Bisnis.com, MAKASSAR - Pelaku usaha di Sulawesi Selatan (Sulsel) mulai mencermati dampak pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS.
Tekanan kurs ini dinilai berpotensi mengoreksi margin keuntungan, terutama pada sektor usaha yang memiliki ketergantungan tinggi terhadap komoditas impor.
Wakil Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Sulawesi Selatan Satriya Madjid mengungkapkan bahwa fluktuasi mata uang asing ini mulai membebani biaya operasional. Komponen seperti bahan baku impor, pengadaan mesin, hingga biaya logistik dan energi menjadi lini paling terdampak.
"Kenaikan kurs ini otomatis mengerek biaya produksi dan menekan margin usaha. Jika kondisi ini terus berlanjut dalam jangka panjang, dampaknya bisa sangat serius bagi stabilitas dunia usaha di daerah," ujar Satriya Madjid di Makassar, Selasa (19/5/2026).
Menurut catatan Kadin Sulsel, sejumlah sektor berada di zona rentan, antara lain industri pengolahan, konstruksi, perdagangan, otomotif, hingga elektronik.
Selain itu, sektor UMKM yang mengandalkan bahan baku impor serta sektor pariwisata dan perhotelan yang sensitif terhadap kenaikan harga bahan bakar transportasi udara, juga turut dibayangi risiko ini.
Baca Juga
- Penyaluran KUR BRI Menyerap 300.000 Tenaga Kerja di Sulsel hingga Maluku
- 'Bank Mini' Jadi Solusi Keuangan Petani di Wilayah Lumbung Pangan Sulsel
- BRI Makassar Salurkan KUR Rp16,87 Triliun Sepanjang 2025, Mayoritas ke Pertanian
Satriya menambahkan, efek domino dari pelemahan mata uang ini berisiko mengontraksi daya beli masyarakat. Ketika harga barang di pasar merangkak naik, konsumsi domestik diproyeksikan melambat, yang pada akhirnya memperlambat perputaran ekonomi secara makro.
Kondisi ketidakpastian ini juga membuat para pelaku usaha mengambil sikap wait and see. Mayoritas pengusaha memilih untuk menahan diri dalam melakukan ekspansi atau investasi baru sembari memantau pergerakan kurs, arah suku bunga, dan dinamika ekonomi global.
Menanggapi potensi Pemutusan Hubungan Kerja (PHK), Kadin Sulsel berharap langkah ekstrem tersebut dapat dihindari.
Namun, Satriya tidak menampik jika tekanan kurs berlangsung berlarut-larut dan disertai penurunan permintaan pasar, perusahaan berpeluang melakukan efisiensi struktur biaya, termasuk pengurangan tenaga kerja pada sektor yang paling terpukul.
Guna mengantisipasi dampak yang lebih dalam, Kadin Sulsel mendorong pemerintah dan otoritas terkait untuk segera mengambil langkah taktis dalam menjaga stabilitas ekonomi dan kepercayaan pasar.
Langkah yang perlu diprioritaskan antara lain penguatan sektor riil serta menjaga kepastian pasokan dan harga energi domestik. Di sisi lain, pemberian kemudahan bisnis dan stimulus bagi industri manufaktur serta UMKM juga dinilai mendesak.
Kadin Sulsel juga menekankan pentingnya memperkuat koordinasi kebijakan fiskal dan moneter untuk meredam gejolak nilai tukar.
"Dukungan terhadap produk lokal dan percepatan program substitusi impor menjadi krusial saat ini, agar ketergantungan dunia usaha terhadap dolar dapat dikurangi secara bertahap, sekaligus memperkuat fundamental ekonomi daerah," pungkasnya.





