Ringkasan Berita:
- Komisi E DPRD Jatim sidak ke Gedung PPJT RSUD Dr Soetomo pascakebakaran dan menemukan gedung belum memiliki asuransi kebakaran.
- Pasien RSUD Dr Soetomo tetap mendapat perawatan normal meski terjadi kebakaran di lantai lima PPJT. DPRD Jatim puji evakuasi tenaga medis dan minta langkah pencegahan lebih ketat.
- DPRD Jatim soroti kerugian akibat kebakaran PPJT RSUD Dr Soetomo, termasuk obat-obatan Rp3 miliar, dan minta rumah sakit gunakan konsultan kelistrikan untuk cegah korsleting.
Surabaya (beritajatim.com) – Komisi E DPRD Jawa Timur melakukan inspeksi mendadak (sidak) ke Gedung Pusat Pelayanan Jantung Terpadu (PPJT) RSUD Dr Soetomo pascakebakaran yang terjadi pada Jumat (15/5/2026). Dalam sidak tersebut, DPRD Jatim menemukan gedung layanan jantung itu belum memiliki asuransi kebakaran.
“Kami sarankan untuk gedung ini ada asuransi kebakaran,” kata Ketua Komisi E DPRD Jatim, Sri Untari Bisowarno saat melakukan inspeksi mendadak (sidak) dan hearing bersama jajaran direksi RSUD Dr Soetomo, Senin (18/5/2026).
Sri Untari mengatakan keberadaan asuransi penting untuk mengantisipasi kerugian besar akibat bencana kebakaran. Menurut dia, perlindungan terhadap aset rumah sakit harus menjadi perhatian karena menyangkut pelayanan kesehatan masyarakat. “Lebih baik mahal tapi selamat, daripada tidak ada sama sekali,” ujarnya.
Dalam sidak tersebut, Komisi E DPRD Jatim juga memastikan pelayanan pasien tetap berjalan normal setelah insiden kebakaran. Pihak rumah sakit disebut telah memindahkan pasien ke ruang perawatan lain agar pelayanan medis tetap berlangsung.
“Semua pasien sudah ditempatkan di tempat yang sesuai untuk perawatan mereka secara baik,” katanya.
Sri Untari menjelaskan lantai lima gedung PPJT yang menjadi lokasi kebakaran masih dipasangi garis polisi. Setelah police line dibuka, rumah sakit baru dapat melakukan pengecekan alat kesehatan, obat-obatan, dan fasilitas medis lain yang terdampak kebakaran.
“Kerugian belum bisa dipastikan karena proses pendataan masih berjalan. Sementara untuk obat-obatan sekitar Rp3 miliar,” ucap dia.
Selain itu, DPRD Jatim meminta evaluasi terhadap sistem kelistrikan rumah sakit untuk mencegah kejadian serupa terulang. Dia menyebut rumah sakit juga membutuhkan konsultan khusus Medical Electrical guna melakukan pemeriksaan berkala terhadap instalasi listrik gedung.
“Kadang satu stop kontak bebannya terlalu banyak. Karena itu dibutuhkan evaluasi dan konsultan kelistrikan,” ujarnya.
Komisi E DPRD Jatim juga mengapresiasi tenaga kesehatan dan dokter yang membantu proses evakuasi pasien saat kebakaran terjadi. Menurut dia, keberanian tenaga medis dalam mendampingi pasien jantung selama proses evakuasi menjadi faktor penting dalam penanganan darurat. “Ini bisa menjadi best practice bagi rumah sakit lain,” kata anggota Fraksi PDI Perjuangan ini.
Sementara itu, Rasiyo menyebut insiden tersebut menjadi pembelajaran penting bagi seluruh rumah sakit di Jawa Timur. Dia mengingatkan pentingnya kontrol rutin terhadap instalasi listrik yang berpotensi mengalami penurunan kualitas seiring usia penggunaan. “Karena kabel itu makin lama bisa usang dan berpotensi menimbulkan korsleting,” kata Rasiyo.
Meski terjadi kebakaran, Rasiyo menilai tingkat kepercayaan masyarakat terhadap Dr Soetomo tetap tinggi. Hal itu terlihat dari tetap banyaknya pasien yang datang untuk berobat.
“Kemudian masyarakat saya kira lebih percaya pada Dr Soetomo, karena tadi disampaikan oleh Bu Ketua (Komisi E), setelah kejadian kemarin masih ada 1.200 pasien,” pungkasnya. [asg/suf]




