Siri na Pacce di Ujung Jempol: Etika Lokal sebagai Penjaga Harmoni Sosial

harianfajar
5 jam lalu
Cover Berita

Oleh: Najamuddin
Dosen Universitas Negeri Makassar
(Sosiolog Agama)

Berawal dari darah keturunan ayah seorang bangsawan Bugis dan ibu yang berdarah biru Makassar, nilai yang tumbuh di lingkungan keluarga tersebut tidak berhenti pada status sosial. Ia meresap menjadi etika hidup yang membentuk cara seseorang memandang diri sendiri, memperlakukan sesama, dan menjaga tatanan sosial. Etika itu dikenal sebagai Sipakatau, Sipakalebbi, Sipakainga, yang pada akhirnya menyatu dan memadat menjadi Siri na Pacce. Nilai ini tidak hanya hidup dalam lisan adat, tetapi bekerja sebagai kompas moral yang menjaga kohesi masyarakat dalam dinamika sehari-hari.

  1. Arsitektur Moral: Dari Tiga Prinsip ke Satu Kompas Hidup.

Sipakatau adalah pengakuan atas martabat kemanusiaan yang melekat pada setiap orang. Prinsip ini menolak perlakuan yang merendahkan dan menempatkan relasi sosial pada pijakan kesetaraan dasar. Tanpa Sipakatau, interaksi mudah bergeser menjadi relasi kuasa yang menindas, di mana yang kuat merasa berhak melukai yang lemah. Sipakalebbi melampaui pengakuan, ia menuntut penghargaan. Ia mendorong seseorang untuk melihat potensi, kontribusi, dan kehormatan yang ada pada orang lain. Sikap ini mencegah masyarakat jatuh pada apatisme dan sinisme sosial, karena setiap individu merasa diakui keberadaannya. Sipakainga adalah mekanisme koreksi yang halus namun penting. Ia bekerja sebagai pengingat kolektif agar kesalahan tidak dinormalisasi. Fungsi Sipakainga bukan untuk mempermalukan secara destruktif, tetapi untuk mengembalikan individu pada kesadaran moral bersama. Ketiga prinsip ini tidak berdiri sendiri. Ia menyatu dalam Siri na Pacce. Siri adalah rasa malu yang menjaga agar seseorang tidak melakukan perbuatan yang merendahkan diri dan orang lain. Pacce adalah rasa pedih yang membuat seseorang tidak tega melihat penderitaan sesama. Dengan demikian, Sipakatau, Sipakalebbi, Sipakainga adalah proses yang membangun karakter, sedangkan Siri na Pacce adalah manifestasi etika yang hidup dalam tindakan.

  1. Ketika Etika Diuji: Kasus Pembullyan sebagai Cermin Retaknya Rantai Moral.

Kekuatan sebuah etika terlihat ketika ia diuji dalam situasi nyata. Ambil contoh kasus seorang anak yang mengalami pembullyan dari teman-temannya. Di titik itu, rantai moral yang dibangun oleh Sipakatau, Sipakalebbi, Sipakainga putus serentak. Pelaku melanggar Sipakatau karena tidak lagi melihat korban sebagai manusia yang memiliki martabat. Tidak ada yang menjalankan Sipakainga, sehingga tidak ada suara yang menghentikan kekerasan sebelum ia berulang. Lingkungan sosial juga gagal menjalankan Sipakalebbi, karena tidak ada upaya untuk memulihkan kehormatan korban. Akibatnya, Siri si korban terluka mendalam. Rasa malu yang seharusnya menjadi penjaga martabat berubah menjadi beban psikologis. Sementara itu, Pacce menghilang dari komunitas tersebut. Rasa pedih terhadap penderitaan orang lain digantikan oleh apatisme dan pembiaran. Kasus kecil ini menunjukkan bahwa ketika etika lokal tidak lagi dipraktikkan, kohesi sosial di tingkat mikro mulai retak. Konflik yang awalnya interpersonal dapat meluas menjadi budaya kekerasan yang dianggap biasa.

  1. Dikuatkan oleh Lensa Sosiologi Agama Klasik.

Untuk memahami mengapa etika seperti ini bekerja, sosiologi agama klasik memberi kerangka yang kuat. Emile Durkheim menjelaskan bahwa masyarakat bertahan bukan hanya karena hukum dan sanksi formal, tetapi karena adanya collective conscience atau kesadaran kolektif. Kesadaran ini berisi nilai, norma, dan simbol yang dihayati bersama sehingga individu merasa terikat satu sama lain. Sipakatau, Sipakalebbi, Sipakainga adalah bentuk lokal dari collective conscience tersebut. Ia bekerja tanpa polisi dan hakim, karena sanksinya ada di dalam batin berupa rasa malu dan rasa peduli. Ritual sosial sehari-hari, seperti saling menyapa, memberi nasihat, dan menunjukkan empati, berfungsi memperkuat ikatan moral ini. Max Weber menambahkan konsep elective affinity, yaitu kecocokan pilihan antara etika agama dan etika budaya. Nilai haya’ dalam Islam yang menempatkan malu sebagai cabang iman memiliki resonansi langsung dengan Siri. Perintah untuk berbuat ihsan, menyayangi sesama, dan menolong yang lemah sejalan dengan Pacce. Pertemuan ini tidak bersifat kebetulan. Agama memberi legitimasi transenden yang memperkuat nilai budaya, sementara budaya memberi bentuk kontekstual yang mudah dipahami dan diamalkan masyarakat sehari-hari.

  1. Diperkaya oleh Sosiologi Agama Modern.

Kerangka klasik diperkaya oleh pemikiran sosiologi agama modern yang melihat bagaimana moralitas diproduksi dan dijaga dalam interaksi sehari-hari. Peter Berger menjelaskan bahwa realitas sosial, termasuk realitas moral, adalah konstruksi sosial. Ia dibangun, dipelihara, dan kadang diruntuhkan melalui percakapan, praktik, dan peneguhan berulang. Siri na Pacce tidak hidup karena ditulis di naskah lontara, tetapi karena disebut, dicontohkan, dan diturunkan dalam keluarga, sekolah, dan komunitas.

Ketika praktik ini berhenti, realitas moral itu menjadi rapuh dan mudah digantikan oleh nilai lain yang lebih keras. Thomas Luckmann menyebut fenomena ini sebagai invisible religion. Agama tidak selalu hadir dalam bentuk ritual formal di rumah ibadah. Ia juga hidup dalam etika privat, komitmen moral personal, dan cara seseorang memperlakukan sesamanya. Dalam konteks ini, Siri na Pacce adalah bentuk invisible religion yang bekerja di ranah publik. Ia menjadi sumber makna dan pedoman tindakan tanpa harus selalu merujuk pada doktrin formal. Robert Bellah memperluas gagasan ini melalui konsep civil religion. Ia melihat bahwa setiap masyarakat memiliki simbol dan nilai bersama yang berfungsi mempersatukan warga lintas latar belakang. Siri na Pacce berpotensi menjadi bagian dari civil religion lokal yang menjembatani perbedaan agama, suku, dan kelas, karena intinya adalah martabat manusia dan kepedulian sosial.

  1. Relevansi di Ruang Digital: Ujian Baru bagi Etika Lama.

Tantangan terbesar hari ini adalah ruang digital. Interaksi yang dulu terjadi tatap muka kini berpindah ke layar. Anonimitas dan jarak fisik membuat Sipakainga melemah, karena orang mudah mengolok, menghina, dan menyebarkan kebencian tanpa merasa malu secara langsung. Di ruang ini, Siri seolah mati dan Pacce menjadi tumpul. Padahal martabat manusia tidak hilang hanya karena interaksi terjadi di dunia maya. Sipakatau harus dibawa masuk ke ruang digital agar empati tidak hilang. Sipakainga perlu dihidupkan kembali dalam bentuk teguran yang konstruktif terhadap ujaran kebencian dan hoaks. Jika etika lokal ini mampu beradaptasi, maka ia menjadi tameng kultural melawan budaya toksik di media sosial.

  1. Menuju Harmoni Sosial yang Berkelanjutan.

Pesan utama dari seluruh uraian ini sederhana. Jika Sipakatau, Sipakalebbi, Sipakainga dijalankan secara konsisten, maka Siri na Pacce akan hidup. Jika Siri na Pacce hidup, masyarakat memiliki tameng alami terhadap konflik, kekerasan, dan ketidakpedulian. Anak yang menjadi korban pembullyan mendapat perlindungan sosial dari lingkungannya. Pelaku mendapat ruang untuk koreksi diri melalui rasa malu yang konstruktif, bukan melalui kekerasan balasan. Sekolah, keluarga, dan komunitas mendapat kerangka praktis untuk pendidikan karakter yang berakar pada budaya lokal, bukan sekadar impor nilai dari luar. Harmoni sosial tidak lahir dari paksaan hukum semata. Ia lahir dari kesadaran kolektif yang membuat setiap orang malu berbuat zalim dan tidak tega melihat orang lain menderita. Kesadaran ini bekerja lebih efektif daripada sanksi eksternal, karena ia menyentuh motivasi terdalam manusia untuk menjaga martabat diri dan sesama.

Di ujung jempol yang kita gunakan untuk menunjuk, menegur, dan memberi isyarat, tersimpan pengingat sederhana yang abadi: jaga martabat, tumbuhkan kepedulian. Di titik itulah agama dan budaya bertemu, bekerja sama menjaga kehidupan bersama agar tetap harmonis, baik di dunia nyata maupun di dunia digital.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Pertumbuhan Ekonomi Global Diprediksi Anjlok Jadi 2,5 Persen pada 2026
• 4 jam laluidxchannel.com
thumb
Momen Prabowo Cari Kopi di Podium DPR, Sidang Paripurna Pecah Tawa
• 1 jam lalurctiplus.com
thumb
Pandu Sjahrir Soroti Pentingnya Tata Kelola demi Masa Depan Fintech Indonesia
• 14 jam laluviva.co.id
thumb
Hadapi Perubahan dan Hadirnya ”Homeless Media”, Utamakan Independensi dan Pers Berkelanjutan
• 4 jam lalukompas.id
thumb
Kronologi Mahasiswi Teknik Unhas Tewas di Area Kampus, Ini Identitasnya
• 21 jam lalurctiplus.com
Berhasil disimpan.