JAKARTA, KOMPAS.TV - Atase Pertahanan Iran di ASEAN periode 2009-2012, Mayjen TNI Purnawirawan Budi Pramono menilai langkah Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump membatalkan serangan ke Iran bertujuan membangun tekanan waktu.
Hal ini disampaikannya saat membahas pembatalan serangan AS tersebut dalam dialog Sapa Indonesia Malam KompasTV, Selasa (19/5/2026).
"Ini memang membangun tekanan waktu kalau menurut saya, agar Iran menerima kerangka kesepakatan," ujar Budi.
Ia menyinggung ultimatum Trump kepada Iran untuk menerima proposal AS atau menerima serangan AS.
Budi menyebut retorika yang disampaikan Trump itu sangat emosional dan disebutnya sebagai coercive military diplomacy (diplomasi militer koersif).
Baca Juga: [FULL] Analisis Peneliti dan Pakar soal Strategi Trump Usai Batalkan Serangan ke Iran
"Tapi ini memang lagi-lagi adalah Trump yang selalu memaksakan kehendaknya," ucapnya.
Budi menilai, AS saat ini sedang merencanakan beberapa strategi, yakni tetap melakukan tekanan maritim terhadap Iran, menyiapkan serangan presisi terhadap fasilitas dan rantai komandan Iran, serta mempertahankan pangkalan di Negara Teluk yang menjadi sekutunya.
Lalu strategi terakhir yang akan dilakukan AS, menurutnya adalah perang informasi.
Dalam perang informasi itu, ia menilai Trump ingin membuat elite Iran percaya bahwa dengan menunda kesepakatan AS akan membawa kehancuran lebih besar.
"Penginnya dia (Trump) meskipun sadar Amerika bahwa dua-duanya ini memang menghindari perang besar, menghindari perang terbuka, tapi Amerika lebih ke arah gimana caranya kalau 'enggak usah perang, tapi kamu sudah tunduk sama saya,'" tuturnya.
Penulis : Tri Angga Kriswaningsih Editor : Deni-Muliya
Sumber : Kompas TV, Viory
- iran
- as
- trump
- donald trump
- as batal serang iran
- trump batal serang iran





