CELEBESMEDIA.ID, Makassar - Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) kembali menetapkan wabah Ebola sebagai darurat kesehatan global atau Public Health Emergency of International Concern (PHEIC) setelah kasus terus meningkat di Republik Demokratik Kongo dan Uganda. Penetapan status darurat dilakukan karena penyebaran lintas negara dinilai berisiko memicu krisis kesehatan yang lebih luas.
WHO menyebut wabah terbaru dipicu oleh varian Bundibugyo, salah satu jenis virus Ebola yang belum memiliki vaksin maupun terapi khusus yang sepenuhnya disetujui.
Dalam laporan terbaru WHO pada laman resminya, ratusan kasus suspek dan puluhan kematian telah dilaporkan di wilayah terdampak.
Apa Itu Ebola?
Ebola adalah penyakit serius yang disebabkan oleh virus dari keluarga Orthoebolavirus. Virus ini menular melalui kontak langsung dengan darah, cairan tubuh, atau permukaan yang terkontaminasi dari orang maupun hewan yang terinfeksi.
Menurut WHO, masa inkubasi Ebola berkisar 2 hingga 21 hari. Penderita biasanya mulai menularkan virus setelah gejala muncul.
Sementara itu, Kementerian Kesehatan RI menjelaskan bahwa Ebola memiliki tingkat kematian tinggi apabila tidak ditangani dengan cepat.
Gejala Ebola yang Perlu Diwaspadai
Gejala awal Ebola sering menyerupai flu sehingga kerap terlambat dikenali. Berikut beberapa gejala yang umum muncul:
•Demam tinggi
• Sakit kepala berat
• Nyeri otot dan sendi
• Tubuh lemas
• Sakit tenggorokan
• Mual dan muntah
• Diare
• Ruam kulit
• Nyeri perut
• Kurang nafsu makan pada kondisi berat
Seberapa Berbahaya Ebola?
Ebola termasuk penyakit dengan tingkat fatalitas tinggi. WHO mencatat beberapa wabah sebelumnya memiliki tingkat kematian antara 30 hingga 50 persen, bahkan bisa lebih tinggi pada kondisi tertentu.
Bahaya terbesar Ebola berasal dari penularannya yang cepat melalui kontak cairan tubuh. Risiko meningkat di fasilitas kesehatan yang memiliki perlindungan terbatas serta pada proses pemakaman yang tidak aman.
WHO menyatakan wabah saat ini mengkhawatirkan karena terjadi di wilayah dengan mobilitas tinggi dan konflik bersenjata sehingga menyulitkan pelacakan kasus. Dalam keterangannya, WHO menyebut situasi ini sebagai "public health emergency of international concern”.
Penanganan dan Pencegahan Ebola
Hingga kini, penanganan Ebola masih berfokus pada perawatan suportif untuk meningkatkan peluang hidup pasien. Penanganan meliputi:
• Pemberian cairan dan elektrolit
• Menjaga kadar oksigen dan tekanan darah
• Mengatasi infeksi tambahan
• Isolasi pasien
• Pelacakan kontak erat
WHO juga mendorong penguatan pengawasan lintas negara, penyediaan pusat perawatan khusus, dan edukasi masyarakat untuk menekan penularan.
Masyarakat dianjurkan menjaga kebersihan tangan, menghindari kontak dengan cairan tubuh penderita, serta segera memeriksakan diri apabila mengalami gejala setelah bepergian dari wilayah terdampak.
Sumber: WHO/Kemenkes RI




