Bursa saham Asia kembali tertekan pada perdagangan Rabu (20/5/2026), memperpanjang pelemahan untuk hari keempat berturut-turut.
IDXChannel – Bursa saham Asia kembali tertekan pada perdagangan Rabu (20/5/2026), memperpanjang pelemahan untuk hari keempat berturut-turut di tengah kekhawatiran inflasi akibat perang dan lonjakan imbal hasil obligasi Amerika Serikat (AS).
Pelaku pasar kini menanti laporan keuangan raksasa chip AI, Nvidia, yang diharapkan mampu menjadi penopang sentimen pasar global.
Tekanan terbesar datang dari pasar obligasi global. Mengutip Reuters, imbal hasil Treasury AS tenor 10 tahun melonjak ke 4,687 persen, tertinggi dalam 16 bulan terakhir, sementara yield tenor 30 tahun menembus 5,198 persen, level yang terakhir terlihat sejak 2007.
Kenaikan yield terjadi setelah investor mulai memperkirakan bank sentral AS atau The Fed masih berpotensi menaikkan suku bunga tahun ini.
Kondisi tersebut memicu aksi jual di pasar saham Asia.
Indeks MSCI Asia Pasifik di luar Jepang turun 0,7 persen. Indeks Nikkei Jepang merosot 1,26 persen, sementara KOSPI Korea Selatan sempat jatuh 2 persen sebelum memangkas pelemahan menjadi 0,01 persen.
Pasar saham China dan Hong Kong juga bergerak di zona merah. Indeks saham unggulan China turun 0,18 persen, Hang Seng melemah 0,65 persen, sementara Shanghai Composite terkoreksi 0,48 persen.
Di kawasan lain, ASX 200 Australia turun 0,87 persen dan STI Singapura melemah 0,74 persen.
Sentimen geopolitik turut membebani pasar. Harga minyak Brent memang turun tipis 0,2 persen ke USD111,07 per barel, namun masih bertahan di atas level USD110 di tengah kekhawatiran pasokan global.
Selat Hormuz disebut masih praktis tertutup, sementara Presiden AS Donald Trump mengatakan Washington masih mempertimbangkan serangan lanjutan ke Iran meski negosiasi dengan Teheran terus berlangsung.
Di sisi lain, perhatian investor juga tertuju ke Beijing, tempat Presiden China Xi Jinping dijadwalkan menerima kunjungan Presiden Rusia Vladimir Putin, kurang dari sepekan setelah kunjungan Trump yang menyita perhatian global.
Analis IG Tony Sycamore mengatakan pasar saat ini sedang mengalami koreksi setelah reli panjang beberapa bulan terakhir. Menurut dia, lonjakan yield AS mulai menjadi sumber kekhawatiran utama investor.
“Yield AS jelas mulai menimbulkan guncangan di pasar dan kini menjadi perhatian besar,” ujarnya.
Sycamore juga menilai ekspektasi pasar terhadap Nvidia sudah terlalu tinggi. Menurutnya, kemampuan perusahaan itu untuk kembali memberi kejutan besar seperti sebelumnya mulai terbatas.
Nvidia dijadwalkan merilis kinerja kuartal I setelah penutupan pasar AS pada Rabu waktu setempat.
Pendapatan perusahaan diperkirakan melonjak hampir 80 persen menjadi sekitar USD79 miliar, berdasarkan survei analis LSEG.
Sementara itu, dolar AS bertahan dekat level tertinggi enam pekan terhadap mata uang utama dunia.
Dolar berada di posisi 159,05 yen setelah menguat tujuh hari beruntun dan menghapus sebagian besar dampak intervensi pemerintah Jepang yang sebelumnya menopang yen di level 160 per dolar AS. (Aldo Fernando)





