap Habis
“Alhamdulillah masih bertahan di tengah makanan kekinian. Peminatnya rata-rata anak muda juga banyak,” sambung dia.
Tak hanya pembeli perorangan, Sunatana juga kerap menerima pesanan dari pekerja kantoran untuk acara syukuran, arisan, hingga pertemuan keluarga.
Untuk memenuhi kebutuhan pelanggan, ia menyediakan beberapa pilihan paket. Paket standar dijual mulai Rp 15.000 hingga Rp 30.000.