Nilai tukar rupiah masih berada di bawah tekanan pada perdagangan hari ini. Berdasarkan data Bloomberg pukul 11:26 WIB, rupiah melemah 77,50 poin atau 0,44 persen ke level Rp 17.674 per dolar AS.
Pelemahan mata uang rupiah juga terjadi di tengah tekanan pasar keuangan, dengan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dibuka melemah ke area 6.400.
Merespons kondisi tersebut, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menilai pelemahan rupiah dan tekanan di pasar saham lebih dipengaruhi sentimen jangka pendek, bukan karena pelemahan fundamental ekonomi domestik.
Pemerintah, kata dia, saat ini lebih fokus menjaga fondasi ekonomi agar pertumbuhan tetap berjalan dan tidak terganggu gejolak pasar.
“Nggak papa (rupiah melemah) nanti kita perbaiki. Sekarang pondasi ekonominya bagus itu masalah sentimen jangka pendek. Jadi saya fokus jaga pondasi ekonomi dengan memastikan pertumbuhan ekonomi tidak terganggu,” kata Purbaya kepada wartawan di Halim Perdana Kusuma, Senin (18/5).
Selain menjaga pertumbuhan ekonomi, pemerintah juga menyiapkan langkah untuk meredam tekanan di pasar keuangan melalui pasar obligasi. Purbaya mengatakan pemerintah mulai masuk lebih aktif ke pasar obligasi guna menjaga stabilitas harga surat utang.
Langkah tersebut diharapkan dapat menahan investor asing agar tidak melepas kepemilikan obligasi Indonesia karena kekhawatiran kerugian akibat penurunan harga.
“Nanti kita juga akan masuk ke bond market mulai hari ini. Imbal udah masuk tapi hanya sedikit mulai hari ini kita akan masuk lebih signifikan lagi sehingga pasar obligasi terkendali. Sehingga asing yang pegang obligasi nggak keluar karena takut misalnya ada capital loss karena harga obligasi turun. Itu akan bisa membantu pergerakan rupiah sedikit,” ujarnya.
Purbaya menjelaskan pelemahan rupiah saat ini dipicu berbagai sentimen pasar. Salah satunya, muncul anggapan bahwa kondisi ekonomi Indonesia berpotensi mengulang krisis 1997–1998.
Namun, menurut dia, situasi saat ini berbeda jauh dibandingkan periode krisis Asia tersebut. Saat itu Indonesia telah masuk fase resesi dan dibarengi ketidakstabilan sosial-politik, sementara kondisi saat ini dinilai masih relatif kuat.
“Ini banyak sentimen, kalau rupiah melemah seolah-olah kita akan bergerak seperti 97 98 lagi. Beda 97 98 itu kebijakannya salah dan instability sosial politik terjadi setelah setahun kita resesi. 97 pertengahan itu kita sudah resesi. Kita kan skrg belum resesi ekonomi masih tumbuh kencang jadi masih ada ruang untuk memperbaiki semua,” ucapnya.
Purbaya bahkan mencoba meredakan kekhawatiran pelaku pasar saham. Menurut dia, secara teknikal tekanan di pasar diperkirakan tidak berlangsung lama.
“Kalau saya lihat teknikalnya sehari dua hari udah balik. Jadi jangan lupa beli saham kira kira gitu,” katanya.
Sebelumnya, Purbaya juga mengungkapkan pemerintah tengah mempertimbangkan intervensi di pasar sekunder obligasi melalui skema stabilisasi pasar. Menurut dia, stabilitas harga obligasi menjadi penting untuk menjaga minat investor dan mengurangi risiko arus modal keluar.
Ia menilai ketika pasar obligasi lebih stabil, investor asing tidak akan terburu-buru melepas asetnya karena khawatir mengalami capital loss. Langkah itu juga diyakini dapat membantu menopang penguatan rupiah ke depan.





