Pemerintah Bakal Atur Harga Beras Fortifikasi Rp 17.500-Rp 18.000 Per Kilogram

kompas.id
14 jam lalu
Cover Berita

JAKARTA, KOMPAS — Peralihan produksi beras premium ke beras fortifikasi disinyalir turut memengaruhi kenaikan harga beras. Saat ini harga beras fortifikasi tembus di atas Rp 19.000 per kilogram, bahkan ada yang Rp 27.000 per kg. Untuk itu, pemerintah bakal mengatur harga beras fortifikasi pada kisaran Rp 17.500-Rp 18.000 per kg.

Beras fortifikasi adalah beras yang diperkaya dengan penambahan vitamin dan mineral penting, seperti zat besi, asam folat, zinc, dan B kompleks, untuk meningkatkan kualitas gizi. Badan Pangan Nasional (Bapanas) mengategorikan beras tersebut sebagai beras khusus.

Deputi I Bidang Ketersediaan dan Stabilisasi Pangan Bapanas I Gusti Ketut Astawa, Senin (18/5/2026), mengatakan, beberapa produsen beras disinyalir beralih memproduksi beras fortifikasi. Hal itu lantaran mereka tidak kuat masuk ke lini bisnis beras premium akibat tingginya harga gabah kering panen (GKP).

”Selama ini pemerintah tidak mengatur harga beras fortifikasi sehingga pasar dapat menentukan harganya secara bebas, bahkan ada yang sampai Rp 27.000 per kilogram,” ujarnya dalam Rapat Koordinasi Pengendalian Inflasi Daerah yang digelar Kementerian Dalam Negeri secara hibrida di Jakarta.

Bapanas akan mengatur harga beras fortifikasi berkisar Rp 17.500-Rp 18.000 per kilogram. Dengan begitu, selisih harga beras fortifikasi dengan harga beras premium tidak terlalu jauh.

Oleh karena itu, lanjut Ketut, Bapanas akan mengatur harga beras fortifikasi berkisar Rp 17.500-Rp 18.000 per kg. Dengan begitu, selisih harga beras fortifikasi dengan harga beras premium tidak terlalu jauh.

Bapanas telah dua kali merapatkan rencana pengaturan harga beras fortifikasi itu. Setelah nanti dilaporkan dan disetujui Kepala Bapanas, rencana kebijakan itu akan dibahas dan ditentukan dalam rapat koordinasi di tingkat Kementerian Koordinator Bidang Pangan.

Baca JugaBeras Fortifikasi untuk Penuhi Gizi Masyarakat

Ketut menambahkan, pemerintah tidak akan mengintervensi kenaikan harga GKP agar petani diuntungkan dan termotivasi untuk menjaga kelanjutan swasembada beras. Kendati demikian, pemerintah tetap akan meredam kenaikan harga beras melalui program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP), Gerakan Pangan Murah, dan Bantuan Pangan.

Per 17 Mei 2026, stok beras di Perum Bulog, termasuk cadangan beras pemerintah (CBP) sebanyak 5,3 juta ton. Realisasi penyaluran beras program SPHP pada awal Januari 2026 hingga 10 Mei 2026 mencapai 428.900 ton.

Adapun realisasi bantuan pangan berupa beras pada awal Januari 2026 hingga 8 Mei 2026 sebanyak 203.800 ton. Batuan itu telah disalurkan kepada 10,19 juta keluarga penerima manfaat (KPM) dari total sasaran 33,2 juta KPM.

Belum panen raya

Dalam rapat koordinasi itu, Badan Pusat Statistik (BPS) menyebut harga berbagai jenis beras masih terus merangkak naik hingga pekan kedua Mei 2026. BPS juga memaparkan penyebab kenaikan harga beras di sejumlah daerah.

Kepala BPS Amalia Adininggar Widyasanti menuturkan, harga rerata nasional berbagai jenis beras pada pekan kedua Mei 2026 senilai Rp 15.325 per kg. Harga beras itu naik 0,04 persen dibandingkan April 2026.

”Dalam sepekan, jumlah kabupaten/kota yang harga berasnya naik bertambah dari 105 daerah menjadi 111 daerah,” tuturnya.

Menurut Amalia, BPS telah mengumpulkan informasi tentang penyebab kenaikan harga beras di sejumlah daerah. Di Denpasar, Bali, misalnya, pada April 2026, tingkat inflasi beras sebesar 2,76 persen secara bulanan.

Kenaikan harga beras daerah itu dipicu oleh tingginya harga beras di tingkat distributor dari luar Bali. Selain itu, kenaikan harga beras juga dipengaruhi tingginya harga GKP di tingkat petani di sejumlah daerah di Bali.

BPS juga mencatat, beras di Kabupaten Kapuas, Kalimantan Tengah, mengalami inflasi sebesar 6,54 persen secara bulanan pada April 2026. Hal itu terjadi lantaran harga beras lokal, seperti siam unus, mayang catur, dan mayang anjir, naik akibat belum memasuki masa panen raya padi.

Baca JugaParadoks Beras

Bahkan, BPS menjumpai pasokan beras di Kabupaten Hulu Sungai Tengah, Kalimantan Selatan, menipis kendati petani daerah tersebut sudah mulai banyak yang panen padi. Hal itu terjadi lantaran banyak gabah dan beras yang keluar dari daerah itu sebelum puncak panen raya padi. Pada April 2026, tingkat inflasi bulanan beras di Hulu Sungai Tengah mencapai 3,7 persen.

Selain ketiga daerah itu, BPS juga memaparkan pasokan beras di Kabupaten Palangkaraya di Kalimantan Tengah dan Tanah Laut di Kalimantan Selatan juga menipis karena belum memasuki masa panen raya padi. Pada April 2026, tingkat inflasi bulanan beras di Palangkaraya dan Tanah Laut masing-masing sebesar 2,96 persen dan 2,76 persen.

”Panen raya padi di sejumlah daerah tersebut diperkirakan terjadi pada Mei dan Juni 2026,” kata Amalia.

Merujuk hasil Kerangka Sampel Area Padi Amatan Maret 2026, BPS memperkirakan produksi beras nasional pada Januari-Juni 2026 sebanyak 19,31 juta ton. Angka potensi produksi beras tersebut naik tipis sebesar 0,26 persen dibandingkan realisasi produksi beras pada Januari-Juni 2025 yang sebanyak 19,26 juta ton.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Masyarakat Desa Justru Paling Rentan Dampak Dollar Naik
• 17 jam laluharianfajar
thumb
Kronologi Bocah 11 Tahun di Riau Tewas Usai Disebut Kerasukan dan Diobati sang ART, Begini Akhirnya
• 16 jam lalugrid.id
thumb
Polsek Rejoso Pasuruan Gagalkan Pencurian Tabung Gas Melon, Pelaku Ternyata Residivis
• 17 jam laluberitajatim.com
thumb
Libur Panjang Idul Adha Mei 2026 Jadi 6 Hari, Berlanjut hingga 1 Juni
• 20 jam lalukompas.com
thumb
Usai Sensasi Comeback di Catalunya, Veda Pratama: Senang Finis di 10 Besar, Sampai Jumpa di Mugello
• 15 jam lalukompas.tv
Berhasil disimpan.