Menteri Koordinator Bidang Pangan, Zulkifli Hasan, mengakui timbunan sampah di Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) seperti Bantar Gebang, Bekasi, telah mencapai setinggi gedung 16 lantai. Karena itu, pemerintah mempercepat implementasi pengolahan sampah menjadi energi yang kini tidak hanya difokuskan menjadi listrik, tetapi juga diolah menjadi bahan bakar minyak (BBM) terbarukan.
Menurut Zulhas, proyek pengolahan sampah menjadi BBM terbarukan tersebut akan menggunakan teknologi pirolisis. Selain proyek Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL), teknologi pirolisis diharapkan mampu mengatasi timbunan sampah yang terus menggunung di berbagai daerah.
“Nah, kita ini sudah punya sampah yang menggunung setinggi 16 gedung ya, Pak ya? Seperti Bantar Gebang dan tempat-tempat lain yang tinggi-tinggi itu,” ujar Zulhas dalam jumpa pers usai rapat koordinasi terbatas (rakortas) di Kemenko Pangan, Selasa (19/5/2026).
Ia menjelaskan pengembangan teknologi tersebut akan melibatkan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) sebagai lembaga riset utama pemerintah. Selain BRIN, pemerintah juga menggandeng Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti).
“Teknologinya nanti dari BRIN dan Kemenristekdikti itu,” katanya.
Baca Juga: Pemerintah Sulap Tumpukan Sampah Jadi BBM Terbarukan Lewat Teknologi Pirolisis
Baca Juga: Danantara Gandeng 6 Daerah Akselerasi Proyek Sampah Jadi Listrik
Baca Juga: Zulhas Targetkan Proyek Sampah Menjadi Listrik di 25 Lokasi Rampung Mei 2028
Sebagai informasi, teknologi pirolisis merupakan metode daur ulang sampah melalui proses dekomposisi pada suhu tinggi berkisar 300–800 derajat Celsius di ruang tertutup. Teknologi tersebut diharapkan dapat membantu pemerintah mengatasi persoalan timbunan sampah yang semakin mengkhawatirkan di Indonesia.
Selain pirolisis, pemerintah juga tengah menyiapkan proyek PSEL yang mengandalkan teknologi incinerator untuk memenuhi kebutuhan energi listrik dari hasil pengolahan sampah.





