Waktu yang Melar: Waktu Itu Melar Seperti Karet

kumparan.com
5 jam lalu
Cover Berita

Pada 20 November 2021, Beatriz Flamini turun ke gua sedalam 70 meter di Granada. Bukan tersesat. Ia sedang menjalani proyek Timecave—riset neuropsikologi dan kronobiologi Universitas Granada dan Almería. Misi ekstrem: menguji ketahanan otak manusia untuk persiapan misi Mars.

Ketika ditarik keluar pada 14 April 2023, setelah 500 hari tanpa ponsel, jam, dan matahari, ia berkata: “Rasanya baru 160 hari.” Waktu melar hampir tiga kali lipat. Otak kehilangan kompas begitu dicabut dari tanda-tanda alam.

Gua memang selalu tempat waktu berkhianat. Al-Qur’an sudah merekamnya dalam kisah Ashabul Kahf. Tujuh pemuda tertidur 309 tahun. Begitu terbangun, mereka berkata:

Seabad menyusut jadi sepagi. Sehari melar jadi sewindu. Adapun makna ayat tersebut adalah:

Dan demikianlah setelah kami tidurkan mereka dalam waktu yang lama dan Kami jaga mereka di dalam tidurnya itu, Kami bangunkan mereka agar di antara mereka saling bertanya tentang keadaan mereka. Salah seorang di antara mereka berkata, “Sudah berapa lama kamu berada di sini?” Mereka menjawab, “Kita berada (di sini) sehari atau setengah hari.”

Mereka mengira baru satu atau setengah hari di dalam gua, sebab mereka masuk ke dalam gua pada pagi hari dan bangun dari tidur pada sore hari. Melihat keadaan di dalam gua itu dan di sekitarnya berbeda dengan apa yang disaksikan dahulu, mereka ragu berapa lama tinggal di dalam gua. Maka timbullah perbedaan pendapat di antara mereka.

Kemudian berkata seorang di antara mereka, “Tak usah kita perdebatkan berapa lama kita di sini, Tuhanmu lebih mengetahui berapa lama kamu berada di sini."

Mereka merasa lapar maka salah seorang di antara mereka berkata, suruhlah salah seorang di antara kamu pergi ke kota untuk membeli makanan dengan membawa uang perakmu ini, dan hendaklah dia mencari tempat menjual makanan dan lihat manakah makanan yang lebih baik, maka belilah makanan itu dan bawalah sebagian makanan itu untukmu, dan hendaklah dia berlaku lemah lembut kepada siapa saja di kota itu dan jangan sekali-kali menceritakan halmu kepada siapa pun agar mereka tidak mengetahui keadaanmu dan tempatmu bersembunyi.

Einstein menyebutnya relativitas. Waktu elastis. Tidak berjalan sama bagi semua. Si A di bumi, si B melesat dengan roket secepat cahaya. Bagi si B, perjalanan hanya beberapa bulan. Saat kembali, si A sudah renta.

Apa Makna Semua Ini Bagi Hidup yang Riuh?

Orang Jawa punya filsafat kuno: urip iku mung mampir ngombe. Hidup hanya sekejap, seperti minum sebentar. Nabi Muhammad ﷺ bersabda:

Al-Qur’an menyindir umur manusia: “Perumpamaan kehidupan dunia itu ibarat air hujan... lalu tumbuhan itu menjadi kering diterbangkan angin.” (QS. Al-Kahf: 45). Dunia singkat bukan karena harinya sedikit, tapi karena dimensinya lekas fana.

Ketahuilah maksud ayat ini adalah: "Dan berilah perumpamaan kepada mereka, semua manusia, bahwa kehidupan dunia adalah seperti air hujan yang Kami turunkan dari langit, lalu menyirami tumbuh-tumbuhan maka bercampurlah dengannya tumbuh-tumbuhan di muka bumi, dengan siraman air, tumbuh-tumbuhan itu menjadi subur, kemudian tidak lama sesudah itu tumbuh-tumbuhan itu menjadi kering yang diterbangkan oleh angin. Dan adalah Allah Mahakuasa atas segala sesuatu. Dia Mahakuasa menyuburkan tumbuh-tumbuhan dan Mahakuasa pula menjadikannya layu dan kering kerontang. Demikianlah perumpamaan kehidupan dunia. Kesenangan dan kebahagiaan tidak kekal di dalamnya dan tidak berlangsung selama-lamanya."

Maka, hitungan akhirat—sehari setara 1.000 atau 50.000 tahun bumi—menjadi logis. Begitu sakaratul maut menjemput, jiwa keluar dari hukum ruang-waktu. Jam dinding meleleh tak berguna. Umur dunia yang kita bela-bela ini akan menguap, terasa tak lebih dari “setengah hari” yang melelahkan.

Kita sering sombong, menimbun harta seolah hidup abadi. Padahal, kita hanyalah Beatriz Flamini yang tersesat di “gua” dunia. Kelak, saat ajal menjemput, kita keluar menuju akhirat yang benderang. Baru sadar, tergagap: ternyata kita di dunia cuma mampir minum. Dan air di tenggorokan pun belum sempat tertelan habis.

Kehidupan dunia ini sangat singkat, diibaratkan seperti musafir yang mampir minum sejenak atau berteduh di bawah pohon. Harta dan kesombongan adalah ilusi yang sering melenakan. Saat ajal menjemput, manusia baru sadar bahwa dunia hanyalah persinggahan sementara, dan kehidupan yang kekal sesungguhnya berada di akhirat.

Hakikat Dunia Menurut Al-Qur'an

Allah SWT berulang kali menegaskan kefanaan dunia agar manusia tidak tertipu dan terlena oleh gemerlapnya.

Surat Al-An'am Ayat 32, "Dan kehidupan dunia ini hanyalah permainan dan senda gurau. Sedangkan negeri akhirat itu, sungguh lebih baik bagi orang-orang yang bertakwa. Tidakkah kamu mengerti?"

Pelajaran Hidup "Mampir Ngombe"

Ulama dan para sufi sering mengaitkan kehidupan ini dengan peribahasa "urip mung mampir ngombe" (hidup hanya mampir minum). Ketika seseorang merasa kehausan dan menemukan air, ia akan minum sejenak untuk menyambung tenaga, lalu segera melanjutkan perjalanan panjangnya.

Kutipan indah Anda mencerminkan kesadaran akan kematian yang mendadak—betapa ketika ajal datang, kesibukan menumpuk harta yang selama ini disombongkan terasa tidak ada artinya. Air di tenggorokan bahkan belum sempat tertelan habis karena waktu dunia yang telah usai.

Dunia ibarat pengendara yang berteduh.
Dari Sahabat Abdullah bin Mas’ud RA, Rasulullah SAW bersabda yang artinya:


Dalam riwayat lain, Nabi SAW bersabda: "Apalah aku ini? Aku dalam kehidupan di dunia ini bagaikan seorang pengendara yang berhenti sejenak untuk istirahat, bernaung di bawah pohon. Sesudah itu berangkat lagi dan meninggalkan pohon itu."

Perintah Menjadi Musafir
Dari Ibnu Umar RA, ia berkata: Rasulullah SAW memegang pundakku lalu bersabda, “Jadilah engkau di dunia ini seperti orang asing atau seorang musafir.” (HR. Bukhari).
Seorang musafir atau orang asing tidak akan membangun rumah megah di tempat persinggahannya karena ia tahu akan segera pulang.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Tiongkok Berkomitmen Beli Produk Pertanian AS Senilai Rp300 Triliun per Tahun
• 2 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Empat Kekhawatiran yang Mendera Pekerja Muda
• 1 jam lalukompas.id
thumb
Kementerian ESDM Sebut Indonesia Akan Impor Tabung Gas untuk CNG
• 53 menit lalukatadata.co.id
thumb
Diperintah Prabowo Lindungi Pekerja Migran, Begini Jurus Menteri P2MI
• 4 jam lalucnbcindonesia.com
thumb
Harga Saham Merosot, BEEF Umumkan Buyback Rp100 Miliar
• 7 jam laluidxchannel.com
Berhasil disimpan.