Pengusaha Tegaskan Masuk Mode Bertahan

bisnis.com
7 jam lalu
Cover Berita

Bisnis.com, JAKARTA — Kalangan pengusaha menegaskan bahwa saat ini sedang masuk ke fase bertahan, alih-alih melakukan ekspansi usaha akibat perkembangan geopolitik ditambah pelemahan kurs rupiah yang terjadi belakangan.

Adapun, mode bertahan tersebut salah satunya tercermin dari data utang luar negeri (ULN) sektor swasta. Bank Indonesia mencatat ULN swasta sebesar US$191,4 miliar pada Maret 2026, terkontraksi sebesar 1,8% secara tahunan (year on year/YoY).

Bahkan, jika ditarik data historis lebih jauh maka tampak posisi ULN swasta sebesar US$191,4 miliar itu merupakan titik terendah baru dalam delapan tahun terakhir. Terakhir kali, posisi ULN swasta yang lebih rendah dari itu tercatat di level US$191,0 miliar pada Desember 2018.

Wakil Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia Sarman Simanjorang menegaskan bahwa posisi ULN swasta yang terus turun itu merupakan indikator nyata dari tingginya kehati-hatian dunia usaha.

"Dunia usaha saat ini sangat hati-hati dan berpikir panjang untuk melakukan ekspansi," ujar Sarman kepada Bisnis, Senin (18/5/2026).

Dia memaparkan, sikap bertahan alih-alih ekspansi dunia usaha didasari oleh empat pertimbangan utama yang membelit sektor riil.

Baca Juga

  • Dipanggil Prabowo ke Istana Negara, Gubernur BI Pede Rupiah Stabil
  • Purbaya Gelontorkan Rp2 Triliun per Hari ke Pasar Obligasi demi Redam Pelemahan Rupiah
  • Purbaya Optimistis Tekanan Rupiah Akan Mulai Berkurang

Pertama, tensi geopolitik global yang masih penuh ketidakpastian yang secara langsung mendisrupsi jalur logistik internasional. Akibatnya, terjadi lonjakan harga energi sehingga mengerek biaya bahan baku.

Kedua, rekor pelemahan nilai tukar rupiah yang mencatat rekor terburuk di level Rp17.666 per dolar AS pada Senin (18/5/2026). Sarman menjelaskan pelemahan kurs rupiah itu secara otomatis mengerek biaya produksi dan operasional perusahaan sehingga berisiko mengganggu arus kas perusahaan, terutama bagi industri yang mengandalkan bahan baku impor.

Ketiga, daya beli masyarakat yang dinilai belum pulih. Lesunya konsumsi masyarakat akibat himpitan kondisi ekonomi lokal dan sentimen global membuat produsen tidak memiliki insentif untuk menggenjot kapasitas produksi.

Oleh karena itu, sebagai faktor keempat, Sarman menekankan bahwa fokus utama dunia usaha saat ini murni ke strategi memitigasi krisis, bukan pertumbuhan.

Dalam situasi iklim usaha yang penuh tekanan, berbagai tawaran pendanaan dengan suku bunga kompetitif dari luar negeri menjadi tidak relevan untuk diserap oleh korporasi di dalam negeri.

"Tawaran pendanaan dari luar atau adanya peluang pinjaman dari lembaga keuangan asing belum bisa dimanfaatkan dalam kondisi seperti ini. Situasi inilah yang pada akhirnya membuat sektor swasta menjaga agar posisi ULN tetap rendah sampai dengan saat ini," tutup Sarman.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Sinopsis Drama China No Doubt in Us, Musuh Jadi Cinta Akibat Jiwa yang Tertukar
• 13 jam lalugrid.id
thumb
Marak Kekerasan Seksual di Pesantren Dinilai Ancam Kepercayaan Publik
• 11 jam laluokezone.com
thumb
Stasiun KRL JIS Diresmikan dalam Waktu Dekat, LRT Velodrome-Manggarai Agustus 2026
• 16 jam laluidxchannel.com
thumb
Sah! Kementerian P2MI Canangkan Gerakan Nasional Migran Aman dari Hulu ke Hilir
• 12 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Pengembang dukung rencana program PKP satu rumah subsidi satu pohon
• 6 jam laluantaranews.com
Berhasil disimpan.