Utamakan Kesejahteraan Hewan Kurban

kompas.id
5 jam lalu
Cover Berita

Idul Adha 1447 Hijriah/2026 segera tiba. Selama empat hari, jutaan hewan kurban berupa sapi, kerbau, kambing, dan domba, akan disembelih di seluruh Indonesia. Inilah titik kritis perayaan Idul Adha di Indonesia karena tidak hanya menentukan kehalalan dan kualitas daging yang memengaruhi kesehatan manusia, tetapi juga rentan menimbulkan masalah terkait kesejahteraan hewan kurban.

Penyembelihan hewan kurban tahun ini akan dilakukan saat hari raya Idul Adha 10 Zulhijah 1447 H atau Rabu (27/5/2026) dan selama tiga hari Tasyrik antara 11-13 Zulhijah atau 28-30 Mei 2026. Selama masa itu, diperkirakan hampir 2 juta hewan kurban akan disembelih di seluruh Indonesia karena tren jumlah hewan kurban selalu meningkat dari waktu ke waktu.

Kementerian Agama menyebut selama Idul Adha 1446/2025 lalu, ada 1.856.962 hewan kurban disembelih, yaitu 627.130 ekor sapi dan kerbau serta 1.229.832 ekor kambing dan domba. Jumlah sapi dan kerbau yang disembelih selama Idul Adha itu setara 65 persen sapi dan kerbau serta 740 persen kambing dan domba yang disembelih di seluruh rumah potong hewan (RPH) dan tempat potong hewan (TPH) di Indonesia sepanjang tahun 2025 selama 365 hari.

Baca JugaPermintaan Melonjak, Harga Sapi Kurban di Malang Naik Minimal Rp 2 Juta

Penyembelihan hewan kurban merupakan titik krusial selama perayaan Idul Adha karena prosesnya harus dilakukan secara halal dan baik (thoyyib). Meski hewan kurban adalah hewan yang halal dikonsumsi, namun proses penyembelihan yang tidak sesuai prinsip hukum agama yang menekankan pada kesejahteraan hewan, bisa membuat daging tersebut menjadi tidak halal dikonsumsi.

Guru Besar Bidang Produksi Ternak Potong, Fakultas Peternakan, Universitas Gadjah Mada (UGM), Yogyakarta, Panjono, Selasa (19/5), mengatakan hewan kurban tetap perlu diperlakukan secara manusiawi yang salah satu ukurannya adalah kesejahteraan hewan. Makin tinggi tingkat kesejahteraan hewan, maka semakin baik perlakuan manusia terhadap hewan dan semakin baik pula kualitas daging yang dihasilkan.  

“Stres dan sakit yang dirasakan hewan akibat perlakuan manusia yang tidak memerhatikan kesejahteraan hewan akan merusak atau menurunkan kualitas dagingnya,” katanya.

Selama Idul Adha 1446/2025 lalu, ada 1.856.962 hewan kurban disembelih, yaitu 627.130 ekor sapi dan kerbau serta 1.229.832 ekor kambing dan domba.

Saat tertekan, stres, dan panik, gairah binatang akan turun sehingga mereka mudah lelah dan daya tahan tubuhnya berkurang. Kondisi itu akan memunculkan timbunan asam laktat di otot hewan, terutama otot paha, betis, dan tengkuk. Asam laktat itulah yang membuat daging hewan terasa kecut dan kurang enak.

Stres juga membuat jantung hewan tidak bisa memompa darah dengan baik. Akibatnya, saat disembelih, banyak darah tertinggal di daging hewan. Darah itu merupakan media terbaik berkembangnya bakteri pembusuk dan kuman yang jumlahnya bisa berlipat ganda dalam beberapa menit saja. Kehadiran bakteri itu akan membuat mutu daging turun dan cepat membusuk.

Tradisional

Masalahnya, penyembelihan hewan kurban di Indonesia umumnya masih dilakukan secara tradisional, serba darurat, apa adanya, dan cenderung kurang memperhatikan aspek higiene sanitasi, kesejahteraan hewan serta kesehatan lingkungan. Setiap Idul Adha tiba akan muncul puluhan ribu hingga ratusan ribu tempat penyembelihan hewan dadakan di luar RPH/TPH resmi sebagai inisiatif masyarakat. Tempat penyembelihan hewan dadakan itu ada di masjid, mushola, perkantoran, lembaga keagamaan, lembaga pendidikan, hingga di rumah-rumah secara mandiri.

Baca JugaKurban, Ibadah yang Menggerakkan Ekonomi Rakyat

Pemotongan hewan umumnya memang dilakukan tenaga profesional dari RPH/TPH, tetapi ada juga yang mengandalkan pengalaman tokoh-tokoh di masyarakat. Sementara mereka yang membantu penyembelihan, umumnya adalah masyarakat umum hingga siswa sekolah yang baru terlibat pertama kali sebagai panitia kurban di lingkungan mereka.

Proses penyembelihan hewan kurban di luar RPH/TPH resmi itu muncul karena kemampuan RPH/TPH sangat terbatas. Statistik Pemotongan Ternak 2025 menyebut jumlah RPH/TPH aktif pada Desember 2025 di seluruh Indonesia hanya mencapai 1.120 unit yang 42 persennya ada di Jawa. Provinsi yang memiliki RPH/TPH lebih dari 100 unit adalah Jawa Timur sebanyak 200 unit, Jawa Barat (125), Sulawesi Selatan (114), Nusa Tenggara Barat (106), dan Jawa Tengah (102). Sementara di DKI Jakarta, hanya ada 11 RPH.

Keterbatasan RPH/TPH itulah yang membuat partisipasi masyarakat menjadi penting demi kelancaran penyembelihan hewan kurban. Karena itu, sosialisasi dan edukasi tentang penyembelihan hewan kurban perlu terus dilakukan ke panitia kurban atau pengurus masjid/mushola sehingga prinsip-prinsip penyembelihan hewan kurban yang baik (ihsan) bisa dilakukan.

Penyembelihan hewan kurban di Indonesia umumnya masih dilakukan secara tradisional, serba darurat, apa adanya, dan cenderung kurang memperhatikan aspek higiene sanitasi, kesejahteraan hewan serta kesehatan lingkungan.

Salah satu fase penting pemotongan hewan kurban adalah proses penjualan dan tempat penampungan hewan. Di Jakarta, hewan kurban banyak dijajakan di pinggir jalan yang ramai, banyak lalu lalang orang, berisik oleh suara kendaraan, hingga dikerumuni masyarakat, termasuk anak-anak yang diajak oleh orangtua mereka untuk mengenal hewan kurban.

Untuk menjaga kesejahteraan hewan, dosen Departemen Ilmu Penyakit Hewan dan Kesehatan Masyarakat Veteriner, Sekolah Kedokteran Hewan dan Biomedis, IPB University, Denny W Lukman di Kompas.id, 30 Juli 2020, tempat penjualan atau penampungan hewan kurban harus memiliki peneduh agar hewan tidak stres akibat kepanasan dan kehujanan. Tempat penampungan juga tidak terbuat dari benda tajam, seperti bambu runcing atau paku.

Selain itu, tempat penampungan hewan juga harus memiliki ventilasi udara yang baik, lantainya tidak becek dan licin, serta tidak terlalu padat penghuninya. Tempat penampungan antara sapi dan kambing sebaiknya dipisah demi mencegah transfer penyakit antarspesies. Hewan yang agresif, cedera, atau sakit sebaiknya juga segera dipisahkan agar tidak menular ke hewan lain. Bahkan, hewan yang sakit sebaiknya tidak dikurbankan.

Baca JugaKurban di Tengah Permukiman Padat Penduduk

Cara lain untuk menjaga agar hewan kurban tidak stres adalah dengan menyediakan makanan segar jika hewan berada di lokasi penampungan lebih dari 12 jam. Jangan beri hewan daun atau rumput dari pinggir jalan karena sudah terpapar racun polusi udara. Jika hewan di lokasi penampungan kurang dari 12 jam, maka hewan hanya perlu diberi air minum sepuasnya dan tidak lagi diberi makanan untuk mengosongkan perut hewan kurban dan memudahkan penyembelihan.

Persoalannya, menyediakan air minum untuk hewan kurban di lokasi penampungan yang sederhana itu sering luput. Studi Jajang Deni dan rekan di International Journal Mathla’ul Anwar of Halal Issues (IJMA), Maret 2021, menemukan 30 persen dari 30 tempat pemotongan hewan kurban di Kota Serang, Banten, tidak menyediakan air minum yang memadai. Meski sampel studi ini kecil, tetapi cukup menggambarkan kondisi umum di masyarakat.

Penyediaan air minum untuk hewan kurban ini menjadi aspek terkait kesejahteraan hewan yang paling banyak diabaikan. Pemberian air minum secara mencukupi untuk hewan kurban memang terlihat sepele. Padahal, hewan juga mudah mengalami dehidrasi, apalagi dalam cuaca panas dan gerah seperti saat ini.

Hewan kabur menunjukkan bahwa hewan tersebut stres. Mereka tidak nyaman, baik karena takut atau merasa sakit, karena tekanan di lingkungan baru yang tidak pernah mereka alami selama di kandang.

Terkait hewan kurban yang kabur dan mengamuk seperti yang terjadi di beberapa tempat setiap Idul Adha tiba, Panjono mengingatkan bahwa hewan kabur menunjukkan bahwa hewan tersebut stres. Mereka tidak nyaman, baik karena takut atau merasa sakit, karena tekanan di lingkungan baru yang tidak pernah mereka alami selama di kandang. Namun, jangan kejar hewan itu beramai-ramai karena akan membuat mereka makin stres.

Penyembelihan

Fase penting lainnya dalam pemotongan hewan kurban adalah selama proses penyembelihan. Hewan kurban yang masih hidup tidak boleh melihat hewan lain disembelih, dikuliti, dipotong daging, hingga melihat genangan darah hewan lain. Semua itu bisa memicu ketakutan, panik, dan stres hewan kurban.

Dari lokasi penampungan ke tempat penyembelihan, hewan perlu dituntun, bukan diseret, dan petugas kurban mengikutinya dari belakang, bukan didepan. Saat sampai lokasi penyembelihan, hewan harus dibaringkan, bukan dibanting atau ditarik paksa. Selanjutnya, saat penyembelihan, posisi kepala hewan jangan terlalu didongakkan karena bisa memengaruhi pembuluh darah hewan.

Baca JugaPerlakukan Hewan Kurban dengan Ihsan

Sementara saat penyembelihan hewan, pisau yang digunakan harus benar-benar tajam hingga tidak menyakiti binatang. Pisau yang digunakan tidak boleh bergerigi, apalagi menggunakan gergaji. Ketajaman pisau itu, lanjut Denny, bisa dicek dengan digunakan untuk memotong kertas. Jika kertas gampang sobek, artinya pisau itu tajam. Pengasahan pisau pun tidak boleh dilakukan di depan hewan kurban.

Ketajaman pisau itu, seperti pernah disampaikan peneliti Institute for Halal Industry & System UGM Nanung Danar Dono di Kompas.id, 30 Juli 2020, akan memengaruhi banyak sedikitnya darah yang keluar saat disembelih. Pisau yang tajam bisa digunakan secara cepat hingga dalam satu kali ayunan bisa memotong tiga saluran sekaligus, yaitu saluran darah (urat nadi), saluran napas (tenggorokan), dan saluran makanan (kerongkongan).

Pisau yang tidak tajam bisa membuat hewan kurban bukan mati karena disembelih, tetapi karena kesakitan. Kondisi inilah yang membuat meski hewan kurban adalah binatang yang halal dikonsumsi, tetapi proses penyembelihannya yang tidak mematuhi prinsip-prinsip agama bisa membuat hewan tersebut menjadi tidak halal untuk dikonsumsi.

Meski hewan kurban adalah binatang yang halal dikonsumsi, tetapi proses penyembelihannya yang tidak mematuhi prinsip-prinsip agama bisa membuat hewan tersebut menjadi tidak halal untuk dikonsumsi.

Dalam ilmu kedokteran hewan, hewan disebut mati jika otaknya sudah mati. Kondisi itu ditandai dengan hilangnya refleks kornea mata hewan. Jika manusia mendekatkan tangannya ke mata hewan dan masih mengedip, artinya hewan itu belum mati sempurna. Selanjutnya, jika ekor sapi dipencet dan tidak muncul reaksi dari hewan, maka binatang itu sudah mati karena di ekor terdapat banyak saraf yang sangat sensitif.

Selain itu, cara mengecek hewan mati adalah dengan menusuk pelan bagian di antara kedua kuku hewan menggunakan ujung pisau yang runcing. Sapi, kerbau, kambing, dan domba adalah hewan berkuku genap yang di antara kedua kukunya merupakan bagian yang sangat sensitif. Jika hewan kurban tidak merespon saat bagian itu ditusuk, maka hewan itu juga sudah mati.

Baca JugaJaga Kebersihan dan Kualitas Daging Kurban

Selama hewan belum mati sempurna, maka jangan memotong bagian-bagian tubuh hewan atau mengulitinya. Pemisahan bagian tubuh pada hewan yang belum mati sempurna akan menimbulkan rasa sakit yang luar biasa karena hewan masih dalam proses sekarat. Menurut Nanung, memotong bagian tubuh hewan saat hewan kurban belum mati sempurna membuat daging hewan tersebut menjadi haram dan terlarang untuk dikonsumsi.

Karena itu, prinsip-prinsip kesejahteraan hewan penting untuk senantiasa diterapkan dalam penyembelihan hewan kurban, sejak hewan tersebut dijual, ditransportasikan, ditampung di lokasi penampungan, hingga disembelih. Menjaga kesejahteraan hewan kurban itu menjaga kesempurnaan ibadah kurban karena tindakan itu baik untuk hewan dan baik pula untuk manusia.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Kemenkes Pastikan Belum Ada Kasus Ebola di Indonesia
• 16 jam lalusuarasurabaya.net
thumb
Tolak Angin Gandeng Nicholas Saputra, Angkat Pesan “Dari Indonesia untuk Dunia”
• 22 jam lalukumparan.com
thumb
WNI Relawan Kemanusiaan Ditangkap Israel, Guru Besar HI Sebut Penanganan Harus Multilateral
• 12 jam lalukompas.tv
thumb
Utamakan Kesejahteraan Hewan Kurban
• 5 jam lalukompas.id
thumb
Hari Kebangkitan Nasional dan Harga Sebuah Kedaulatan
• 6 jam lalukatadata.co.id
Berhasil disimpan.