Tabung CNG Mini Segera Diuji Coba, Indonesia Berpotensi Jadi yang Pertama di Dunia

eranasional.com
8 jam lalu
Cover Berita

Jakarta, ERANASIONAL.COM –  Pemerintah melalui Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) terus mempersiapkan implementasi penggunaan Compressed Natural Gas (CNG) untuk kebutuhan rumah tangga sebagai alternatif pengganti Liquefied Petroleum Gas (LPG) 3 kilogram. Program tersebut menjadi bagian dari strategi diversifikasi energi nasional sekaligus upaya menekan ketergantungan terhadap impor LPG yang selama ini membebani anggaran negara melalui subsidi energi.

Kementerian ESDM saat ini mulai memasuki tahap awal pengembangan teknologi dan infrastruktur pendukung untuk mendukung penggunaan CNG di sektor rumah tangga. Salah satu langkah yang tengah dipersiapkan adalah pengadaan tabung CNG tipe 4 berukuran mini yang dirancang khusus untuk penggunaan rumah tangga kecil dengan kapasitas setara tabung LPG subsidi 3 kilogram.

Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi (Migas) Kementerian ESDM, Laode Sulaeman, mengatakan pemerintah menargetkan proses pemesanan awal atau first order tabung CNG dapat dilakukan dalam tiga bulan ke depan. Setelah tahap pemesanan dilakukan, pemerintah memperkirakan tabung pertama sudah bisa mulai diuji coba dalam waktu satu hingga dua bulan berikutnya.

“Jadi dari sisi timeline Insya Allah tiga bulan ke depan kita melakukan first order untuk tabung CNG tersebut. Lalu dalam satu sampai dua bulan setelah itu kita sudah ada tabung yang bisa diuji dulu,” ujar Laode dalam podcast yang ditayangkan melalui akun YouTube resmi Kementerian ESDM, Senin 18 Mei 2026.

Laode menjelaskan, tabung tipe 4 yang akan digunakan berbeda dengan tabung gas konvensional yang selama ini dipakai masyarakat. Tabung tersebut dibuat menggunakan material komposit yang lebih ringan namun memiliki daya tahan tinggi terhadap tekanan gas. Teknologi tipe 4 sendiri selama ini umum digunakan pada kendaraan berbahan bakar gas dan sistem penyimpanan gas bertekanan tinggi di sejumlah negara.

Meski demikian, pemerintah mengklaim konsep tabung CNG mini setara LPG 3 kilogram untuk rumah tangga belum pernah dikembangkan secara luas di dunia. Selama ini, tabung tipe 4 yang tersedia di pasar internasional umumnya memiliki ukuran besar atau setara tabung LPG nonsubsidi 12 kilogram.

Karena itu, Indonesia dinilai memiliki peluang menjadi negara pertama yang mengembangkan teknologi tabung CNG mini untuk kebutuhan rumah tangga berskala kecil. Pemerintah berharap inovasi tersebut nantinya tidak hanya memperkuat ketahanan energi nasional, tetapi juga membuka peluang industri baru di sektor manufaktur energi domestik.

“Jadi tabung ini memang belum ada di dunia untuk ukuran setara LPG tiga kilogram. Yang ada sekarang itu umumnya setara LPG 12 kilogram. Karena itu, pengembangannya memang memerlukan penyesuaian teknologi dan investasi yang cukup besar,” kata Laode.

Ia menjelaskan salah satu tantangan utama dalam pengembangan program tersebut adalah skala produksi tabung yang harus dilakukan dalam jumlah besar sejak tahap awal. Pemerintah menyebut produsen internasional menerapkan ketentuan minimum order dalam jumlah sangat besar untuk produksi tabung tipe 4.

Menurut Laode, pemesanan tabung tidak dapat dilakukan dalam jumlah kecil karena proses produksi membutuhkan investasi material dan manufaktur yang tinggi. Pemerintah memperkirakan pemesanan awal harus mencapai sedikitnya 100 ribu unit agar proyek dapat berjalan secara ekonomis.

“Untuk memesan material dan barangnya itu tidak bisa satuan. Harus dalam jumlah besar, minimum sekitar 100 ribu unit atau bahkan lebih. Itu sebabnya prosesnya tidak bisa instan,” ujarnya.

Pada tahap awal implementasi, Indonesia masih akan mengandalkan impor tabung dari luar negeri. Namun pemerintah menargetkan industri nasional nantinya mampu mengambil alih produksi apabila penggunaan CNG rumah tangga mulai berkembang dan permintaan pasar meningkat secara signifikan.

Pemerintah juga melihat proyek tersebut sebagai peluang untuk mendorong hilirisasi industri gas nasional. Jika penggunaan CNG rumah tangga berjalan masif, Indonesia tidak hanya berpotensi mengurangi impor LPG, tetapi juga dapat mengembangkan industri manufaktur tabung, sistem distribusi gas, hingga teknologi penyimpanan energi berbasis gas alam.

Selain itu, program konversi energi tersebut dinilai dapat membantu pemanfaatan gas bumi domestik yang selama ini belum optimal. Indonesia diketahui memiliki cadangan gas cukup besar, namun pemanfaatannya untuk kebutuhan rumah tangga masih relatif terbatas dibandingkan LPG yang sebagian besar pasokannya berasal dari impor.

Data pemerintah menunjukkan konsumsi LPG nasional terus meningkat setiap tahun, terutama untuk kebutuhan rumah tangga penerima subsidi. Sementara itu, produksi LPG domestik belum mampu memenuhi kebutuhan dalam negeri sehingga pemerintah harus melakukan impor dalam jumlah besar. Kondisi tersebut membuat anggaran subsidi energi terus mengalami tekanan, terutama ketika harga energi global meningkat.

Dengan memanfaatkan CNG sebagai substitusi LPG, pemerintah berharap ketergantungan terhadap impor dapat ditekan secara bertahap. Selain itu, penggunaan gas bumi domestik juga diharapkan mampu meningkatkan efisiensi anggaran subsidi energi dalam jangka panjang.

Laode menegaskan bahwa pengembangan CNG rumah tangga memang bukan program yang mudah dijalankan karena membutuhkan kesiapan teknologi, infrastruktur distribusi, hingga penerimaan masyarakat. Meski demikian, pemerintah menilai langkah tersebut penting dilakukan untuk memperkuat ketahanan energi nasional di masa depan.

Ia juga menyebut pemerintah membuka peluang kerja sama dengan industri global untuk mempercepat pengembangan teknologi dan investasi di sektor tersebut. Menurut dia, jika pasar domestik mulai terbentuk dan penggunaan CNG berkembang luas, Indonesia berpotensi menjadi salah satu pusat pengembangan teknologi tabung CNG rumah tangga di dunia.

“Kalau nanti sudah sangat masif, industri luar tentu akan datang ke Indonesia karena pasarnya ada. Tapi untuk tahap awal memang kita harus memulai lebih dulu dan menghadapi tantangan yang ada,” kata Laode.

Pemerintah saat ini masih mematangkan skema distribusi dan mekanisme uji coba penggunaan CNG rumah tangga di sejumlah kota besar. Uji coba tersebut akan menjadi dasar evaluasi sebelum implementasi dilakukan secara lebih luas di berbagai daerah.

Selain aspek teknologi dan distribusi, pemerintah juga akan memperhatikan faktor keamanan penggunaan CNG di rumah tangga. Standar keselamatan tabung, sistem pengisian gas, hingga edukasi kepada masyarakat disebut menjadi bagian penting dalam tahapan implementasi program tersebut.

Ke depan, keberhasilan program konversi LPG ke CNG akan sangat bergantung pada kesiapan infrastruktur gas nasional, dukungan industri, serta kemampuan pemerintah menjaga harga energi tetap terjangkau bagi masyarakat. Jika berjalan sesuai rencana, program tersebut dapat menjadi salah satu langkah strategis Indonesia dalam membangun sistem energi yang lebih mandiri dan berkelanjutan.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Pengadilan Negeri Tabanan Gelar Forum Komunikasi Publik 2026 | MA NEWS
• 17 jam lalukompas.tv
thumb
SKK Migas: Tambahan Impor LPG dari Australia Masuk Paling Lambat Juni 2026
• 7 jam lalubisnis.com
thumb
Bejat! Oknum Kiai Pengasuh Ponpes di Ponorogo Diduga Cabuli 13 Santri Laki-Laki
• 6 jam lalurctiplus.com
thumb
Siswi SMK di Payakumbuh Ketahuan Bawa Ganja ke Sekolah, Ngaku Coba-coba
• 12 jam lalukumparan.com
thumb
BEI Buka Suara soal IHSG Ambles 4 Persen: Ketidakpastian Pasar Masih Tinggi
• 12 jam lalukumparan.com
Berhasil disimpan.