Tak sulit menemukan buku bajakan di lantai basemen Blok M Square, Jakarta Selatan. Buku bajakan itu berbungkus plastik, tampak seperti baru. Jika dilihat secara detail, cetakannya blur, bundelan bukunya mudah copot, hingga kualitas kertasnya buruk.
Di tengah banjirnya buku bajakan, ada penjual yang masih setia menjual buku asli. Sebuah lapak bernama Perserikatan Buku Jimmy mengundang perhatian, lokasinya bersebelahan dengan toko Nanda Sablon Digital dan dekat dengan pintu akses menuju terowongan Terminal Blok M.
Kamis (23/4/2026) siang, lapak itu ramai kedatangan pelanggan. Beberapa orang datang mencari cetakan terbaru buku Tan Malaka, Naar de Republiek Indonesia, edisi kritis 100 tahun yang disusun Zen RS. Jimmy (35), sapaan akrab penjual buku itu, kebetulan punya dua eksemplar. Setelah kehabisan stok buku itu, ia berencana mengontak penerbit minta penambahan stok.
Bukan buku bekas yang Jimmy berikan, apalagi bajakan. Di rak-rak dagangannya hanya berisi buku baru yang masih bersegel dan berlabel asli. Laki-laki itu memang menjual buku asli dengan menggandeng langsung sejumlah penerbit. ”Di sini (buku) asli, karena wujud keprihatinan saya dengan buku bajakan. Buku aslinya ada, jadi kami coba gandeng penerbit,” ujar Jimmy.
Serial Artikel
Pembajak Buku Bunuh Intelektualisme Indonesia
Jaringan pembajak buku merampas hak ekonomi penulis, memangkas produksi buku baru, dan meruntuhkan ekosistem literasi. Praktik ini membunuh intelektualitasme.
Inisiatif Perserikatan Buku Jimmy bermula dari Oktorio Boy, nama asli Jimmy, yang mengembangkan lapak buku kakaknya di Blok M Square. Sempat dirumahkan dari pekerjaan saat pandemi Covid-19 pada 2020, dia kemudian fokus membantu usaha kakaknya itu.
Jimmy tak memungkiri, lapak buku kakaknya dulu menjual buku bajakan. Ia pelan-pelan merencanakan peralihan ke penjualan buku asli. Dia meriset buku-buku yang diminati dan mencoba tes pasar.
Setelah dua tahun, Jimmy yakin dengan usahanya. Ia menyeleksi sendiri buku-buku yang hendak dijual. Dari awalnya menggandeng satu penerbit independen, kini berkembang dengan menggandeng 25 penerbit, termasuk di antara rekannya adalah penerbit besar.
Sampai saat ini, Jimmy punya ribuan koleksi buku baru dan bekas. Rak dagangannya berisi buku-buku sejarah, sastra, pengembangan diri, cerita anak, hingga buku pelajaran dan akademik, yang dikurasi sendiri oleh Jimmy.
Perserikatan Buku Jimmy seakan menjadi bentuk perlawanan terhadap buku bajakan. Saat buku bajakan membanjiri lapak-lapak di Blok M Square, Jimmy justru menjual buku asli dan sebagian bekas. Begitu pula saat lapak buku bajakan cenderung menjual barang lewat toko daring. Jimmy memilih berjualan di toko dan ambil buku di tempat.
Cara-cara itu membuat Jimmy memiliki pelanggan setia. Beberapa orang malah menyempatkan mampir untuk membeli, duduk-duduk atau bahkan diskusi dalam waktu yang lama. Sebuah pengalaman yang barangkali berbeda apabila seseorang ke toko, membeli buku dan langsung pulang.
Nesya (16), pelajar asal Tangerang Selatan, Banten, menjadi salah satu pembeli rutin di Perserikatan Buku Jimmy. Perempuan tersebut senang mendapat rekomendasi buku-buku tentang sastra dan sejarah pilihan Jimmy. ”Aku langganan di sini karena lebih murah, dan tiap ngobrol selalu dapat rekomendasi buku. Padahal, ketemu cuma kalau aku pas mampir aja, tapi sudah kayak ce-es (kawan),” ucap perempuan yang kini kelas II SMA.
Mereka yang pernah datang ke toko buku (TB) ini memberikan testimoni positif lewat media sosial. Sebagian dari mereka menyebut, lapak Jimmy mengedepankan kejujuran dan memberi diskon sedikit lebih murah dari toko buku besar. Jimmy mengakui model bisnis ini dibuat agar tokonya berbeda dari yang lain. Margin keuntungan yang lebih besar diperoleh dari penjualan buku bekas yang stoknya langka.
Laki-laki ini percaya pada prinsip bahwa seorang pembajak buku tidak akan pernah menjadi kaya. Hal itu pula yang mendorongnya mengganti stok buku bajakan dengan buku asli dari penerbit. ”Kalau pembajak mau memusuhi saya, apa yang mau dimusuhi, orang dagangan saya sama mereka saja beda,” katanya.
Salah satu penerbit mitra Jimmy adalah Patjarmerah, penerbit indie asal Jakarta. Patjarmerah menjadikan Perserikatan Buku Jimmy sebagai outlet buku-buku terbitannya. Meski berada di antara lapak penjual buku bajakan, pihak Patjarmerah meyakini buku- buku asli masih mendapat tempat di pasaran. ”Dia menjual buku asli. Di luar buku toko buku Jimmy, saya tidak tahu,” kata Windy Ariestanty, pendiri Patjarmerah.
Salah satu buku terbitan Patjarmerah yang dijual di Perserikatan Buku Jimmy adalah buku Reset Indonesia. Sejalan dengan tingginya minat orang membeli buku itu, edisi bajakan pun bermunculan. Ironisnya buku bajakan ini dijual di area yang sama dengan buku asli yang dijual Jimmy. ”Dia satu-satunya penjual resmi buku kami di sana,” tuturnya.
Keberadaan toko buku asli ini menguatkan industri perbukuan. Maka, tak heran, kalangan penulis sangat menghargai adanya Perserikatan Buku Jimmy di Blok M. Maman Suherman, penulis buku di Jakarta ini, menjadi pelanggan Jimmy. Ia menganggap, keberadaan toko- toko buku asli menguatkan gerakan literasi untuk memerangi buku-buku bajakan.
Ia respek usaha Jimmy karena dianggap konsisten menjual buku-buku asli di kawasan Blok M. Meskipun harga buku asli lebih mahal daripada buku bajakan, Maman tetap memilih buku asli. ”Saya mengapresiasi toko buku seperti ini ketimbang toko buku-toko buku yang menjual buku bajakan,” katanya.
Pedagang buku asli tak hanya Perserikatan Buku Jimmy. Di Pasar Santa, Jaksel, ada Post Bookshop yang beroperasi sejak 2014. Toko buku yang didirikan Teddy W Kusuma dan Maesy Angelina ini menjadi oase bagi pencinta buku berkualitas di Jakarta. Lokasinya di lantai atas sebuah pasar. Cukup menarik bagi mereka yang ingin bertandang ke tempat itu.
”Yang datang kesini biasanya pekerja-pekerja yang kerja di sekitar sini. Ada juga dari kalangan keluarga kalau weekend, mahasiswa seperti mas itu (sambil menunjuk seorang pengunjung), dia mahasiswa. Biasanya rata-rata umurnya enggak jauh-jauh dari usia anak muda,” kata Levi, penjaga toko buku Post Bookshop, Pasar Santa, Jaksel.
Saat di lokasi, Kompas melihat anak-anak muda sedang keranjingan membaca buku-buku pilihannya. Salah satunya adalah Atlas (20), pembaca buku di gerai Post Bookshop. Mahasiswa di sebuah kampus luar negeri ini memilih toko buku ini karena menyediakan buku-buku yang jarang ada di toko buku lain.
”Di sini, banyak buku yang dibuka segelnya. Semua orang yang datang bisa baca dan duduk di sini. (Ia menunjukkan buku yang dipegangnya di meja tempatnya baca, di dalam toko buku Post). Di sini juga ada banyak zine-nya. Publikasi mereka sendiri,” ucap Atlas.
Ia merasa bahwa suasana di Post Bookshop lebih dari sekadar toko buku, mirip taman baca. Lelaki yang tinggal di Jakarta ini tidak selalu membeli buku di Post Bookshop. Kadang, ia hanya ingin menghabiskan waktu berjam-jam hanya untuk membaca buku di tempat tersebut. Meskipun demikian, tidak jarang akhirnya ia tergoda membeli buku incarannya.
Kelebihan Post Bookshop, menurutnya, adalah kurasi buku yang disediakan pengelola. Atlas menilai, pengelola toko buku ini serius melakukan kurasi buku. ”Ada beberapa buku yang tidak ditemukan di toko buku lain, di sini ada. Aku suka ketemu buku yang susah dicari di tempat lain, ketemu di sini. Sementara di toko-toko buku lain, koleksinya hampir mirip- mirip,” kata Atlas.
Menurutnya, keberadaan toko-toko buku asli harus dihargai. Mereka bagian dari pejuang literasi yang mendukung industri perbukuan nasional. Ia beruntung dapat membeli buku- buku asli meski harganya lebih tinggi daripada buku bajakan. Namun, itu wajar, karena di balik sebuah buku, ada jerih payah penulis, penerbit, toko buku, hingga bagian dari ekspedisi yang mendistribusikan buku-buku kepada pembaca.





