Pakar Geologi: Gempa Ulubelu Umum Terjadi di Kawasan Tektonik Aktif

jpnn.com
13 jam lalu
Cover Berita

jpnn.com, JAKARTA - Gempa bumi bermagnitudo 2,4 yang mengguncang wilayah Ulubelu, Kabupaten Tanggamus, Lampung, pada 2 Mei 2026 sekitar pukul 04.36 WIB dinilai sebagai peristiwa yang umum terjadi di kawasan tektonik aktif.

Berdasarkan data Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika atau BMKG, pusat gempa berada di wilayah Ulubelu dengan karakteristik gempa dangkal. Kondisi tersebut disebut wajar terjadi di wilayah dengan aktivitas tektonik tinggi.

BACA JUGA: Penyekapan Wanita asal Nunukan di Makassar Bikin Gempar, Gubernur Sampai Turun Tangan

"Kawasan Sumatra secara alami memang aktif secara tektonik. Salah satu faktor yang memengaruhi aktivitas tersebut adalah reaktivasi sesar pascagempa besar Liwa," kata Guru Besar Bidang Rekayasa Geofisika Dekat Permukaan Universitas Lampung, Prof Ahmad Zaenudin dalam keterangan persnya, Selasa (19/5).

Secara geografis, Indonesia berada di jalur Ring of Fire, yaitu kawasan dengan aktivitas kegempaan tertinggi di dunia. Khusus di Sumatera bagian selatan, aktivitas gempa dipengaruhi oleh interaksi tiga sistem tektonik utama, yakni Zona Subduksi Sunda, Sesar Sumatera atau Segmen Semangko, serta struktur geologi di sekitar Selat Sunda.

BACA JUGA: Gempa M 5,0 Guncang Pulau Saringi NTB, BMKG: Tidak Berpotensi Tsunami

“Dalam kondisi seperti ini, gempa-gempa kecil justru dapat membantu melepaskan tekanan yang terakumulasi. Karena itu, perlu ada sosialisasi yang baik kepada masyarakat terkait kondisi geologi wilayah tersebut,” ujar Ahmad Zaenudin.

Hal senada disampaikan Guru Besar Geologi Lingkungan Universitas Gadjah Mada atau UGM, Prof. Wahyu Wilopo. Menurut dia, kondisi geologi Ulubelu perlu dianalisis secara detail dan menyeluruh karena wilayah tersebut berada di kawasan aktif.

BACA JUGA: Pemerintah Bentuk Tim Hitung Dampak Kerusakan Akibat Gempa di Sulut dan Malut

“Secara geologis, wilayah Ulubelu memang berada di kawasan aktif yang dilalui jalur Patahan Sumatera atau Sesar Semangko. Kondisi ini membuat wilayah tersebut secara alami rentan terhadap terjadinya gempa tektonik,” kata Wahyu.

Kepala Departemen Teknik Geologi Fakultas Teknik UGM itu juga menjelaskan bahwa aktivitas pengeboran panas bumi, terutama injeksi fluida dan hydrofracturing, secara teori dapat menimbulkan getaran atau gempa bumi. Namun, gempa yang dipicu aktivitas tersebut umumnya berkekuatan rendah, yakni di bawah magnitudo 3, dan kerap tidak dirasakan masyarakat dalam kondisi normal.

“Kalau gempa induksi biasanya magnitudonya kecil, dangkal, dan muncul berkelompok atau mengumpul di lokasi pemboran, dan umumnya terjadi pada saat kegiatan pemboran. Sedangkan gempa tektonik bisa lebih besar dan lebih dalam,” ujar Wahyu.

Pernyataan tersebut disampaikan untuk merespons anggapan sebagian masyarakat yang mengaitkan gempa di Ulubelu dengan aktivitas panas bumi di wilayah sekitar. Wahyu mengingatkan masyarakat agar tidak langsung menghubungkan setiap kejadian gempa dengan proyek panas bumi tanpa bukti ilmiah yang valid.

Menurut Wahyu, pengembangan panas bumi di Indonesia telah diatur melalui kewajiban kajian lingkungan, pemantauan seismik, serta penerapan standar mitigasi risiko. Aktivitas kegempaan juga dipantau secara real-time menggunakan seismometer.

Karena itu, ia menilai penelitian detail tetap diperlukan untuk memastikan penyebab gempa secara ilmiah. Wahyu meyakini pengembangan energi panas bumi dapat berjalan berdampingan dengan masyarakat. 

Menurut alumnus Kyushu University tersebut, pemanfaatan panas bumi memiliki dampak lingkungan yang lebih kecil dibandingkan energi fosil, seperti minyak, gas bumi, dan batu bara, yang menghasilkan lebih banyak gas rumah kaca.

“Sistem panas bumi modern dirancang dengan konsep closed system, di mana limbah cair diinjeksikan kembali ke dalam bumi atau reservoar sehingga meminimalkan pencemaran lingkungan,” ucapnya.

Selain berdampak lingkungan rendah, Wahyu menilai panas bumi merupakan salah satu solusi energi alternatif strategis untuk mengurangi ketergantungan terhadap energi fosil, terutama di tengah harga energi fosil yang fluktuatif.

Ia juga menyebut pengembangan proyek panas bumi dapat memberi dampak ekonomi positif bagi masyarakat sekitar, antara lain melalui pembangunan infrastruktur, pembukaan akses jalan, peningkatan aktivitas ekonomi lokal, serta program tanggung jawab sosial perusahaan atau CSR.(esy/jpnn)

BACA ARTIKEL LAINNYA... Tiba di Manado, Wapres Gibran Akan Tinjau Lokasi Terdampak Gempa M 7,6


Redaktur : Elfany Kurniawan
Reporter : Mesyia Muhammad


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Bursa Asia Melemah Lagi, Pasar Cemas Perang dan Lonjakan Yield AS
• 5 jam laluidxchannel.com
thumb
Komplotan Begal Bersenpi di Jakarta Diburu Polisi, 5 Pelaku Masih Gentayangan!
• 16 jam laluokezone.com
thumb
Tiga Kebakaran Gudang Terjadi di Jakarta dalam 2 Pekan Terakhir
• 21 jam lalukompas.com
thumb
Catatan Krusial Tantangan Ekonomi Kaltim di 2026
• 21 jam lalubisnis.com
thumb
KPK Limpahkan 2 Perkara Bupati Pati Nonaktif Sudewo ke Tahap Penuntutan
• 11 jam lalukompas.tv
Berhasil disimpan.