Jalur Sutra adalah jaringan rute perdagangan kuno yang terbentang ribuan mil, menghubungkan wilayah Timur dan Barat, khususnya Tiongkok dan Eropa. Jalur ini tidak hanya sekadar rute distribusi kain sutra.
Lebih dari itu, Silk Road pada masa berabad-abad silam telah menjadi prasarana penting bagi terjadinya pertukaran rempah-rempah, teknologi, agama, dan kebudayaan antarperadaban besar dunia.
Baca Juga
Enam Kapal Global Sumud Masih Melaju ke Gaza
Purbaya Ungkap Defisit APBN Berhasil Mengecil, Ini Penyebabnya
Enzo Maresca Dikabarkan Sepakat Gantikan Pep Guardiola di Manchester City
Rute perdagangan ini kini sengaja dihidupkan kembali. Hal itu terutama mengingatkan dunia akan kearifan Dunia Timur yang ingin berbagi dengan sesama dalam menebarkan kemakmuran.
Untuk itu, Republik Rakyat China (RRC) telah membangun Urumqi International Land Port Area (ILPA) di atas lahan seluas 67 km persegi. Ini menjadi gerbang utama Jalur Sutra ekonomi modern.
.rec-desc {padding: 7px !important;}
Bandar ini akan merupakan pusat logistik dan perdagangan darat berskala masif yang akan menghubungkan Asia dan Eropa. Di lokasi yang cukup luas ini, berbagai moda transportasi akan digabungkan bagi terciptanya konektivitas yang efektif dan efisien antara kendaraan beroda dan jalur kereta api.
Jadi, land port ini akan menjadi pusat kereta barang China-Europe Express menuju ke Asia Tengah dan Eropa. Di lokasi ini, akan berlaku one stop service atau pelayanan satu atap sehingga akan memangkas waktu tunggu pengiriman barang antara RRC dan negara-negara mitranya.
Hal ini tentu saja akan berdampak ekonomi yang luar biasa. Sebab, prasarana ini akan menghubungkan China secara langsung dan cepat dengan Asia Tengah, Rusia, dan negara-negara Eropa lainnya.
Alhasil, Urumqi yakni ibu kota Xinjiang menjadi pusat perekonomian baru di wilayah barat China. Hal ini tentu juga akan berdampak positif terhadap kehidupan ekonomi negara-negara tetangga RRC di Asia tengah dan Asia Selatan.
Bila tiba waktunya, ekonomi di negara-negara tersebut akan menggeliat. Ketika itu terjadi, pusat kemajuan dan peradaban dunia tentu akan bergeser dari Eropa dan Amerika ke Asia. Dus, China akan menjadi lokomotifnya.
*) Dr H Anwar Abbas MM MAg atau yang akrab disapa Buya Anwar Abbas merupakan Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat. Dosen tetap Prodi Perbankan Syariah FEB UIN Syarif Hidayatullah ini juga adalah Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah Bidang UMKM, Pemberdayaan Masyarakat, dan Lingkungan Hidup. Tulisan ini adalah sebuah catatan singkat perjalanan ke Uighur Xinjiang yang dilakukan penulis pada 17-21 Mei 2026.
Disclaimer: Pandangan yang disampaikan dalam tulisan di atas adalah pendapat pribadi penulisnya yang belum tentu mencerminkan sikap Republika soal isu-isu terkait.