Fenomena “Retail Therapy”: Mengapa Belanja Bisa Membantu Memperbaiki Mood?

viva.co.id
7 jam lalu
Cover Berita

Jakarta, VIVA – Di tengah rutinitas yang padat dan tekanan hidup modern yang semakin tinggi, banyak orang mencari cara sederhana untuk memperbaiki suasana hati. Salah satu kebiasaan yang kini semakin umum dilakukan adalah retail therapy, istilah yang merujuk pada aktivitas berbelanja sebagai cara untuk mendapatkan rasa nyaman, senang, atau melepaskan stres sesaat.

Fenomena ini bukan sekadar tren sesaat. Dalam kehidupan sehari-hari, aktivitas membeli sesuatu yang diinginkan kerap memberi sensasi positif karena memicu rasa puas dan penghargaan terhadap diri sendiri. Tak sedikit orang merasa lebih rileks setelah berjalan-jalan di pusat perbelanjaan, mencoba produk baru, atau sekadar memasukkan barang favorit ke dalam keranjang belanja digital.

Baca Juga :
Indef: Permintaan Domestik Ditopang Akselerasi Belanja Pemerintah Sejak Awal Tahun
Ekonom: Lonjakan Belanja Pemerintah Bantu Jaga Ekonomi Kuartal I Tak melambat

Para pengamat perilaku konsumen menilai bahwa pengalaman berbelanja kini telah berubah. Jika dahulu masyarakat berbelanja semata untuk memenuhi kebutuhan, sekarang aktivitas tersebut juga menjadi bagian dari gaya hidup dan hiburan. Faktor kenyamanan, pelayanan yang ramah, hingga pengalaman interaktif ikut memengaruhi suasana hati konsumen.

Belanja dan Efek Psikologis yang Menenangkan

Secara psikologis, berbelanja dapat memunculkan rasa senang karena otak melepaskan hormon dopamin, yakni zat kimia yang berkaitan dengan perasaan bahagia dan penghargaan. Efek inilah yang membuat seseorang merasa lebih baik setelah membeli barang yang diinginkan, terutama ketika aktivitas tersebut dilakukan sebagai bentuk self-reward.

Namun, yang dicari konsumen modern ternyata bukan hanya produk. Banyak orang kini mengutamakan pengalaman menyenangkan selama berbelanja. Mulai dari suasana toko, kemudahan akses digital, hingga program interaktif yang membuat aktivitas belanja terasa lebih personal dan menghibur.

Tren pengalaman belanja yang lebih bermakna ini terlihat dari semakin banyaknya layanan yang menggabungkan konsep offline dan online demi memberikan pengalaman yang praktis dan fleksibel bagi pelanggan. Kehadiran aplikasi digital, layanan loyalitas pelanggan, hingga pengalaman interaktif berbasis permainan menjadi bagian dari perubahan perilaku konsumen saat ini.

Pengalaman Interaktif Jadi Daya Tarik Baru

Selain kemudahan transaksi, konsumen masa kini juga menyukai pengalaman yang terasa lebih engaging. Konsep gamifikasi atau pengalaman interaktif melalui permainan digital mulai banyak digunakan untuk menghadirkan aktivitas belanja yang lebih seru dan tidak monoton.

Baca Juga :
Harga Kebutuhan Rumah Tangga Naik? Begini 9 Tips Belanja Hemat Agar Dompet Tak Jebol
Sampah di Rumah Bisa Jadi Cuan, Disetor Nanti Dapat Voucher Belanja
Ultah Pakai Kue Bergambar Tali Gantungan, Menteri Israel Ben-Gvir dan Istri Dituding Sakit Jiwa

Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Pembelian Dolar AS Makin Diperketat! BI Batasi Maksimal USD25 Ribu Mulai Juni 2026
• 9 jam lalumedcom.id
thumb
Agar Tidak Bias Memuji Anak
• 3 jam lalukumparan.com
thumb
ABG Hanyut di Kali Ciliwung saat Ambil Kail Pancing
• 18 jam laluokezone.com
thumb
Di Hadapan Akademisi Jayapura, Dedi Mulyadi Tegas: Jangan Bilang Orang Papua Malas
• 15 jam lalutvonenews.com
thumb
Tarik Ulur Pidana-Perdata di Lanjutan Sidang Kasus Solar Balikpapan
• 18 jam lalubisnis.com
Berhasil disimpan.