JAKARTA, KOMPAS.com - Ketua Badan Sosialisasi MPR Abraham Liyanto mengatakan, dewan juri untuk Lomba Cerdas Cermat (LCC) 4 Pilar tidak akan melibatkan unsur internal MPR lagi ke depannya.
Sebab, kata Abraham, dewan juri pada LCC 4 Pilar selanjutnya akan berasal dari pakar hukum tata negara.
"Dewan juri kita akan melibatkan pakar hukum tata negara di setiap provinsi," kata Abraham, dalam jumpa pers di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Senin (18/5/2026).
Selanjutnya, MPR juga meminta anggota MPR dari masing-masing dapil untuk hadir jika ada LCC 4 Pilar yang diselenggarakan di suatu provinsi.
Baca juga: Juri Cerdas Cermat 4 Pilar MPR Diberi Sanksi Sosial dan Tak Boleh Terlibat Lagi
Abraham menyebut, kehadiran anggota MPR diperlukan untuk memberikan semangat kepada anak-anak sekolah yang bertanding.
"Jadi, 732 anggota, apabila ada kegiatan lomba cerdas cermat itu di tingkat provinsi tersebut, maka semua anggota yang mewakili dapil itu kalau bisa hadir memberikan support, tetapi tidak boleh menjadi juri," ujar dia.
"Jurinya adalah pakar hukum tata negara di situ, atau dosen perguruan tinggi. Nah, akademisi, gitu," sambung Abraham.
Baca juga: Sahroni Ungkap Alasan Listyo Sigit Masih Dipertahankan Jadi Kapolri oleh Prabowo
Diketahui, polemik ini terjadi saat tim SMAN 1 Pontianak beradu dengan tim dari SMAN 1 Sambas di Lomba Cerdas Cermat 4 Pilar MPR RI tingkat Provinsi Kalimantan Barat.
Saat itu, ada pertanyaan mengenai "DPR dalam memilih anggota BPK, wajib memperhatikan pertimbangan dari lembaga mana?".
Awalnya, regu C yaitu SMAN 1 Pontianak, yang diwakili Ocha terlebih dahulu menjawab, namun dewan juri menyebut itu salah dan dikurangi 5 poin.
Baca juga: Alasan MPR Ulang Final LCC di Kalbar: Akui Ada Kekhilafan, Bakal Pakai Juri Independen
Kemudian regu B, yakni SMAN 1 Sambas menjawab jawaban yang sama, tapi malah mendapat tambahan 10 poin.
Meski regu C sudah protes, dewan juri menyebut kesalahan regu C adalah artikulasi.
Cuplikan saat mereka bertanding viral, netizen ikut kecewa sampai pihak MPR RI meminta maaf dan menawarkan pertandingan ulang.
Meski begitu, kedua sekolah sama-sama menolak final ulang, dan kini MPR memutuskan membatalkan pelaksanaan LCC ulang.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang