Jakarta: Menteri Keuangan (Meneku) Purbaya Yudhi Sadewa menolak anggapan yang menyamakan pelemahan nilai tukar rupiah saat ini dengan situasi krisis moneter yang terjadi pada 1998, karena fondasi ekonomi nasional saat ini masih sangat kokoh.
"Kalau rupiah melemah, seolah-olah kita akan bergerak seperti 1998 lagi. Beda, 1998 itu kebijakannya salah dan 'instability social-politic' terjadi setelah setahun kita resesi," kata Purbaya usai acara penyerahan sejumlah pesawat di Pangkalan TNI Angkatan Udara Halim Perdanakusuma Jakarta, dilansir Antara, Senin, 18 Mei 2026.
Ia menggambarkan, pada pertengahan 1997 Indonesia sudah mengalami resesi ekonomi, yang kemudian terjadi ketidakstabilan kondisi sosial politik dan memicu krisis moneter pada 1998.
Sedangkan pendapat Purbaya, kondisi domestik saat ini belum mengalami hal tersebut karena pertumbuhan ekonomi dinilai masih berjalan kencang. Menurut dia, situasi sekarang memberikan ruang yang cukup bagi pemerintah untuk memperbaiki seluruh indikator makro yang terdampak gejolak pasar global.
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa. Foto: dok MI/Susanto.
Baca Juga :
Ekonomi Tumbuh 5,61%, Purbaya: Daya Beli Tetap KuatTerkait penurunan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang menyentuh level 6.628 pada pembukaan pasar pagi ini, Menkeu menegaskan fluktuasi tersebut murni disebabkan oleh faktor sentimen jangka pendek. Pihaknya akan tetap fokus untuk menjaga fondasi perekonomian demi memastikan target pertumbuhan ekonomi nasional tidak terganggu oleh dinamika pasar keuangan.
Sebagai langkah konkret intervensi, Purbaya menyatakan pemerintah mulai hari ini masuk ke pasar obligasi dengan volume yang lebih signifikan. Langkah tersebut diambil guna mengendalikan pasar surat utang negara agar investor asing tidak melakukan aksi jual demi menghindari potensi kerugian modal (capital loss) akibat penurunan harga obligasi.
Ia juga mengimbau para pelaku pasar modal dan investor saham domestik untuk tidak panik menghadapi koreksi teknis yang sedang terjadi di lantai bursa.
"Jadi teman-teman nggak usah khawatir. Investor pasar saham, kalau saya bilang, jangan takut serok bawah sekarang. Kalau saya lihat tekniknya, sehari dua hari udah balik. Jadi jangan lupa beli saham," ujar dia.
Berdasarkan data pasar uang pada Senin pagi, nilai tukar rupiah bergerak melemah sebesar 33 poin atau 0,19 persen menjadi Rp17.630 per USD. Posisi tersebut menunjukkan penurunan dibandingkan dengan penutupan perdagangan sebelumnya yang berada di level Rp17.597 per USD.




