Peran Kampung Siaga Dioptimalkan Cegah Penyebaran TBC di Jakarta Utara

metrotvnews.com
7 jam lalu
Cover Berita

Jakarta: Pemerintah Kota Jakarta Utara mengoptimalkan peran Kampung Siaga tuberkulosis (TB) sebagai upaya dalam mencegah penyebaran penyakit menular tersebut di daerah setempat.

"Penanganan tuberkulosis tidak dapat dilakukan hanya oleh sektor kesehatan semata. Dibutuhkan keterlibatan seluruh unsur, mulai dari pemerintah kota, kecamatan, kelurahan, kader hingga masyarakat,” kata Asisten Administrasi dan Kesejahteraan Rakyat Kota Jakarta Utara Muhammad Andri di Jakarta, dikutip dari Antara, Selasa, 19 Mei 2026.

Andri menyebutkan setiap kelurahan di Jakarta Utara ditargetkan membentuk minimal dua RW Siaga Tuberkulosis pada tahun ini. Jakarta Utara telah membentuk 33 Kampung Siaga TB pada 2024 dan 36 Kampung Siaga TB pada 2025.

“Kami menekankan pentingnya penguatan pengawasan dan kolaborasi lintas sektor dalam percepatan penanganan TB,” kata Andri.
 

Baca Juga :

Kemenkes Optimalkan Terapi Tuberkulosis untuk Cegah Penularan Kasus

Menurut dia, penanganan tuberkulosis harus dilakukan secara menyeluruh melalui peningkatan kesadaran masyarakat, pengawasan kepatuhan minum obat, kampanye edukasi, serta penghapusan stigma terhadap pasien TB.

Selain itu, monitoring acak ke sekolah dan RW Siaga TB akan dilakukan pada Agustus-September 2026 sebagai bagian evaluasi program.

Pihaknya terus memperkuat advokasi kepada masyarakat agar disiplin menjalani pengobatan. meningkatkan pengawasan minum obat pasien, memperluas kampanye kesadaran tentang tuberkulosis

“Selain itu menghilangkan stigma terhadap pasien TB melalui pendekatan yang lebih positif dan edukatif," kata dia.


Asisten Administrasi dan Kesejahteraan Rakyat Kota Jakarta Utara Muhammad Andri. Foto: Antara

Suku Dinas Kesehatan Jakarta Utara menyampaikan instrumen pemantauan RW Siaga TB berbasis data "by name, by address" (BNBA) per RW dan kelurahan.

Menurut dia, sistem tersebut digunakan untuk memantau pasien TB beserta kontak eratnya, di mana satu pasien akan diikuti pendataan terhadap delapan kontak erat yang wajib menjalani skrining.

Ia menambahkan instrumen pemantauan tersebut akan dibagikan kepada kelurahan dan kader untuk mendukung pelaksanaan skrining, pemantauan kontak erat, pengawasan konsumsi Obat Anti Tuberkulosis (OAT), hingga Terapi Pencegahan Tuberkulosis (TPT).

Input data direncanakan mulai Juni 2026 dan akan dievaluasi setelah tiga bulan pelaksanaan.

“Penguatan monitoring dan evaluasi pada setiap tahapan harus dilakukan agar penanganannya lebih terukur, tercatat dengan baik, dan hasilnya dapat dirasakan secara nyata,” kata dia.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Tangani Konflik Suku Papua Pegunungan, Wamendagri Ribka Haluk Fokus Susun Regulasi Strategis
• 10 jam laludisway.id
thumb
Rupiah Masih Tertekan, Ekonom Ungkap Syarat Agar Kembali ke Level Rp16.000
• 9 jam lalusuarasurabaya.net
thumb
Kronologi Kebakaran Berjam-jam Pabrik di Jakbar hingga Lukai 3 Orang
• 19 jam laludetik.com
thumb
Jajaran Alutsista Baru yang Resmi Diserahterimakan Prabowo ke TNI
• 22 jam lalukumparan.com
thumb
Saat Desa dan Transportasi Umum Menjadi Benteng Ekonomi Indonesia
• 14 jam lalukompas.com
Berhasil disimpan.