JAKARTA, KOMPAS – Indonesia memiliki kekayaan biodiversitas yang besar, mulai dari tanaman obat, sumber daya genetik, hingga pengetahuan tradisional. Keanekaragaman hayati dan kearifan alam Nusantara ini dinilai dapat menjadi fondasi penting dalam mendukung kemandirian farmasi global di tengah meningkatnya kebutuhan dunia terhadap obat berbasis bahan alam.
Hal tersebut mengemuka dalam seminar nasional bertajuk “Bioprospeksi untuk Bioekonomi Berkelanjutan di Indonesia: Menjembatani Konservasi, Inovasi, dan Keadilan Manfaat” di Universitas Pakuan, Bogor, Rabu (20/5/2026). Seminar tersebut diselenggarakan oleh Belantara Foundation dan Universitas Pakuan.
Ketua Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Universitas Pakuan, Lusi Agus Setiani mengemukakan, Indonesia memiliki lebih dari 30.000 spesies flora dan ribuan diantaranya berpotensi sebagai sumber kandidat terapi.
“Namun, sebagian besar masih berhenti pada penggunaan secara empiris dan belum terintegrasi secara optimal ke dalam sistem kesehatan yang berbasis bukti. Di sisi lain, dunia saat ini mulai bergerak menuju strategi yang mendorong integrasi pengobatan tradisional yang aman, efektif, dan tervalidasi ke dalam sistem kesehatan global,” ujarnya.
Bahkan, saat ini tren pengembangan obat berbahan alam kembali meningkat karena banyak penyakit kompleks membutuhkan terapi yang lebih holistik dan multitarget. Karena itu, bahan alam kini mulai dikembangkan jadi terapi lebih spesifik, terukur, dan berbasis bukti ilmiah.
Kondisi itu menunjukkan biodiversitas tak hanya dipandang sebagai warisan ekologis semata, tapi juga aset strategis bagi kesehatan dan bioekonomi nasional. Dengan demikian, Indonesia memiliki tantangan untuk mengembangkan kekayaan hayati menjadi produk terapi yang aman, terstandar, dan mampu bersaing secara global.
Bioprospeksi modern, lanjut Lusi, tidak lagi berhenti hanya pada eksplorasi tanaman obat, tapi telah menjadi rantai nilai translasi yang sistematis. Prosesnya dimulai dari eksplorasi biodiversitas, kemudian dilanjutkan dengan tahap ekstraksi dan skrining untuk melihat kandungan ataupun senyawa aktif dari tanaman obat tersebut.
Biodiversitas bukan hanya aset ekologis, tapi juga fondasi masa depan bioekonomi dan inovasi kesehatan nasional.
Selanjutnya validasi secara farmakologi dilakukan melalui pendekatan farmakodinamik maupun farmakokinetik dengan uji in vitro ataupun in vivo. Setelah itu, formulasi dan penyediaan obat dilakukan hingga pengembangan produk bernilai tambah tinggi.
Lusi menekankan, riset bahan alam ini memiliki dampak yang sangat luas jika ditranslasikan dengan baik. Dampak ini mulai dari meningkatkan ketahanan kesehatan nasional, menciptakan ekonomi inklusif berbasis komunitas di desa, membuka peluang industri biofarmasi, hingga memperkuat kedaulatan sains.
“ Biodiversitas bukan hanya aset ekologis, tapi juga fondasi masa depan bioekonomi dan inovasi kesehatan nasional. Dengan pendekatan tepat, Indonesia tak hanya menjadi pemasok bahan mentah biodiversitas, tetapi juga dapat berkembang jadi produsen inovasi kesehatan berbasis sumber daya hayati,” ungkapnya.
Menurut Lusi, saat ini Universitas Pakuan telah melakukan riset dan pemetaan portofolio kandidat terapi berbahan alam untuk berbagai kebutuhan kesehatan. Dalam bidang kardiometabolik, sejumlah bahan alam seperti daun salam, daun afrika, dan pandan laut diteliti karena berpotensi jadi inhibitor enzim glukosidase dan agen antihipertensi alami.
Pada bidang nyeri dan inflamasi, riset dilakukan terhadap teripang laut serta kombinasi kencur dan bawang merah yang dinilai berpotensi menekan respons inflamasi akut dan nyeri sendi. Pengembangan kandidat terapi berbahan alam tersebut menjadi bagian dari upaya pemanfaatan biodiversitas untuk kebutuhan kesehatan modern.
Sementara pada bidang onkologi dan vitalitas telah diteliti kandidat terapi dari kulit kopi atau cascara, Artemisia annua, dan pegagan. Bahan-bahan alami tersebut berpotensi dikembangkan sebagai agen antikanker bertarget sekaligus peningkat stamina harian.
Universitas Pakuan juga mengembangkan kandidat terapi pada sektor preventif dan suplemen melalui pemanfaatan ekstrak ikan teri, cangkang telur, dan daun kelor. Bahan-bahan tersebut diteliti sebagai suplemen kalsium yang berpotensi meningkatkan kepadatan massa tulang dan mendukung kesehatan masyarakat berbasis bahan alam lokal.
Deputi Bidang Pangan, Sumber Daya Alam, dan Lingkungan Hidup Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN/Bappenas) Leonardo Sambodo mengatakan, sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan terbukti menopang hingga 13,5 persen dari total produk domestik bruto (PDB) Indonesia pada 2025.
“Nilai ekonomi langsung dari pemanfaatan tumbuhan dan satwa liar bahkan telah menembus Rp 10,88 triliun atau setara dengan lebih dari 32 miliar dolar AS. Namun, kita harus jujur bahwa potensi ekonomi dari sumber daya genetik kita yang saat ini tercatat bernilai lebih dari 19 miliar rupiah hanyalah puncak kecil dari potensi aslinya,” ucapnya.
Leonardo menyebut nilai ekonomi tersebut menjadi salah satu aspek penting terkait masa depan Indonesia. Ketahanan pangan dan ekonomi akan tumbuh pada kemampuan Indonesia dalam mengelola keaneka ragaman hayati, termasuk sumber daya genetik yang belum dimanfaatkan secara optimal.
Ia menilai, pemanfaatan dan pelestarian keanekaragaman genetik secara berkelanjutan dinilai akan berkontribusi langsung terhadap pencapaian target kemandirian bangsa. Upaya tersebut diwujudkan melalui perlindungan plasma nutfah lokal serta penguatan sistem pangan berbasis ekoregion untuk mengoptimalkan kemandirian pangan di setiap wilayah.
Pemerintah saat ini tengah mendorong pengembangan bank dan basis data genetik nasional serta percepatan karakterisasi sumber daya genetik tanaman maupun ternak domestik. Dari sisi hilir, pengelolaan sumber daya genetik secara berkelanjutan diproyeksikan menjadi motor utama dalam pengembangan hilirisasi bioprospeksi dan bioekonomi nasional.
Melalui strategi tersebut, Indonesia diharapkan menggeser struktur ekonomi dari sekadar penyedia bahan mentah menjadi pengembang produk hilir bernilai tambah tinggi. Produk yang dikembangkan mencakup pangan fungsional, pakan berkualitas, produk herbal terstandar, biofarmaka, fitofarmaka, kosmetik modern, hingga biomaterial baru.





